Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Rapat Persiapan Jumenengan di Keraton Solo Malah Berujung Penobatan Mendadak PB XIV

GPH Suryo Wicaksono (Gusti Ninok)

SURAKARTA — Suasana internal Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali memanas. Rapat koordinasi yang semula dijadwalkan membahas persiapan upacara Jumenengan Dalem Nata Binayangkare SISKS Pakoe Boewono (PB) XIV pada, Kamis 13 November 2025, mendadak berubah menjadi prosesi penobatan yang memicu ketegangan di dalam lingkungan keraton.


Pertemuan yang berlangsung di Sasana Handrawina itu dihadiri sejumlah sentana dan tokoh penting keraton. Termasuk GKR Koes Murtiyah (Gusti Moeng) serta Panembahan Agung Tedjowulan. 


Namun, agenda yang semula bersifat koordinatif itu berubah arah menjadi penetapan dan penobatan PB XIV secara spontan.


Menurut keterangan GPH Suryo Wicaksono (Gusti Ninok), rapat dibuka dengan pembacaan surat dari Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) tertanggal 10 November 2025. 


Hanya berselang sekitar 15 menit, forum tersebut langsung berlanjut dengan prosesi penobatan KGPH Hangabehi, putra almarhum PB XIII, sebagai Pakubuwono XIV di hadapan sejumlah sentana dan kerabat PB XII.


“Sekitar 15 menit setelah pembukaan, langsung dilakukan penobatan PB XIV yang disaksikan para sentono dan sesepuh keraton,” ungkap Gusti Ninok kepada wartawan.

Penobatan mendadak itu mengejutkan banyak pihak, karena dilakukan tanpa koordinasi dengan panitia resmi di bawah pimpinan GKR Timoer Rumbaikusuma Dewayani, putri tertua PB XIII, yang telah menjadwalkan Jumenengan resmi pada Sabtu 15 November 2025.


Situasi semakin tegang ketika GKR Timoer tiba di lokasi setelah prosesi berlangsung. Ia bersama beberapa adiknya langsung memprotes keras tindakan tersebut, karena dianggap menyalahi kesepakatan internal keluarga keraton.


“Acara ini bertentangan dengan komunikasi internal sebelumnya. Saat ini masih terjadi perdebatan antara Gusti Rumbay dan Gusti Moeng,” ujar Gusti Ninok.


Melihat situasi semakin memanas, Gusti Ninok akhirnya memilih meninggalkan forum. “Untuk itu, saya mengundurkan diri dulu,” tegasnya.


Penobatan ini kembali memperlihatkan konflik dualisme kepemimpinan di Keraton Surakarta yang belum juga mereda sejak wafatnya PB XIII. Sementara kubu KGPH Dipokusumo, yang sebelumnya disebut-sebut sebagai calon raja, tidak tampak hadir dalam pertemuan tersebut.


Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari panitia Jumenengan maupun pihak Kemenbud, terkait sah atau tidaknya penobatan PB XIV tersebut.