KUDUS — Kabupaten Kudus, Jawa Tengah dikenal sebagai wilayah yang pernah menjadi pusat pusat penyebaran agama Islam yang dilakukan sejumlah Walisongo.
Tak heran, jika budaya dan sisa-sisa peninggalan sejarah Islam masih ada dan terawat dengan baik. Bahkan hingga saat ini, banyak suri tauladan dan warisan kearifan lokal dari penyebar agama Islam yang menjadi suri teladan bagi masyarakat setempat.
Di Kudus yang memiliki luasan wilayah paling kecil di Jawa Tengah ini, terdapat jejak sejarah yakni keberadaan makam Sunan Muria dan Sunan Kudus.
Mereka adalah tokoh penyebar agama Islam yang sampai sekarang makamnya banyak dikunjungi peziarah.
Adanya dua tokoh penyebar Islam ini, meninggalkan kisah dan artefak kebudayaan Islam. Diantaranya Menara dan Masjid Sunan Kudus dan bangunan bersejarah lainnya yang dapat dijumpai di sejumlah tempat di Kudus.
Selain itu, ada pula Masjid At-Taqwa atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Wali Loram Kulon tercatat berdiri pada tahun 1597. Masjid Wali didirikan oleh Sultan Hadlirin yang juga menantu Sunan Kudus.
Selama menjalankan tugas dari Sunan Kudus menyebarkan agama Islam di Desa Loram Kulon, Sultan Hadlirin melakukan pendekatan kepada warga dengan mengedepankan budaya lokal.
Seperti halnya saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Masyarakat lokal memperingatinya dengan tradisi 'Ampyang Maulid' yang dipusatkan di depan Gapura Masjid Jami’ At Taqwa, Desa Loram Kulon pada Senin (8/9/2025).
Ampyang Maulid merupakan salah satu budaya kearifan lokal masyarakat di Desa Loram Kulon yang telah berlangsung turun-temurun.
Tradisi ini ditandai dengan kirab atau pawai yang menampilkan gunungan ampyang (kerupuk bulat warna-warni) dan aneka makanan hasil bumi.
Puncaknya, seluruh sajian tersebut dibagikan kepada masyarakat sebagai wujud kebersamaan dan rasa syukur. Kirab Ampyang Maulid tahun ini diikuti 50 kontingen yang masing-masing terdiri dari 30 hingga 40 orang.
Peserta berasal dari siswa sekolah, masyarakat, musala, hingga pelaku UMKM di Desa Loram Kulon dan Loram Wetan.
Tradisi Ampyang Maulid juga dirangkai dengan Loram Expo 2025. Agenda ini berlangsung sejak 30 Agustus hingga 5 September sebagai wadah promosi produk UMKM dan ekonomi kreatif masyarakat.
Agenda Budaya Pariwisata Kudus
Penyelenggaran tradisi Ampyang Maulid yang telah tercatat sebagai agenda resmi wisata di Kota Kretek ini, juga di dukung penuh Pemkab Kudus.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris juga menyempatkan hadir dan membaur bersama masyarakat menyaksikan acara tersebut.
Selain itu, ia juga didampingi jajaran Forkompinda Kudus dan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kudus, Mutrikah.
“Pemerintah Kabupaten Kudus mendukung penuh Ampyang Maulid, karena tidak hanya bernilai budaya dan religi, tetapi juga mendorong ekonomi kreatif serta pariwisata daerah,” ujar Sama ni Intakoris.
Sam’ani Intakoris berharap tradisi Ampyang Maulid perlu dikelola dengan baik, sehingga menjadi destinasi wisata budaya serta religi yang membanggakan.
“Mari kita kelola dengan baik, menjadi tuan rumah yang ramah bagi wisatawan, dan menjadikan Ampyang sebagai destinasi wisata budaya dan religi yang membanggakan,” pintanya.
Bupati Kudus juga mengingatkan pentingnya menjaga kondusivitas Kudus di tengah situasi dan kondisi Indonesia saat ini.
“Alhamdulillah, Kudus tetap aman dan damai. Kita tidak boleh terprovokasi berita yang tidak benar. Semua bisa bekerja, bersekolah, berbelanja, dan beraktivitas dengan nyaman,” imbuhnya.
Selain Bupati Kudus, tradisi ini menarik perhatian dari salah satu anggota DPR RI, Musthofa. Legislator asal Kudus ini menegaskan konsistensinya mendukung tradisi Ampyang Maulid.
“Saya sudah menghadiri Ampyang hingga 18 kali, baik sebelum menjadi Bupati, saat menjabat, hingga kini sebagai anggota DPR RI," tutur Mustofa.
Musthofa menyebut, tradisi Ampyang Maulid bukan sekadar ritual saja. Namun juga menjaga kelestarian Masjid Wali Loram Kulondan dan memperkuat identitas Kudus sebagai pusat budaya Islam yang dikenal di seluruh Indonesia.