TEGAL — Sebuah video yang menjadi viral menunjukkan sekelompok individu mengenakan pakaian berwarna putih di jalur pendakian Gunung Lawu.
Mereka dikenal sebagai jemaah tarekat Asy-Syahadatain. Apa sejarah dari tarekat Asy-Syahadatain yang didirikan oleh Abah Umar dari Cirebon dan apa saja ciri khasnya?
Video yang diunggah oleh akun Tiktok bernama @faaiiiiq._ pada hari Senin (14/7/2025) kini telah menarik perhatian masyarakat.
Video berdurasi 23 detik tersebut menampilkan beberapa orang yang berpakaian serba putih di jalur pendakian Lawu. Video ini telah disukai oleh lebih dari 2 juta pengguna dan dibagikan oleh 299,5 ribu warganet.
Menurut penjelasan dalam kolom komentar, pemilik akun menjelaskan bahwa rombongan tersebut mengaku berasal dari tarekat yang bernama Syahadatain. Tarekat Asy-Syahadatain konon dipimpin oleh Abah Umar yang berasal dari Cirebon.
Rombongan tersebut melakukan pendakian ke jalur Lawu pada hari Kamis (10/7/2025) melalui jalur Cemoro Sewu dan akan melaksanakan ritual suro pada keesokan harinya, yaitu Jumat (11/7/2025).
Selanjutnya, Asisten Perhutani (Asper) BKPH Lawu Selatan, Mulyadi, menjelaskan bahwa rombongan tersebut terdiri dari sekitar 100 orang.
Mereka berasal dari Desa Sambunggangi, Kecamatan Kradenan, Purwodadi, Jawa Tengah. Rombongan ini mengadakan kegiatan ziarah tahunan di Gunung Lawu.
Tarekat Asy-Syahadatain
Dalam sufisme Islam, tarekat dimaknai sebagai metode atau jalan untuk menuju kesucian jiwa dan mendekatkan diri dengan Allah.
Mengutip tulisan Asep Usman Ismail dalam Jurnal Kajian Dakwah dan Kemasyarakatan berjudul Fenomena Tarekat di Zaman Now: Telaah atas Ajaran dan Amalan, tarekat merupakan anak kandung tasawuf amali.
Tasawuf amali biasanya dipraktekkan dengan mengikuti tarekat di bawah bimbingan seorang mursyid. Mengutip jurnal tersebut, Tarekat Asy-Syahadatain didirikan pada 1964 oleh Sayyed Umar atau dikenal Abah Umar, keturunan ke-37 dari Nabi SAW silsilah dari Husain bin Ali.
Abah Umar lahir di Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat pada 22 Juni 1888. Ayahnya merupakan pedagang dan pendakwah bernama Al-Habib Syarif Isma’il bin Yahya. Sedangkan ibunya adalah Siti Suniah binti H. Sidiq asli Arjawinangun Cirebon Jawa Barat.
Abah Umar disebut pernah nyantri di sejumlah pondok pesantren. Di antaranya seperti Pondok Pesantren Ciwedus (Kuningan, Jawa Barat), Pesantren Bobos, Pondok Buntet hingga Pesantren Majalengka di bawah asuhan KH Anwar dan KH Abdul Halim.
Setelah nyantri, Abah Umar menghimpun sebuah pengajian di Panguragan dengan mengkaji hakikat syahadat dari Syarif Hidayatullah. Seiring waktu, ngaji Abah Umar dikenal luas oleh masyarakat hingga Malaysia.
Pada tahun 1947, Abah Umar menamai pengajiannya menjadi sebuah nama organisasi dan Pondok Pesantren Asy-Syahadatain. Kemudian, pada tahun 1950, Abah Umar untuk pertama kalinya menyelenggarakan tawasulan.
Pengajian tersebut juga mendapat izin dari Presiden Soekarno tahun 1951 sebagai legalitas organisasi yang jelas. Izin dari Presiden Soekarno menjadi hal penting bagi Asy-Syahadatain.
Sebab, pada kala itu, perkumpulan dengan banyak orang tanpa legalitas dapat dikategorikan sebagai usaha pemberontakan hingga dianggap mengganggu ketahanan nasional.
Pondok Asy-Syahadatain mengajarkan ilmu agama dan ketrampilan seperti bertani, menjahit, bengkel, koperasi, dan ilmu kanuragan.
Selanjutnya, Abah Umar mendirikan Tarekat Asy-Syahadatain dan sekaligus pemimpin Tarekat Asy-Syahadatain.
Nama Tarekat Asy-Syahadatain diambil dari tema kajian yang menekankan syahadat sebagai hal penting dalam Islam
Melihat jamaah Asy-Syahadatain yang semakin banyak, sejumlah kiai merasa tak senang dan khawatir santri-santrinya akan terbawa oleh Abah Umar.
Menanggapi hal itu, para kiai berkumpul untuk menyatakan bahwa ajaran Abah Umar tergolong sesat.
Buntut dari ajaran yang dianggap sesat, Pengadilan Agama setempat yang dikuasai para kiai menetapkan Abah Umar bersalah dengan tidak ada pembelaan dan penjelasan apa pun.
Akhirnya, Abah Umar dipenjara bersama beberapa murid-murid selama 3 bulan. Namun, belum genap 3 bulan, Abah Umar bisa terbebas dari bui.
Pada periode tahun 1960-an, jemaah Asy-Syahadatain dibekukan oleh pemerintah karena dianggap meresahkan masyarakat.
Pembekuan dilakukan atas laporan seorang penjabat yang menyatakan bahwa tuntunan tawasul Abah Umar dianggap menyesatkan.
Setelah adanya perundingan antara para ulama dengan jemaah Asy Syahadatain, akhirnya disepakati untuk membuka kembali Asy-syahadatain. Alasannya, tidak ada tuntunan yang dianggap sesat.
Pada tahun 1971, jemaah Asy-Syahadatain bergabung dengan GUPPI, organisasi di bawah naungan Partai Golongan Karya era Orde Baru.
Saat berdzikir, jemaah tarekat katanya menggunakan suara keras dan bergoyang seperti pohon yang tertiup angin.
Para jemaah Syahadatain memiliki ciri khusus dalam berpakaian saat hendak melakukan shalat di masjid. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, jemaah Syahadatain menggunakan pakaian seperti pada umumnya.
Melansir tulisan Abdul Rohman dalam Jurnal Analisa yang berjudul Persepsi Kelompok Syahadatain Terhadap Nilai-Nilai Toleransi Di Kabupaten Banyumas, saat hendak menunaikan shalat, jemaah Asy Syahadatain memakai pakaian putih dan bersurban. Tujuannya mengikuti sunnah dan meneladani Rasulullah saw.
Setelah menunaikan shalat maktubah, jemaah biasanya membaca dua kalimat syahadat disertai membaca shalawat tiga kali. Para jemaah juga mengamalkan beberapa wirid yang dibaca setiap hari.
Selain amalan wirid, jemaaah Asy Syahadatain menggelar tawasul setiap bulan. Tawasul merupakan kegiatan membaca surat Al-Fatihah yang dipersembahkan kepada para malaikat, Nabi, sahabat, para tabiin, dan ulama. Amalan ini juga dilakukan secara rutin di rumah para jemaah.
Kemudian, pada bulan Ramadhan, jemaaah Asy Syahadatain membaca asmaul husna dan shalat tahajud di masjid.
Hingga hari ini, tarekat Asy-Syahadatain belum termaktub dalam kelompok Jamaah Tarekat al-Muktabarah an-Nahdliyah (JATMAN), sebuah organisasi keagamaan yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama yang para anggotanya berfokus pada penerapan ajaran-ajaran tarekat.