Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Viral Siswi SD di Semarang Berangkat Sekolah Lewat Sungai, Akses Rumah Ditutup

TEGAL — Sebuah video yang menjadi viral menunjukkan seorang siswi sekolah dasar (SD) di Semarang harus melewati bantaran sungai untuk dapat berangkat ke sekolah.


Dalam video tersebut, terdapat narasi yang menyatakan bahwa jalan utama yang biasa dilalui oleh warga telah ditutup secara sepihak, sehingga memaksa mereka untuk mencari jalur alternatif yang berbahaya, termasuk melewati sungai.


Aksi ini langsung memicu simpati publik dan menimbulkan pertanyaan, mengapa seorang anak harus menghadapi bahaya seperti ini hanya untuk pergi ke sekolah?


Kronologi masalah dugaan penutupan akses sepihak


Berdasarkan kutipan dari beritajateng.tv, orangtua siswi yang juga memviralkan video tersebut, permasalahan ini bermula dari konflik tanah yang telah berlangsung cukup lama.


Juladi mengaku telah membeli tanah dari seseorang bernama Zaenal Chodirin secara mencicil pada tahun 2011. Namun, beberapa tahun kemudian muncul gugatan dari pihak lain, Sri Rejeki, adik Zaenal yang mengklaim sebagai pemilik sah berdasarkan sertifikat.


"Saya membeli tanah ini dari Pak Zaenal, saya cicil. Awalnya saya tidak tahu bahwa ada masalah kepemilikan. Namun setelah Pak Zaenal meninggal pada tahun 2022, saya dituduh telah menyerobot tanah," jelas Juladi.


Ia mengaku telah mengikuti proses hukum secara koperatif, mulai dari pemeriksaan polisi hingga persidangan. Meskipun demikian, Juladi merasa bahwa keputusan pengadilan tidak adil karena tidak mempertimbangkan bukti-bukti.


Juladi mengaku telah mengajukan banding terhadap putusan pengadilan pada Selasa, 23 Juli 2025. Namun, penutupan akses ke wilayah tempat tinggalnya tetap berlangsung pada Kamis, 24 Juli 2025.


Penutupan ini disebut dilakukan oleh pengacara dari pihak yang memenangkan perkara, yakni Roberto Sinaga, yang mewakili Sri Rejeki.

“Saya sudah bilang saya banding, tapi tetap ditutup. Katanya itu urusan dia. Saya sudah lapor ke RT, kelurahan, tapi tidak mereka gubris. Akhirnya saya [bilang] mau viralkan,” ungkap Juladi.


Penutupan akses ini tidak hanya menyulitkan kehidupan sehari-hari Juladi dan istrinya, Imelda Tobing (55) yang bekerja sebagai pemulung. Namun, juga mengancam keselamatan mereka, terutama putrinya, JES (8) yang bersekolah di SDN 01 Sampangan.


Dalam kondisi hujan atau kebakaran, tidak ada jalur evakuasi yang bisa digunakan karena akses utama sudah ditutup.


Setelah memviralkan video tersebut, ia berharap ada penyelesaian adil yang tidak hanya mempertimbangkan legalitas administratif, tetapi juga kemanusiaan.


“Kalau tidak saya viralkan, mungkin kami terus mendapatkan intimidasi. Anak saya pun jadi korban,” tegas Juladi.


Kesaksian warga setempat


Menurut keterangan beberapa warga yang tinggal di sekitar Jalan Lamongan Selatan II, Kelurahan Bendan Ngisor, Kecamatan Gajahmungkur, penutupan akses ini merupakan buntut dari kasus persengketaan lahan yang terjadi sejak 2019.


Selain itu, karena pihak Sri Rejeki memenangkan kasus di pengadilan, warga juga menyebut bahwa Juladi kurang bersosialisasi di lingkungan sekitar.


Kasus ini telah mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat, pihak Kecamatan Gajahmungkur dan Dinas Pendidikan Kota Semarang telah meninjau lokasi tersebut. 

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube