BLORA — Awal Oktober 2025, pengguna media sosial (medsos) kembali dihebohkan dengan video yang memperlihatkan uji Research Octane Number (RON) Pertamax Turbo dengan menggunakan alat portabel Oktis-2.
Dalam video tersebut, hasil uji Bahan Bakar Minyak (BBM) berwarna merah yang disebut-sebut sebagai Pertamax Turbo itu menunjukkan angka RON 91.
Sementara, produk Pertamax Turbo seharusnya memiliki RON 98, paling tinggi di antara varian produk BBM Pertamina. Sebagaimana Surat Keputusan (SK) Dirjen Migas No. 0177.K/10/DJM.T/2018, tanggal 6 Juni 2018, tentang Standar dan Mutu (Spesifikasi) Bahan Bakar Minyak Jenis Bensin (Gasoline ) RON 98 yang Dipasarkan di Dalam Negeri.
Pengujian itu dilakukan dalam konteks ajang balap motor, di mana pemeriksaan bahan bakar peserta merupakan prosedur standar untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi teknis.
“Ini saya langsung cek Pertamax Turbo menggunakan alat panitia waktu balapan, dan RON-nya hanya 91,” ujar narator dalam video tersebut.
Sontak, video yang diposting akun Tiktok @black.hole9626, Selasa, 10 September 2025 tersebut pun viral. Hingga berita ini ditulis, video itu sudah dibagikan ulang hingga 637 kali, mendapatkan 2,2 ribu lebih like, serta ditanggapi netizen dengan sebanyak 881 komentar yang beragam.
Bertolak belakang dari video tersebut, tujuh bulan sebelumnya, atau tepatnya 3 Maret 2025 lalu, akun Instagram @usmanadie juga mengunggah video uji BBM Pertamina dengan menggunakan alat portabel yang sama, Oktis-2. Namun, jenis BBM-nya bukan Pertamax Turbo, melainkan Pertalite.
Dalam unggahan video tersebut, hasil uji RON menunjukkan angka 93. Sementara spesifikasi untuk Pertalite sendiri memiliki RON 90, berdasarkan SK Dirjen Migas No 0486.K/10/DJM.S/2017 tanggal 23 November 2017 tentang Standar dan Mutu (Spesifikasi) Bahan Bakar Minyak Jenis Bensin 90 yang Dipasarkan Dalam Negeri.
Lagi-lagi, video @usmanadie itu membuat kehebohan di medsos dan viral. Hingga naskah ini tulis, video tersebut sudah memperoleh like sebanyak 4.639. Kemudian 524 komentar dari warganet yang pro maupun kontra dan dibagikan ulang hingga 462 kali.
Jauh hari sebelum kedua video tersebut viral di medsos, sebetulnya sudah pernah muncul kegaduhan serupa di Twitter atau saat ini lebih dikenal dengan X. Kala itu, akun @yo2thok mengunggah sebuah foto berupa hasil pengujian Pertalite dengan menggunakan alat portabel Oktis-2.
Foto yang diunggah pada Jumat, 7 Oktober 2022, melalui platform X itu pun viral. Sebab, nilai RON Pertalite dari hasil uji tersebut menunjukkan angka 86. Padahal, bila merujuk spesifikasi dari peraturan Dirjen Migas, seharusnya memiliki RON 90.
Ketika penulis mengecek langsung akun dengan user name Z Operation tersebut, pada Rabu (29 Oktober 2025), unggahan foto itu sudah dibagikan ulang sebanyak 9.873 kali. Lalu mendapat respon 1.535 markah, 2.598 kutipan, dan 31 ribu lebih like dari netizen.
Alat Portabel Oktis-2 tidak Valid, Mesin CFR F-1 Jadi Andalan
Sebelum viralnya video dan foto tersebut di medsos, informasi penggunaan alat portabel Oktis-2 untuk menguji RON suatu BBM, ternyata sudah pernah menjadi perbincangan hangat publik.
Hal itu disampaikan oleh ahli bahan bakar dan konversi energi dari Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB), Tri Yuswidjajanto Zaenuri.
"Alat ujinya (Oktis-2) tidak valid. Pernah ramai serta dibuat video edukasinya oleh Pertamina," katanya dalam sebuah video dikutip penulis, Rabu (29 Oktober 2025).
Dalam video tersebut diperlihatkan adanya BBM yang diuji dengan alat portabel Oktis-2, dan alat Cooperative Fuel Research (CFR) yang memang digunakan untuk mengukur nilai oktan BBM. Bahkan, yang mengoperasikan mesin CFR tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang, harus seorang analis bersertifikasi. Tidak seperti alat portabel Oktis-2 yang dapat digunakan siapa pun dengan mudah.
Dari pengujian menggunakan alat Oktis-2 itu menunjukkan hasil yang berbeda, di mana pada alat tersebut hasil BBM yang diuji beroktan 87. Sedangkan BBM yang diuji dengan menggunakan mesin CFR memiliki nilai oktan sebesar 98,29.
“Hasilnya berbeda, karena mesin CFR ini adalah alat uji oktan yang berlaku secara internasional dan cara kerjanya menduplikasi pembakaran dalam mesin. Dan alat oktan yang beredar di pasaran, bekerja dengan mengukur sifat fisika kimia bahan bakar sehingga hasilnya tidak bisa dijadikan acuan,” jelasnya menegaskan.
Penulis mencoba untuk menelusuri peredaran alat portabel Oktis-2 di sejumlah marketplace. Salah satunya, yaitu toko online “Orange”. Melalui kata kunci “alat tes oktan BBM” yang diketik di kolom pencarian, ternyata penulis dengan mudah menemukan alat portabel tersebut.
Adapun lokasi lapak online yang menjual produk itu beragam meliputi Semarang, Kabupaten Bekasi, Mojokerto, Kabupaten Pekalongan hingga Kabupaten Demak.
Sedangkan terkait harganya bervariasi mulai dari paling rendah Rp 4,2 juta hingga Rp 7,9 juta untuk harga tertinggi. Bahkan ada seorang penjual berani memberikan diskon besar hingga 70 persen, dari harga semula Rp 7,9 juga menjadi Rp 2,3 juta.
Pak Yus, panggilan akrabnya, menambahkan, metode uji RON standar yang harus digunakan adalah ASTM D2699. Selain itu, katanya, jika metode dan alat uji yang digunakan berbeda, maka bisa berpengaruh terhadap hasil yang dicapai.
“Hal sederhana yakni dapat dicontohkan pada pengukuran suhu atau temperatur. Jika pakai termometer, Celsius, dapat angka 100, tapi diukur dengan termometer Fahrenheit hasilnya angka 212," tandasnya.
Tak hanya Guru Besar ITB yang menanggapi kegaduhan informasi terkait hasil uji RON menggunakan alat portabel itu. Pertamina Patra Niaga, selaku Subholding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero) yang bertanggungjawab terhadap kegiatan hilir, termasuk pemasaran dan distribusi berbagai produk energi seperti BBM, LPG, pelumas, avtur, dan aspal, pun turut buka suara
Dalam keterangan tertulis yang dikutip penulis, Rabu (29/10/2025), Pj. Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun, mengimbau kepada masyarakat agar jeli dan teliti terhadap berbagai bentuk disinformasi berita hoaks yang sering beredar di medsos.
"Masyarakat juga perlu mewaspadai hoaks lainnya seperti pembatasan pembelian BBM akhir-akhir ini, informasi pengujian-pengujian RON yang tidak dilakukan oleh ahlinya, atau rekrutmen fiktif yang mengatasnamakan Pertamina," ujar Roberth.
Terkait dengan hasil pengujian RON BBM menggunakan alat portabel, Pertamina Patra Niaga menyebut metode tersebut tidak bisa dijadikan dasar pengujian resmi untuk menentukan angka oktan suatu BBM.
"Secara teknis, pengujian RON itu memiliki standar baku internasional yang hanya bisa dilakukan menggunakan mesin CFR sesuai metode ASTM D2699 untuk RON,” katanya.
Roberth menjelaskan, mesin CFR merupakan satu-satunya alat yang disertifikasi secara global untuk mengukur ketahanan bahan bakar terhadap detonasi yang menimbulkan knocking lewat proses pembakaran nyata dengan parameter suhu, tekanan, dan rasio kompresi yang dikontrol ketat.
“Pengujian yang dilakukan dengan alat portabel Oktis-2 terhadap berbagai jenis BBM itu menunjukkan hasil yang bervariasi, ada yang lebih rendah maupun lebih tinggi dari standar sebenarnya. Hal itu membuktikan alat tersebut tidak memiliki akurasi dan presisi yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” terangnya.
Lebih lanjut, Roberth mengatakan, di dalam Oktis-2 juga terdapat pilihan sistem pengukuran USA dan RUS (Eropa), di mana di Eropa menggunakan standar RON. Adapun USA memakai Anti Knocking Index (AKI) atau setengah dari penjumlahan RON dan MON. Secara konversi, RON 98 (Eropa) setara dengan AKI 91-92 (USA), sehingga di Amerika Serikat (USA) tidak dikenal istilah RON 98.
“Alat Oktis-2 hanya mengukur sifat dielektrik (penghantaran listrik) dari bahan bakar, bukan mengukur RON dan tidak ada hubungannya antara sifat dielektrik dengan RON," tandasnya.
Mengawal Uji RON Pertamax di Lembaga Eskternal
Pada akhir Juli 2025, penulis mendapat kesempatan untuk mengawal rombongan Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah (JBT)-DIY mengunjungi Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Minyak dan Gas Bumi (PPSDM Migas) di Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah.
Rombongan kami yang dinahkodai Area Manager Communication, Relation, and CSR Taufiq Kurniawan, diterima langsung oleh Koordinator Sarana Teknik Minyak dan Gas Bumi PPSDM Migas, Yoeswono, beserta jajarannya.
Selain wujud kolaborasi positif antara industri dengan lembaga pemerintah dalam menjamin kualitas produk bahan bakar, kunjungan edukatif tersebut kami lakukan untuk mengetahui langsung tahapan uji RON Pertamax secara transparan.
Kedua belah pihak, baik Pertamina maupun PPSDM Migas menegaskan komitmen bersama untuk memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat. Sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap kualitas semua produk BBM Pertamina yang terjamin melalui serangkaian pengujian standar ketat.
Semoga kerjasama seperti itu terus berkelanjutan untuk mendukung layanan yang prima dan transparan bagi konsumen, seluruh pengguna produk BBM Pertamina.
Mengingat jumlah kendaraan bermotor di Indonesia terus melonjak. Berdasarkan data terbaru Korps Lalu Lintas Kepolisian Negara Indonesia (Korlantas Polri) per 5 April 2025, terdapat total 168.275.423 unit kendaraan bermotor, yang tercatat di dalam sistem Data Electronic Registration Identification Korlantas Polri.
Dari jumlah total kendaraan tersebut, sepeda motor masih menjadi primadona, yakni mencakup sekitar 83,7 persen atau setara dengan 140,9 juta unit. Adapun mobil, menyumbang sekitar 12,2 persen atau sebanyak 20.5 juta unit. Kemudian 6,3 juta unit mobil barang, 297 ribu unit bus, dan kendaraan khusus 167 ribu unit.
Pulau Jawa pun menjadi pusat peredaran kendaraan terbesar di Indonesia disusul oleh Pulau Sumatera. Sementara itu, provinsi Jawa Timur tercatat sebagai daerah dengan kepemilikan kendaraan terbanyak secara nasional.
Di siang yang tidak terik, sekitar pukul 10.25 WIB, kami pun mulai melangkah dari ruang pertemuan menuju gedung laboratorium pengujian PPSDM Migas. Ada tiga orang analis telah menunggu kami di suatu ruangan yang terdapat mesin CFR F-1.
Seorang analis mengenakan jas lab warna orange, tanpa memakai sarung tangan. Lalu, dua analis lainnya berseragam lab warna kuning serta menggunakan sarung tangan. Ketiganya juga lengkap mengenakan masker, termasuk rombongan kami maupun jajaran PPSDM Migas.
Analis berseragam orange bertugas menghitung serta mencatat hasil pengujian di papan tulis berwarna putih. Adapun dua analis secara bergantian mengoperasikan mesin CFR F-1 yangg sudah distandarisasi untuk uji RON pertamax.
Seusai pengujian yang berlangsung sekitar satu jam, Manajer Teknis Laboratorium Minyak Bumi PPSDM Migas Cepu, Sahadat, menjelaskan secara detail serta runut tentang tahapan uji RON Pertamax pada siang itu.
“Nama alatnya CFR) F-1, yaitu mesin yang digunakan untuk mengetahui Research Oktane Number (RON) pada mogas. Cara kerjanya ada dua tahap. Pertama, yakni standarisasi. Kalau saya umpamakan sebuah timbangan, performanya bagus atau tidak, harus dilakukan standarisasi dengan anak timbangan yang sudah diketahui nilainya,” ulas Sahadat memulai penjelasannya.
Adapun untuk standarisasi mesin CFR F-1, lanjut Sahadat, menggunakan Toluene Standarisation Fuel (TSF) dengan memakai bahan kimia berupa toulene ditambah normal heptana.
“Kalau pakai metode ASTM-D2699 itu campurannya bervariasi, memiliki nilai RON yang sudah ditentukan sesuai standar. Kemudian, kami uji dengan mesin CRF F-1, kalau hasil performa bagus berarti sesuai dengan nilai yang tertera dalam metode standar itu. Kalau sudah OKE berarti alat CRF F-1 siap digunakan untuk melakukan uji RON,” sambungnya.
Atau jika hasil perhitungan RON TSF dari pengujian ini berada dalam toleransi ±0,3 dari TSF yang dibuat, maka mesin CFR F-1 itu dinyatakan telah terstandarisasi dan siap untuk digunakan.
Berikutnya, tahap kedua, menyiapkan sampel yang sudah didinginkan 0 sampai 10 derajat celcius. Setelah itu, sampel dimasukkan ke dalam mesin CRF F-1 dan mulai di-running untuk mendapatkan nilai oktan perkiraan.
Selanjutnya, mengoreksi nilai oktan perkiraaan sampel dengan metode bracketing menggunakan Primary Reference Fuel (PRF). Bahan standar PRFnya yaitu isooktan (nilai oktan 100) dan normal heptan (nilai oktan 0). Cara mengoreksinya, masing-masing PRF tersebut dibagi menjadi dua, yaitu Low Reference Fuel (LRF) dan High Reference Fuel (HRF.
“Dari LRF itu ketemu berapa, dan HRF ketemu berapa, nanti akan dihitung dengan menggunakan rumus hingga didapat hasilnya. Agar memperoleh hasil yang akurat dan presisi, kami lakukan pengujian hingga tiga kali. Hasil akhirnya kemudian kami hitung dan laporkan dalam Laporan Hasil Uji (LHU) sesuai SOP,” jelasnya.
Lebih lanjut, Sahadat menyebut, uji RON mogas seperti pertalite, pertamax, atau pertamax turbo menggunakan mesin CRF F-1 karena nilai oktannya di bawah 100. Sedangkan mogas jenis solar menggunakan mesin CRF F-5.
“Untuk satu sampel dibutuhkan waktu sekitar dua jam yakni satu jam untuk tahap standarisasi mesin CRF F-1 dengan alat TSF. Satu jam lagi untuk uji sampel dengan mesin CRF F-1. Untuk TSF, tergantung jenis sampel. Jika sampel pertalite misalnya, maka jenis TSF-nya tertentu, untuk uji RON pertalite saja. Kalau sampel pertamax, jenis TSF-nya harus diganti,” tandasnya.
Area Manager Communication, Relation, and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah (JBT) DIY, Taufiq Kurniawan menerangkan, sampel Pertamax yang diuji RON-nya di Laboratorium Pengujian PPSDM Migas tersebut diambil dari SPBU 4458301 Sidomulyo, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Provinsi Jateng.
“Hari ini kami kerja sama dengan PPSDM Migas Cepu melakukan pengujian oktan untuk produk Pertamax menggunakan CFR F-1. Langkah ini sekaligus mengedukasi kepada masyarakat tentang pengujian oktan dengan metode yang benar sehingga masyarakat paham, bahwa pengujian oktan tidak sesederhana menggunakan alat portabel yang biasa beredar videonya di media sosial,” jelasnya.
Taufiq menyatakan, bahwa hasilnya sangat memuaskan, dimana produk Pertamax tersebut menunjukkan nilai oktan 92,1 yang berarti ‘on-spec’ dan bahkan melebihi spesifikasi minimal oktan 92.
“Ini membuktikan produk Pertamina telah melewati serangkaian pengujian secara berlapis. Mulai dari kilang ataupun produk impor, semua diuji terlebih dahulu nilai oktannya. Sebelum kapal bongkar di terminal BBM kami juga melakukan prosedur untuk menguji spesifikasi suatu produk apakah sudah sesuai spesifikasi utama dari Dirjen Migas atau tidak,” paparnya.
“Misalnya pertamax, oh angka dan CV sekian, warnanya yang standar sekian, nilai oktan sekian, berat jenis dan lain-lain,” sambungnya.
Taufiq melanjutkan, setelah sesuai spesifikasi, BBM dari kapal baru dibongkar dan dimasukkan ke dalam tangki pendam. Sebelum diedarkan ke SPBU-SPBU dengan menggunakan truk tangki BBM, pun dilakukan pengecekkan ulang, apakah masih sama dengan spesifikasi awal sebelum bongkar kapal BBM.
“Bahkan, setiba di SPBU, pihak SPBU berhak menolak apabila produk BBM yang dikirim tidak sesuai dengan spesifikasi dari Dirjen Migas,” imbuhnya.
Taufiq menegaskan, bahwa Pertamina Patra Niaga sebetulnya sudah melakukan serangkaian pengujian berlapis sebelum produk BBM diterima oleh masyarakat.
Yaitu sejak awal suatu produk BBM ada, sampai dipasarkan ke konsumen. Mutu dan kualitasnya pun dijamin sudah sesuai dengan spesifikasi dari Dirjen Migas.
“Dengan begitu kami berharap kepercayaan dari masyarakat terbangun kembali,” pungkasnya.
Selain di PPSDM Migas Cepu, mesin CFR F-1 juga terdapat di TPPI Tuban, TBBM Tuban, RU IV Cilacap, RU Balongan, RU Dumai, RU Plaju Palembang, RU Balikapan Kaltim, dan BBPMGB Lemigas Jakarta.