SEMARANG — Riuh tepuk tangan dan teriakan penonton pecah begitu dentingan nada pertama lagu "Satu Kayuh Berdua" terdengar di halaman Lawang Sewu, Kota Semarang pada, Sabtu malam 13 September 2025.
Salah satu lagu legendaris milik Kla Project, band yang populer di era 80–90an hingga sekarang ini menjadi pembuka dalam konser Soearaloka yang berhasil menyedot ribuan pengunjung dari berbagai daerah.
Konser ini bukan sekadar hiburan musik, mamun di balik megahnya bangunan heritage Lawang Sewu yang ikonik, ribuan penonton larut dalam nostalgia masa muda, terutama mereka yang kini rata-rata berusia di atas 40 tahun.
Bagi sebagian besar pengunjung, kehadiran Kla Project di Semarang bukan hanya sebuah konser, melainkan perjalanan waktu yang membawa mereka kembali ke masa muda.
Seperti Iin Hayu, penonton asal Pati, yang rela merogoh kocek Rp1 juta untuk tiket VIP demi bisa bernostalgia dengan band idolanya.
"Saya penggemar Kla Project sejak SD, sekitar tahun 80–90an. Dulu pernah ke Jakarta, sekarang ke Semarang demi nonton mereka lagi. Rasanya kayak balik ke masa kecil," ungkapnya dengan gembira kepada diswayjateng.com.
Meski harus menempuh perjalanan jauh, Iin mengaku puas bisa duduk di barisan depan. Suasana Lawang Sewu yang vintage disebutnya menambah kesan eksklusif.
"Memang tempatnya tidak terlalu luas, tapi justru lebih intim. Jadi terasa spesial. Apalagi lagu-lagu mereka memang jadi bagian dari hidup kita sejak dulu," tambahnya.
Acara Soearaloka digagas oleh PT KAI Wisata sebagai upaya menghidupkan kembali event musik di destinasi heritage.
Direktur Utama PT KAI Wisata, Hendy Helmy, menyebut konser ini sebagai hasil riset panjang terkait minat masyarakat.
"Kami survei dulu, dan ternyata animo masyarakat terhadap band legendaris masih sangat tinggi. Kla Project dipilih karena mereka punya basis penggemar lintas generasi. Penjualan tiket pun tembus 92 persen, hampir 1.000 penonton hadir malam ini," jelas Hendy.
Menurutnya, Lawang Sewu bukan hanya ikon sejarah, tapi juga punya potensi besar sebagai lokasi event pariwisata budaya. Kedepan, pihaknya akan menggelar konser serupa setiap tiga bulan sekali dengan menggandeng Dinas Pariwisata Kota Semarang.
"Target kami bukan hanya menarik warga Semarang, tapi juga dari luar kota seperti Jakarta, Jogja, dan Surabaya. Harapannya, ini bisa mengangkat pariwisata heritage Semarang," tambah Hendy.
Konser dimulai pukul 18.30 wib dengan penampilan Jikustik, sebelum puncaknya menghadirkan Kla Project pukul 20.00 wib dengan membawakan 10 lagu hits, termasuk Yogyakarta, Tentang Kita, hingga Satu Kayuh Berdua yang membuat penonton bernyanyi bersama.
Dengan kapasitas terbatas, suasana terasa lebih hangat. Penonton rata-rata berusia 40 tahun ke atas, sesuai dengan perjalanan musik Kla Project yang kini sudah berusia 37 tahun di industri musik Indonesia.
Harga tiket pun bervariasi, mulai dari kategori Platinum Rp700 ribu, Diamond Rp850 ribu, hingga VIP Rp1 juta. Menariknya, tiket VIP justru yang paling cepat ludes terjual, menandakan tingginya minat penonton untuk menikmati konser dalam suasana eksklusif.
Seiring meningkatnya jumlah wisatawan, Lawang Sewu kini mencatat kunjungan rata-rata 4.000 orang per hari, bahkan bisa tembus 15.000 pengunjung saat libur panjang. Kehadiran konser musik seperti Soearaloka diyakini akan menambah daya tarik wisata heritage ini.
Hendy optimistis, jika rutin digelar, konser musik di Lawang Sewu akan memberi dampak ekonomi sekaligus melestarikan citra bangunan bersejarah sebagai ikon kebanggaan Semarang.
"Kami ingin Lawang Sewu bukan hanya jadi objek wisata sejarah, tapi juga ruang berkesenian yang menghidupkan kota. Semoga ini jadi awal baik untuk event-event berikutnya," pungkasnya.