TEGAL — Tren velocity kini masih sangat booming di aplikasi tiktok. Banyak pengguna yang menggunakannya agar kontennya viral.
Tren velocity ini merupakan video tiktok yang gerakannya cepat-lambat, patah-patah, lalu kembali mulus dengan transisi yang memukau. Kini jadi salah satu gaya edit paling popular.
Trenn velocity awalnya bukan langsung viral begitu saja, ada perjalanan menarik di balik kemunculannya di platform video pendek ini.
Berikut akan kami ulas secara lengkap awal mula trend velocity muncul di dunia maya.
Dari musik video hip-jop ke tiktok
Secara teknis, konsep "velocity" atau perubahan kecepatan gerakan dalam visual bukan hal baru. Efek slow-motion dan fast-motion sudah lama dipakai di industri film dan video musik, terutama di genre hip-hop dan R&B.
Ingat video musik yang menampilkan adegan penyanyi berjalan santai lalu tiba-tiba melesat cepat, atau gerakan tari yang diperlambat untuk menonjolkan detailnya?
Nah, itu adalah contoh awal penggunaan trend velocity. Tujuannya sama: menambah dramatisasi, menonjolkan momen kunci, atau menciptakan suasana yang lebih dinamis.
Awal Mula di TikTok: Ketika Musik Bertemu Gerakan
Trend velocity di TikTok sendiri mulai mencuat sekitar akhir 2019 hingga awal 2020. Pada awalnya, ini bukan tren yang spesifik bernama "Velocity", melainkan eksplorasi kreator terhadap fitur pengeditan kecepatan yang disediakan TikTok, ditambah dengan aplikasi pihak ketiga seperti CapCut atau Alight Motion.
Audio/Musik: Mereka menyadari bahwa perubahan kecepatan visual paling efektif ketika disinkronkan dengan ketukan (beat) atau perubahan melodi dalam lagu.
Misalnya, saat musik mencapai bagian "drop" atau chorus yang intens, gerakan video bisa dipercepat drastis, lalu melambat saat melodi kembali santai.
Gerakan Tarian: Banyak video awal yang menggunakan efek velocity adalah video tarian. Kreator ingin menonjolkan gerakan tertentu dengan memperlambatnya, atau membuat transisi antar gerakan jadi lebih dinamis dengan mempercepatnya.
Transisi: Efek velocity juga menjadi cara kreatif untuk membuat transisi antar klip atau pose jadi lebih mulus namun dengan sentuhan "energi".
Peran Aplikasi Pihak Ketiga dan Tutorial
Meskipun TikTok punya fitur kecepatan, untuk hasil velocity yang benar-benar halus dan presisi. Banyak kreator mengandalkan aplikasi editing eksternal.
CapCut menjadi salah satu aplikasi yang sangat populer karena kemudahan penggunaannya dan fitur pengeditan kecepatan yang canggih (seperti graph editing untuk mengatur kurva kecepatan).
Seiring banyaknya video dengan gaya serupa yang mulai FYP (For You Page), semakin banyak kreator yang penasaran bagaimana cara membuatnya. Ini memicu munculnya tutorial-tutorial di TikTok dan YouTube.
Tutorial ini mengajarkan langkah demi langkah bagaimana mengatur titik-titik kecepatan, menyinkronkan dengan audio, dan menggunakan fitur kurva untuk hasil yang mulus.
Tutorial inilah yang kemudian mengedukasi dan menyebarkan teknik velocity secara masif, mengubahnya dari sekadar eksperimen menjadi sebuah "tren".
Kenapa trend velocity viral?
Popularitasnya tidak lepas dari beberapa faktor:
Estetika Visual: Hasil akhirnya sangat memukau dan menarik perhatian.
Kreativitas: Memberikan ruang bagi kreator untuk menunjukkan keahlian editing dan musikalitas mereka.
Cocok dengan Musik: Sangat pas dengan sifat TikTok yang audio-driven dan mendorong penggunaan musik.
Meningkatkan Keterlibatan: Video dengan transisi cepat-lambat cenderung membuat penonton menonton ulang untuk menangkap semua detailnya.
Dari sekadar fitur teknis di video musik hingga menjadi tren global di TikTok, trend velocity ini membuktikan bagaimana inovasi kecil dalam pengeditan bisa menghasilkan dampak besar dan mengubah cara kita menikmati konten video pendek.