Banyak kasus begal payudara yang terjadi di beberapa titik daerah, kasus ini tentunya sangat mengkhawatirkan bagi perempuan. Pasalnya kasus begal payudara ini diungkap oleh Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Metro Jakarta, yang menjadikan pelaku tertangkap.
Namun yang menjadi sorotan bagi netizen yakni pelaku begal payudara ini dilakukan ruqyah oleh ustadz, hal tersebutlah yang menjadi perhatian banyak orang.
Kasus begal payudara memang sedang menjadi isu hangat, banyak korban, terutama perempuan, merasa tidak aman dan trauma.
Modus yang digunakan dari begal payudara ini mulai dari mengendarai motor, mendekati korban, hingga melancarkan aksinya di tempat sepi. Pihak kepolisian pun bekerja keras untuk menangkap para pelaku dan mengusut tuntas motif mereka.
Nah berikut ini akan kami bahas secara lengkap mengapa pelaku begal payudara ini dilakukan ruqyah, yuk simak terus ulasannya dibawah ini.
Mengapa Ruqyah? Spekulasi di Balik Perilaku Pelaku
Menurut keterangan dari pihak kepolisian, keputusan untuk mendatangkan Ustadz Badru dan melakukan ruqyah terhadap pelaku begal payudara bukan tanpa alasan.
Berdasarkan hasil interogasi awal, AR menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Ia kerap memberikan jawaban yang berbelit-belit, tatapan mata kosong, dan terkadang tampak seperti kerasukan atau kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Hal ini memicu dugaan bahwa ada faktor non-medis atau spiritual yang memengaruhi tindakan pelaku.
Ustadz Badru, yang dikenal sebagai praktisi ruqyah di Jakarta, didatangkan atas inisiatif beberapa anggota kepolisian yang prihatin.
"Kami mencoba berbagai pendekatan, termasuk psikologis. Namun, melihat gelagat pelaku yang aneh, kami berinisiatif untuk menghadirkan Ustadz Badru. Tujuannya murni untuk melihat apakah ada pengaruh gaib atau hal di luar nalar yang memicu perbuatan pelaku," ujar salah satu penyidik yang enggan disebutkan namanya.
Proses Ruqyah dan Reaksi Pelaku
Proses ruqyah berlangsung tertutup di salah satu ruangan di Satreskrim Polres Metro Jakarta. Ustadz Badru membacakan ayat-ayat Al-Qur'an dan doa-doa tertentu.
Saksi mata yang berada di sekitar lokasi melaporkan adanya suara-suara aneh dan rintihan dari dalam ruangan saat proses ruqyah berlangsung.
Setelah proses ruqyah selesai, AR tampak lebih tenang, namun masih terlihat syok dan kebingungan. Pihak kepolisian menyatakan bahwa hasil dari ruqyah ini akan menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan kasus, namun tidak akan menggantikan proses hukum yang berlaku.
"Ruqyah ini adalah salah satu upaya kami untuk memahami lebih dalam kondisi pelaku. Namun, proses hukum akan terus berjalan sesuai prosedur," tegasnya.
Reaksi Masyarakat dan Harapan Kedepan
Peristiwa ini tentu saja menimbulkan beragam reaksi di masyarakat. Ada yang mendukung langkah ini sebagai upaya alternatif untuk mengungkap kebenaran, ada pula yang mempertanyakan relevansi metode spiritual dalam penanganan kasus kriminal.
Namun, satu hal yang pasti, kasus begal payudara ini adalah alarm bagi kita semua untuk lebih waspada dan bagi aparat penegak hukum untuk terus berupaya menciptakan rasa aman bagi warga.
Pihak kepolisian berharap, dengan berbagai pendekatan yang dilakukan, termasuk ruqyah ini, mereka bisa mengungkap motif sebenarnya di balik serangkaian kasus begal payudara dan mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari.
Semoga dengan ini, kasus-kasus kriminalitas dapat terungkap dengan jelas dan keadilan bisa ditegakkan.