Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

JATUBU Dorong Regulasi Pengelolaan Lahan Hutan Lewat Gerakan Tanam Kopi di Wonosobo

Ketua Jagat Tunas Bumi (Jatubu) Mantep Abdul Ghoney.

Wonosobo — Komunitas Jagat Tunas Bumi (JATUBU) bersama Perhutani resmi menginisiasi gerakan penanaman pohon kopi bersama di lereng pegunungan Wonosobo. Gerakan ini lahir dari kegelisahan warga akar rumput terhadap perubahan ekologis daerah dan sekaligus mendorong kepastian regulasi dalam pengelolaan lahan hutan berbasis masyarakat.


Penasehat Utama JATUBU, Taufik Arif menyatakan, bahwa gerakan tanam kopi bukan sekadar aksi penghijauan, melainkan usaha pengembalian fungsi dan identitas ekologis Wonosobo yang selama ini mulai memudar.


"Kami ingin mengembalikan suasana Wonosobo yang dulu, alam harus dirawat, bukan ditinggalkan," tegas Taufik.


Titik Penanaman dan Pendekatan Konservasi Berbasis EkonomiPenanaman kopi dilakukan di sejumlah lokasi yaitu Igirmranak, Campursari Kejajar, Lamuk, dan Warangan, dengan jumlah bibit yang disesuaikan menurut kesiapan lahan dan arahan Asper serta Administratur Perhutani.


Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat memberikan apresiasi terhadap gerakan ini sebagai pendekatan konservasi yang realistis dan berkelanjutan.


"Gerakan ini merawat hutan sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat. Jika regulasi diperkuat, kelompok tani akan merasakan hasilnya secara langsung," ujar Bupati Afif.


Ia menambahkan pentingnya kepastian hukum agar gerakan reboisasi tidak berhenti di kegiatan simbolis semata.


Ketua Umum JATUBU, Mantep Abdul Ghoney, mengakui masih terdapat persoalan mendasar yakni ketidakjelasan pangkuan lahan antara Perhutani dan kehutanan sosial.

"Data luasan belum jelas, bukan sekedar masalah teknis, tapi soal kewenangan," ungkap Mantep.


Meski begitu, ia menegaskan bahwa pihaknya tidak membawa kepentingan komersial.


"Kami murni hibah. Perhutani memberikan lahan, kami menyiapkan bibit, dan pemanfaatannya sepenuhnya untuk LMDH dan petani," ujarnya.


JATUBU memilih kopi sebagai tanaman peralihan mengingat banyak lahan hutan yang sudah berubah menjadi ladang. Penanaman tegakan langsung dianggap berisiko ditolak masyarakat.


"Kopi menjadi jembatan ekonomi sekaligus konservasi. Manfaat ekonomi sambil perlahan mengarahkan kembali ke tegakan hutan. Kalau langsung ke tegakan, siapa yang mau merawatnya?" jelas Mantep.


Pihaknya pun siap mengikuti arahan Perhutani dan Cabang Dinas Kehutanan terkait jenis tanaman berikutnya. Kini, gerakan JATUBU tak lagi sekedar aksi tanam pohon kopi, melainkan menjadi dorongan moral agar negara hadir dengan kebijakan pengelolaan hutan rakyat yang jelas dan berkelanjutan.


Regulasi yang mendukung diharapkan menjadikan Wonosobo sebagai contoh pengelolaan hutan berbasis komunitas yang berhasil dan lestari.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube