Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Viral, Karnaval Sound Horeg Dibubarkan Secara Paksa oleh Pihak Berwajib

karnaval sound horeg

Karnaval sound horeg yang diadakan di Desa Giripurno Kota Batu ini dibubarkan secara paksa, hal ini dikarenakan cukup menggangu ketentraman lingkungan.


Kisah karnaval sound horeg yang dibubarkan ini tentu membuat heboh sosial media, banyak netizen yang mendukung hal ini karena dianggap cukup mengganggu.


Karnaval sound horeg tentu mengeluarkan tata suara dengan volume sangat tinggi yang identik dengan musik jedag-jedug.


Berikut ini akan kami beritahu kronologi karnaval sound horeg di desa Giripurno Kota Batu yang dibubarkan paksa oleh pihak berwajib, simak terus ulasannya dibawah ini.


Kronologi Singkat Kejadian Karnaval Sound Horeg yang Dibubarkan 


Berdasarkan informasi yang beredar, karnaval sound horeg tersebut diselenggarakan sebagai bagian dari perayaan atau acara hiburan di Desa Giripurno. Seperti karnaval pada umumnya, acara ini dimeriahkan dengan parade kendaraan hias dan iring-iringan warga. Namun, yang menjadi sorotan utama adalah penggunaan sound system berukuran besar yang menghasilkan suara sangat keras, khas "sound horeg" yang sedang digandrungi sebagian masyarakat.


Pembubaran paksa terjadi ketika acara sedang berlangsung. Terlihat dalam video viral, beberapa petugas kepolisian dan TNI berupaya menghentikan jalannya karnaval sound horeg ini. Terdapat momen ketegangan antara petugas dan peserta karnaval yang merasa keberatan dengan pembubaran tersebut. Akhirnya, setelah negosiasi dan upaya persuasif, karnaval berhasil dihentikan.


Alasan Pembubaran: Gangguan Ketertiban dan Potensi Bahaya

Pihak berwajib, dalam hal ini aparat kepolisian dan TNI setempat, menjelaskan bahwa pembubaran dilakukan bukan tanpa alasan. Utama dari pembubaran adalah karena gangguan ketertiban umum yang ditimbulkan oleh volume suara yang terlalu tinggi. Suara bising dari "sound horeg" ini dikeluhkan mengganggu kenyamanan warga sekitar, terutama lansia, anak-anak, dan mereka yang membutuhkan ketenangan.


Selain itu, penggunaan sound system dengan daya sebesar itu juga berpotensi menimbulkan getaran yang dapat merusak fasilitas umum seperti rumah dan bangunan di sekitarnya. Aspek keamanan juga menjadi pertimbangan, mengingat kerumunan massa yang diiringi suara bising dapat meningkatkan risiko kecelakaan atau hal-hal yang tidak diinginkan. Meskipun niat awalnya adalah menghibur, namun dampak negatifnya dianggap lebih besar.


Pro Kontra di Masyarakat dan Media Sosial


Peristiwa ini sontak memicu perdebatan sengit di media sosial. Sebagian netizen mendukung tindakan tegas aparat karena dianggap menjaga ketertiban dan kenyamanan masyarakat. Mereka berpendapat bahwa hiburan tidak boleh mengganggu hak orang lain untuk hidup tenang.


Namun, tidak sedikit pula yang menyayangkan pembubaran tersebut. Mereka berargumen bahwa karnaval adalah bentuk ekspresi budaya dan hiburan rakyat yang harus difasilitasi, apalagi jika sudah mendapatkan izin. Ada pula yang menyarankan agar pihak berwajib lebih persuasif dan mencari solusi tengah, misalnya dengan membatasi volume suara atau jam operasional.


Pelajaran dari Insiden Giripurno


Kejadian di Desa Giripurno ini menjadi pengingat penting bagi kita semua. Hiburan dan ekspresi budaya memang penting, tetapi harus tetap mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Penting bagi penyelenggara acara untuk berkoordinasi dengan pihak berwajib dan memperhatikan peraturan yang berlaku, terutama terkait batas kebisingan dan keamanan.


Semoga insiden pembubaran karnaval sound horeg ini bisa menjadi pembelajaran agar ke depannya, kegiatan masyarakat bisa berjalan lancar, meriah, dan tetap menciptakan suasana yang harmonis bagi semua pihak.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube