BATANG — Ratusan siswa SMK Negeri 1 Kandeman, Kabupaten Batang, dilaporkan mengalami gejala mual dan diare massal usai mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis, 30 Oktober 2025.
Meski sempat ramai disebut ada banyak korban, hingga Jumat siang, RSUD Kalisari Batang hanya menerima satu pasien rujukan dengan kondisi stabil.
Direktur RSUD Batang, dr. Any Rusydiati, membenarkan bahwa satu pelajar dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) pada pukul 11.40 WIB.
“Kondisinya stabil aja, masih perawatan aja di IGD itu tadi jam 11.40,” ujarnya saat dihubungi melalui telepon, Jumat 31 Oktober 2025.
Menurut dr. Any, pelajar tersebut mengalami gangguan pencernaan ringan berupa mual dan diare setelah menyantap menu MBG di sekolahnya.
“Gejalanya mual-mual aja sama diare,” tambahnya.
Pihak RSUD Kalisari Batang menegaskan hanya satu pasien yang dirujuk hingga siang ini, sementara siswa lainnya diperbolehkan pulang setelah pemeriksaan di puskesmas setempat.
“Hanya satu. Iya, hanya satu tadi sampai jam 11.40. Yang lainnya boleh pulang kok,” tegas dr. Any meluruskan kabar yang sempat simpang siur.
Ia juga menyebut telah berkoordinasi dengan Kepala Puskesmas yang menangani kasus di lapangan.
“Saya sudah koordinasi sama kepala puskesmasnya yang di lokasi, sebagian besar diperbolehkan pulang,” katanya.
Meski begitu, tim medis bersama pihak sekolah masih melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada siswa lain yang membutuhkan perawatan lebih lanjut.
Kepala SMK Negeri 1 Kandeman, Setiyanto, mengonfirmasi bahwa sekitar 60 persen dari total 1.546 siswa mengalami gejala serupa.
“Ini kami masih menunggu hasil lab, jadi belum bisa mengatakan apakah ini keracunan atau tidak,” tuturnya.
Ia menjelaskan, meski banyak siswa yang mengeluhkan gejala mual dan diare, sebagian besar dapat pulang ke rumah setelah diperiksa petugas medis.
“Ada satu dirujuk ke RSUD Batang, tapi sekarang sudah boleh pulang,” ujarnya.
Seorang siswi bernama Naila menceritakan bahwa dirinya mulai merasa tidak enak badan pada malam hari setelah makan siang di sekolah.
“Menunya kemarin tahu bakso, rica-rica ayam. Sampai pulang gak kerasa apa-apa, saya tidur pukul 20.00, lalu bangun pukul 22.00, perut sakit, diare bolak-balik sampai pagi,” katanya.
Keesokan paginya, banyak teman Naila yang mengalami keluhan serupa hingga pihak sekolah langsung berkoordinasi dengan Puskesmas setempat.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah daerah itu sejatinya bertujuan meningkatkan gizi dan konsentrasi belajar siswa, namun kejadian ini menimbulkan tanda tanya besar tentang standar kebersihan dan pengawasan distribusi makanan.
Hingga berita ini diturunkan, hasil uji laboratorium atas sampel makanan belum keluar.