SALATIGA — Koperasi Bahana Lintas Nusantara (BLN) kembali menelan korban jiwa.
Seorang anggota Koperasi BLN asal Sukoharjo dinyatakan meninggal dunia, setelah empat bulan terakhir sempat stres lantaran menunggu uangnya tak kunjung cair.
Meninggalnya anggota BLN asal Sukoharjo ini diketahui setelah lembaran lelayu beredar di media sosial, hingga grup whatsapp (WAG) anggota BLN.
Dalam lembaran lelayu itu menyebutkan Drs Sri Mulyadi, pada Selasa 24 Juni 2025, Pukul 18.00 WIB dinyatakan meninggal dunia di usia 75 tahun.
Drs Sri Mulyadi disemayamkan di rumah duka Jalan Magesti RayaRaya, Waru, Baki, Sukoharjo dan dimakamkan pada Rabu 25 Juni 2025, pukul 13.00 WIB di TPU Walang Jombor, Sukoharjo.
Diantara WAG anggota BLN yang asal Solo Raya juga beramai-ramai menyampaikan bela sungkawa.
"Innalilahi wa innailaihi roji'un Allohummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu semoga diterima semua amal ibadahnya dan diampuni semua dosanya, Aamiin Ya Robbal'alamin," demikian isi ucapan bela sungkawa dari korban Koperasi BLN.
Bahkan, diantaranya anggota Koperasi BLN berdomisili di juga mengulas dugaan meninggalnya kakek Mulyadi.
"Innalillahi wainnailaihi illahi rojiun semoga Husnul khotimah. Alm/almh kebanyakan pensiunan masuk BLN sebenarnya untuk di nikmati masa pensiun, ternyata selama 4 bulan tidak dapat menikmati, justru menambah beban pikiran yang sangat berat sekali, untuk makan sangat sulit, tidak pernah menerima gaji pensiun sudah di potong dan ngangsur Pinjaman bank lain yang selalu di kejar2. Sudah sangat banyak sekali kurban karena pikiran," isi ulasan di WAG anggota Koperasi BLN.
Tim Koordinator Korban Koperasi BLN Adi Utomo kepada Disway Jateng membenarkan perihal informasi meninggalnya seorang anggota Koperasi BLN.
"Informasi itu benar. Saya juga mendapatkan informasi, jika Pak Sri Mulyadi menunggu 4 bulan ini uangnya di BLN bisa cair mengingat almarhum adalah pensiunan," ungkap Adi Utomo, Kamis 26 Juni 2025.
Adi mengaku prihatin kembali mendapatkan fakta, ada anggota Koperasi BLN yang tertekan hidupnya hingga meninggal dunia karena tak memetik hasil dari menanamkan uang di BLN.