SEMARANG — Melalui dukungan dana operasional RT sebesar Rp25 juta dari Pemerintah Kota Semarang, warga berhasil menghidupkan kembali Sanggar Tresna Budaya, wadah kesenian yang sempat vakum puluhan tahun.
Masyarakat RT 02 RW IV Kelurahan Krapyak, Kota Semarang, membuktikan bahwa budaya lokal tetap memiliki tempat istimewa di tengah derasnya arus modernisasi.
Sanggar ini bukanlah nama baru. Menurut catatan warga, Sanggar Tresna Budaya sudah eksis sejak era 1970-an dengan pementasan wayang orang dan pertunjukan tari tradisional.
Namun, seiring waktu dan perubahan generasi, kegiatan seni di sanggar perlahan meredup hingga akhirnya berhenti sama sekali.
“Sanggar Tresna Budaya sudah ada sejak era 70-an dengan pementasan wayang orang. Pernah vakum cukup lama, namun semangat pendahulu kami memantik generasi sekarang untuk menghidupkannya kembali,” ujar Tri Subekso, Ketua RW IV Krapyak, saat ditemui Minggu 24 Agustus 2025.
25 Anak Ikut Latihan Perdana
Kebangkitan sanggar ini disambut antusias warga, terutama kalangan muda. Saat pembukaan perdana, tercatat 25 anak usia sekolah dasar hingga remaja hadir mengikuti latihan tari.
Mereka berlatih tari tradisional Jawa, dengan bimbingan instruktur yang merupakan pegiat seni dari wilayah sekitar.
Bagi Tri Subekso, keberadaan sanggar menjadi sangat penting. Selain menjaga denyut nadi kebudayaan, kegiatan ini juga berfungsi sebagai ruang positif bagi anak-anak.
“Kami ingin anak-anak punya tempat menyalurkan bakat seni sekaligus menjauhkan mereka dari ketergantungan pada gadget. Dengan begitu, mereka bisa bangga pada budayanya sendiri,” tambahnya.
Hasil Musyawarah Warga
Keputusan memanfaatkan dana operasional RT sebesar Rp25 juta bukanlah langkah sepihak. Ketua RT 02 RW IV Krapyak, Lilik Supramono, menjelaskan bahwa hal itu merupakan hasil rembuk warga.
“Kami memutuskan menggunakan dana operasional RT untuk pelatihan tari. Ini sekaligus menjawab impian Pak RW agar sanggar budaya dihidupkan kembali setelah lama vakum,” katanya.
Menurut Lilik, program ini tak hanya soal melestarikan kesenian, tetapi juga menghadirkan aktivitas alternatif bagi anak-anak.
“Warga sangat setuju, karena kegiatan ini membantu anak-anak punya kesibukan positif sekaligus melestarikan budaya. Kami berterima kasih kepada Ibu Wali Kota atas program bantuan ini,” ungkapnya.
Menatap Grebek Subali
Tidak berhenti pada latihan rutin, warga Krapyak sudah menyiapkan target besar. Anak-anak Sanggar Tresna Budaya direncanakan akan tampil dalam agenda budaya Grebek Subali yang digelar setiap akhir tahun di Semarang.
Bagi warga, hal ini bukan hanya soal pementasan, melainkan simbol kebangkitan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Kami ingin membuktikan bahwa seni di kampung masih hidup dan relevan. Melalui sanggar ini, anak-anak bisa terus berkarya, dan karya mereka akan tampil di panggung yang lebih besar,” tegas Tri.
Melestarikan Warisan di Tengah Modernisasi
Kebangkitan Sanggar Tresna Budaya menjadi contoh nyata bagaimana dana operasional RT dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang berdampak luas. Bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan mental dan kebudayaan masyarakat.
Kini, warga Krapyak optimistis sanggar tersebut akan berkembang menjadi pusat kegiatan seni lokal. Dari sekadar latihan tari, mereka bermimpi menghadirkan berbagai kegiatan seni lain, mulai dari musik tradisional hingga teater rakyat.
“Kalau anak-anak ini terus berlatih, saya yakin Sanggar Tresna Budaya akan kembali dikenal, bahkan bisa menjadi kebanggaan Kota Semarang,” pungkas Lilik.
Dengan semangat kebersamaan dan dukungan pemerintah, Sanggar Tresna Budaya kembali menyalakan api seni yang sempat padam. Bagi warga Krapyak, Rp25 juta bukan sekadar dana operasional, melainkan investasi berharga bagi masa depan budaya lokal.