SEMARANG — Sebanyak 70 wasit dan referee tenis dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti penataran dan uji kelayakan yang digelar Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PP Pelti) di Lapangan Tenis Dr. Sajoto FIK UNNES, Semarang.
Kegiatan ini digelar bersamaan dengan Kejuaraan Nasional UTC Junior Championship Serie III, yang berlangsung pada 21–23 November 2025.
Sekretaris Jenderal PP Pelti, Dr. Andi Fajar Asti, turun langsung memantau jalannya pelatihan sekaligus perkembangan atlet muda yang bertanding pada kejuaraan tersebut.
Ia menyebut kegiatan ini menjadi bagian penting dari persiapan Pelti menyongsong Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 yang akan digelar di NTT–NTB.
“Penataran wasit dan referee ini penting karena PON sudah di depan mata. Tahun 2026 kita harus melaksanakan babak kualifikasi untuk menentukan provinsi peserta. Saat ini ada 70 peserta, terdiri dari 21 referee dan sisanya calon wasit atau wasit yang akan disertifikasi PP Pelti,” ujar Andi kepada Diswayjateng.com, Sabtu 22 November 2025.
Menurutnya, kebutuhan wasit dan referee berkualitas sangat tinggi mengingat kalender kejuaraan tenis nasional semakin padat. “Event TDP yang dilaksanakan Pelti hampir ada setiap pekan. Karena itu, kebutuhan wasit dan referee terus meningkat,” jelasnya.
Para peserta pelatihan datang dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, hingga Sulawesi.
Pelatihan dirangkaikan dengan penyelenggaraan kejuaraan junior agar materi kelas dapat langsung sinkron dengan praktik di lapangan.
“Mereka bisa langsung menerapkan peran sebagai referee maupun wasit,” tambah Andi.
Terkait syarat menjadi wasit maupun referee nasional, Andi menegaskan pentingnya komitmen dan kesiapan untuk bertugas dalam berbagai turnamen nasional maupun daerah.
Salah satu wasit, Wisnu Agung Yudayana, mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) asal Kendal, menyebut kegiatan ini menjadi kesempatan penting bagi calon wasit untuk naik level sertifikasi.
Wisnu yang kini menempuh studi di Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga UNNES mengatakan penataran ini memberikan fasilitas bagi para wasit daerah untuk meningkatkan kompetensinya.
“Biasanya peserta sudah punya lisensi wasit daerah, tapi ingin menambah pengalaman supaya bisa naik ke level nasional. Jadi mengikuti sertifikasi nasional,” ujarnya.
Menurut Wisnu, perbedaan antara lisensi daerah dan nasional cukup signifikan. Wasit daerah hanya dapat bertugas di pertandingan kota atau kabupaten, sementara lisensi nasional membuka peluang memimpin pertandingan besar.
“Kalau masih lisensi daerah belum bisa memimpin pertandingan seperti PON, POMNAS, atau POPNAS,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa kebutuhan wasit nasional saat ini masih cukup besar, terutama untuk regenerasi. Banyak wasit berlisensi nasional yang sudah berusia lanjut sehingga diperlukan hadirnya wasit-wasit muda.
“Sebenarnya jumlah wasit banyak, tapi sebagian sudah cukup tua. Jadi perlu regenerasi dari generasi muda,” katanya.
Wisnu menambahkan bahwa untuk menjadi wasit tenis tidak ada syarat khusus seperti harus pernah menjadi atlet. Yang terpenting adalah mengikuti pelatihan dan memiliki lisensi resmi.
“Yang penting punya lisensi, bisa memimpin pertandingan, dan berani naik level. Tidak harus pernah jadi atlet,” tegasnya.
Dalam penataran tahun ini diharapkan mampu melahirkan wasit-wasit muda yang berkualitas, sekaligus menjawab kebutuhan tenaga wasit pada berbagai event olahraga berskala nasional.
Kejuaraan UTC Junior Championship Serie III tahun ini diikuti 110 atlet dari kelompok umur 10, 12, 14, dan 16 putra–putri yang berasal dari berbagai daerah di Sumatra, Jawa, dan Bali.