SALATIGA — Pasca kecelakaan maut truk trailer hingga menewaskan sopirnya, banyak masyarakat Salatiga mengaitkan dengan jalur penyelamat satu-satunya di kawasan Jalan Lingkar Selatan (JLS) Salatiga itu.
Bahkan, masyarakat Salatiga dan sekitarnya mengecam adanya kegiatan sejumlah orang memanfaatkan jalur penyelamat justru dijadikan tempat kongkow, parkir truk hingga berjualan kopi keliling.
Hal ini diduga, menjadi salah satu alasan truk trailer dikemudikan Supardi membawa 20 ton tekstil berupa pakaian jadi asal Boyolali tujuan Semarang tak mampu masuk ke jalur penyelamat lantaran terhalang aktivitas tersebut.
Terpantau, di sejumlah platform media sosial seperti Tik Tok dengan pemberitaan truk trailer mengalami rem blong hingga menabrak pagar Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ngemplak, tepat di Simpang 4 Aulia, Kelurahan Kecandran, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga, banyak komentar menyebutkan kecelakaan tersebut dapat diminimalisir jika sopir dapat masuk ke jalur penyelamat.
Hanya saja, jalur menuju jalur penyelamat justru sering menjadi penghambat bagi truk yang mengalami rem blong untuk menggunakan fungsi (jalur penyelamat/ darurat) sebagai mana mestinya.
Seperti disampaikan akun Alip***, ia menyinggung siapa penjual kopi yang berjualan di pinggir jalur darurat.
Akun lainnya Ni**. Ia membenci penjual kopi di jalur penyelemat. : 'benci banget sama orang yang jualan sama nongki di jalur penyelamat. Gak sekali dua kali aku lewat sana pas2 an sama orang2 nongkrong sama orang jualan'.
Dan masih banyak lagi komentar bernada kecaman, karena melakukan aktivitas bukan pada tempatnya hingga merugikan orang lain.
Sementara, Kasat Lantas Polres AKP Darmin menyebutkan jika pihaknya telah sering menertibkan sejumlah pihak yang melakukan aktivitas di titik terlarang itu.
"Kami telah sering menggalau dan menertiban, untuk tidak berjualan atau pun parkir di kawasan jalur penyelamat. Namun, saat kami pergi mereka kembali lagi," ungkap AKP Darmin.
Polres Salatiga Pasang Benner Larangan
Bahkan, sebagai bentuk ketegasan Satlantas Polres Salatiga hari ini memasang benner tanda peringatan untuk tidak berjualan, atau pun sekedar istirahat di jalur penyelamat.
Meski demikian, Darmin juga tidak menampik ada pengakuan sejumlah sopir truk dari jalur Solo menuju Semarang ketika malam hari tidak melihat adanya jalur penyelamat di kawasan JLS.
Dari pantauan wartawan Disway Jateng, pedagang kopi keliling dengan mengendarai motor telah mangkal sejak pagi.
Bahkan, sejumlah orang sengaja nongkrong dan melepas penat dengan memarkirkan kendaraan di samping pagar jalur penyelamat.
STW warga Ambarawa pedagang kopi keliling mengaku ia berjualan di lahan bagian dalam sebuah area parkir bongkar muat truk dan bukan di pinggir jalan hingga menghalangi jalur penyelamat.
"Malam kejadian truk kecelakaan saya tidak berjualan, saya jualan di pagi saja," ungkap STW, enggak dikaitkan dengan kecelakaan trailer.
Diberitakan sebelumnya, sebuah truk trailer bernomor polisi H-1849-CG mengalami kecelakaan tunggal karena rem blong di JLS Salatiga, Selasa 11 November 2025, malam.
Kecelakaan tepat di depan Makam Simpang 4 Aulia, Kelurahan Kecandran, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga itu menyebabkan pengemudi truk tewas di tempat kejadian perkara (TKP).