Wonosobo — Ada yang berbeda dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Sebanyak 5.000 santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Mubarok Manggisan, Kecamatan Mojotengah menggelar upacara bendera dengan mengenakan sarung hijau dan baju putih, sementara santriwati tampil dengan busana seragam senada di halaman Ponpes setempat, Minggu (17/08/2025).
Keunikan semakin terasa ketika pasukan pengibar bendera tampil dalam balutan sarung bernuansa merah putih, lengkap dengan sandal jepit. Tanpa sepatu atau celana seragam layaknya upacara konvensional, suasana sederhana ini justru menciptakan pengalaman spiritual dan nasionalisme yang kuat.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Wonosobo, Panut, yang bertindak sebagai inspektur upacara memberikan apresiasi penuh terhadap pelaksanaan upacara tersebut.
"Upacara di ponpes ini lebih khidmat dari pada di alun-alun. Pesantren Al Mubarok juga telah menunjukkan moderasi beragama dan sumbangsih nyata bagi negara," ujar Panut.
Panut menyampaikan bahwa pesantren seperti Al Mubarok memiliki peran strategis dalam membangun karakter kebangsaan. Ia juga menyebut prestasi internasional pesantren ini di bidang Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) sebagai bukti konkret kontribusi santri dalam mencerdaskan umat. Lebih jauh, Panut mengajak pesantren lain di Wonosobo untuk meniru langkah serupa.
"Ke depan, kami akan meminta agar lebih banyak pesantren di Wonosobo menggelar upacara bendera setiap 17 Agustus," tegasnya.
Sementara itu, Pengasuh Ponpes Al Mubarok, KH Nurhidayatullah menegaskan, bahwa tradisi upacara bendera di pesantren yang ia asuh sudah dilakukan sejak tahun 1998. Tradisi ini dijaga sebagai sarana pendidikan karakter dan kebangsaan bagi para santri.
"Tujuannya menanamkan cinta tanah air kepada santri sekaligus mengikis paham radikalisme. Upacara ini juga menjadi wujud syukur atas nikmat kemerdekaan," ujarnya.
KH Nurhidayatullah juga menyoroti pentingnya santri mengembangkan eco-theologi atau pendekatan keislaman berbasis lingkungan. Hal ini sejalan dengan nilai Islam rahmatan lil alamin dan peran santri dalam merawat bumi.
Dengan ribuan santri hadir dalam satu barisan, upacara sarungan ini mencerminkan betapa pesantren bukan hanya pusat keilmuan agama, melainkan juga ruang pembentukan karakter nasionalisme. Dari sarung dan sandal, tumbuh semangat cinta tanah air yang tulus dan tidak dibuat-buat.