Media sosial sedang ramai diperbincangkan oleh video yang menunjukkan puncak Gunung Gede Pangrango mengeluarkan asap putih yang tebal. Apa penjelasan mengenai hal ini?
Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) menegaskan bahwa tidak ada kawah baru di area Gunung Gede, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Aktivitas gunung tersebut juga dilaporkan masih dalam status normal.
Pernyataan ini disampaikan setelah viralnya sebuah video di platform media sosial Instagram yang diunggah oleh akun @andrearamadhaan pada hari Senin, 14 Juli 2025.
Dalam unggahannya, seorang pilot drone profesional yang juga aktif di media sosial menuliskan keterangan: “Salah satu kawah dari tiga kawah yang ada di Gunung Gede, ada kawah Ratu, kawah wadon, kawah lanang, kawah manakah yang ada di video ini?”
Video berdurasi 34 detik yang direkam dengan menggunakan drone tersebut menunjukkan kepulan asap putih tebal yang berasal dari kawah Gunung Gede, sehingga memicu spekulasi di kalangan warganet mengenai adanya kawah baru dan aktivitas vulkaniknya.
Menanggapi hal ini, Humas Balai Besar TNGGP, Agus Denie, menegaskan bahwa kawah yang terlihat dalam video tersebut bukanlah kawah baru.
Humas Balai Besar TNGGP Agus Deni menjelaskan bahwa di Gunung Gede Pangrango terdapat tiga kawah, yaitu Kawah Wadon, Kawah Ratu, dan Kawah Ladang. Kawah yang aktif dalam video tersebut adalah Kawah Wadon.
“Itu adalah kawah wadon, yang baru-baru ini menunjukkan aktivitasnya,” ujarnya pada hari Selasa 15 Juli 2025.
Dia menjelaskan bahwa Gunung Gede Pangrango adalah gunung berapi yang masih aktif. Namun, hingga saat ini tidak ada aktivitas yang menunjukkan tanda-tanda erupsi atau letusan dari gunung tersebut.
“Statusnya masih normal. Memang sering mengeluarkan asap. Bahkan dari kawasan Cibodas juga sering terlihat,” tambahnya.
Agus menyatakan bahwa video Kawah Wadon dibuat oleh Andrea Ramadhan bersama tim BBTNGGP untuk memberikan gambaran situasi kawah yang lebih jelas dan lebih dekat menggunakan drone long range atau FPV.
Lebih lanjut, Agus menyampaikan bahwa BBTNGGP juga bekerja sama dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM untuk melakukan pemantauan rutin aktivitas gunung.
Pemantauan tersebut dilakukan melalui lima alat yang dipasang di sekeliling Gunung Gede, meliputi:
1. Seismometer, untuk mendeteksi gempa gunung api
2. GPS, untuk memantau perubahan morfologi
3. Tiltmeter, untuk mengukur perubahan bentuk gunung
4. Infrasound, untuk merekam suara erupsi
5. Radio Mikrotik, sebagai alat komunikasi data pemantauan ke Pos Gunung Gede dan pusat PVMBG.
Dengan klarifikasi ini, BBTNGGP berharap masyarakat tidak termakan informasi spekulatif yang tidak berdasar. Pemantauan aktivitas vulkanik Gunung Gede tetap dilakukan secara ketat dan ilmiah oleh pihak berwenang.
Tetapi khusus para pendaki diminta untuk tidak mendekati Kawah Wadon dalam radius 600 meter, sebab dikhawatirkan mengeluarkan gas beracun yang berbahaya bagi makhluk hidup.