Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Siswa SMPN 2 Gondang Alami Insiden Pengeroyokan, Mediasi Gagal Lanjut ke PPA Polres Sragen

Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Gondang
Sragen

SRAGEN — Upaya mediasi kasus dugaan pengeroyokan siswa baru di SMPN 2 Gondang Kabupaten Sragen menemui jalan buntu.


Pertemuan yang digelar di sekolah pada Kamis 23 Juli 2025 kemarin tidak mencapai kesepakatan antara pihak orang tua korban dan orang tua terduga pelaku.


Alhasil, kasus ini dipastikan berlanjut ke jalur hukum di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sragen.


Plt Kepala Sekolah SMPN 2 Gondang, Ninuk Suryani, menjelaskan kronologi kejadian yang ia dengar dari Tim Penanggulangan dan Pencegahan Kekerasan (TPPK) sekolah.


Menurutnya, insiden bermula saat rombongan siswa kelas VIII mondar-mandir dan menggedor-gedor pintu serta jendela kelas VII yang sedang ada pelajaran. "Lantas anak yang ada di kelas merasa terganggu," jelas Ninuk.


Secara tidak sengaja, saat korban membuka pintu dari dalam kelas, pintu tersebut mengenai wajah salah satu terduga pelaku. "Spontan anak tidak terkendali," imbuhnya.


Ninuk mengungkapkan bahwa hasil mediasi yang dihadiri oleh pihak kepolisian, kepala desa, serta kedua belah pihak keluarga tidak menemui titik terang. Oleh karena itu, kasus ini akan dilanjutkan ke PPA Polres Sragen.


Ninuk mengaku belum mengetahui secara pasti rincian aduan yang akan dilaporkan oleh pihak keluarga korban.


Mengenai jumlah pelaku, Ninuk menyampaikan bahwa informasi awal mengenai pengeroyokan memang simpang siur.

Namun, berdasarkan sejumlah keterangan yang dikumpulkan sekolah, ia menegaskan bahwa pelaku pemukulan hanya satu orang anak berinisial LH, dari kelas VIII A. 


Pihak sekolah juga menepis anggapan bahwa LH sering melakukan tindak kekerasan. Selain itu, sekolah tidak bisa memastikan kebenaran soal adanya ular mati yang dilemparkan ke dalam kelas.


Ironisnya, insiden ini terjadi bertepatan dengan pelaksanaan sosialisasi anti-bullying oleh sekolah bersama orang tua wali.


"Saya baru mingkem itu, malah kejadian. Senin saat upacara dan setiap rapat juga saya sampaikan anti-bullying," ujar Ninuk dengan nada menyesal.


Pihaknya mengakui bahwa sekolahnya "kecolongan" meski sudah gencar mengampanyekan anti-kekerasan.


Hingga saat ini, pihak sekolah belum memberikan sanksi kepada para siswa yang diduga terlibat. 


Ninuk menyebutkan, empat anak yang sebelumnya diduga terlibat dalam insiden tersebut masih masuk sekolah seperti biasa.


Sementara itu, korban Axel Aprilio masih dalam masa pemulihan. "Korban ke klinik diantar pakai mobil saya. Guru juga sudah kesana, rumah korban dan korban sudah bisa ditemui," pungkas Ninuk.


Sementara itu, kasat Reskrim polres Sragen AKP Ardi Kurniawan belum membalas pesan singkat terkait tindak lanjut kasus di SMPN 2 Gondang tersebut.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube