BATANG — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang kembali jadi sorotan setelah insiden bau tidak sedap ditemukan dalam menu makan siang di SD Negeri Kalipucang Wetan, MI Karanganyar dan Mts NU 02 Batang.
Kepala Seksi Surveilans, Imunisasi, dan KLB Dinas Kesehatan Batang, Khairunisa, membenarkan hal itu dan memastikan pihaknya sudah turun langsung ke lokasi.
“Menu hari itu nasi putih, sayur sawi putih, telur dadar diiris, dan tahu bacem. Tapi ada perubahan bau di sayur dan telur dadar. Baunya khas telur yang sudah tidak layak,” katanya saat dikonfirmasi, Kamis 6 November 2025.
Ia menegaskan, sampel makanan sudah diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
“Alhamdulillah, sampai sore tidak ada laporan korban. Begitu tercium bau tidak sedap, pihak sekolah langsung menarik makanan sebelum dibagikan ke murid,” lanjutnya.
Dari penelusuran Dinas Kesehatan, diketahui menu MBG tersebut disediakan oleh penyedia jasa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Denasri.
Khairunisa menambahkan, hingga saat ini penyedia tersebut belum melengkapi izin dan dokumen kelayakan produksi.
“Itu izinnya belum lengkap. Kita sudah minta mereka menindaklanjuti, tapi sampai sekarang belum ada respons. Padahal hasil pemeriksaan Sanitasi Lingkungan dan Higiene Sanitasi (SLHS) mereka juga belum memenuhi syarat,” jelasnya.
Meski belum ditemukan korban, Dinas Kesehatan menegaskan kasus ini menjadi peringatan keras bagi penyedia jasa MBG agar lebih ketat menjaga mutu dan kebersihan makanan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Batang, Bambang Suryantoro Sudibyo, membenarkan adanya pengembalian makanan di SDN Kalipucang Wetan.
“Iya, benar ada sekitar 80 porsi yang dikembalikan ke SPPG karena telur di menu itu tercium bau tidak sedap,” ujarnya saat dikonfirmasi wartawan.
Menurut Bambang, pihak sekolah sudah menunjukkan langkah cepat dan tepat dengan menarik makanan sebelum sempat dikonsumsi para siswa.
“Program MBG ini bagus, tapi tetap perlu kehati-hatian. Guru dan murid sebaiknya mengecek dulu sebelum dimakan. Kalau ada yang janggal, segera laporkan ke guru atau pihak Dinas,” ujarnya.
Menindaklanjuti insiden ini, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan meminta agar dibentuk forum komunikasi antara sekolah, orang tua, dan penyedia makanan MBG.
Tujuannya agar pengawasan lebih ketat dan makanan yang disajikan tetap terjamin kualitasnya.
Bambang Suryantoro mengaku setuju dengan langkah tersebut dan siap menindaklanjutinya.
“Itu bagus, nanti kami sosialisasikan ke sekolah-sekolah. Forum orang tua dan anak bisa ikut memantau menu agar tidak mubazir dan tetap layak konsumsi,” ujarnya.
Khairunisa memastikan Dinas Kesehatan Batang akan memperketat pemeriksaan terhadap SPPG yang belum memenuhi syarat.
Pihaknya juga menegaskan bahwa sampel makanan yang diamankan akan dijadikan bukti jika muncul laporan lanjutan.
“Sampel sudah kami amankan. Kalau nanti ada laporan gejala atau korban, kita sudah siap tindak lanjut,” tegasnya.