SEMARANG — Usai mengungkap kejanggalan meninggalnya mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Negeri Semarang (Unnes) angkatan 2024, Iko Juliant Junior (19), seorang alumni FH Unnes, Julio B. Harianja (alumni 2013), mengaku diintai dan dibuntuti orang tak dikenal. Hal itu terjadi usai dirinya menghadiri aksi doa bersama di kampus pada Senin, 1 September 2025.
Julio menjelaskan, ia mulai merasa diawasi sejak berkumpul di salah satu kedai di daerah Patemon, Gunungpati, usai acara doa bersama. Di tempat itu, ia bersama rekan-rekan mahasiswa dan alumni melakukan diskusi kecil terkait dugaan kejanggalan di balik kematian Iko.
"Sejak aksi lilin itu saya sudah merasa ada gelagat tidak biasa. Awalnya saya kira hanya kebetulan ada orang lain nongkrong di warung, tapi lama-lama terasa janggal. Puncaknya saat saya didatangi orang asing di sebuah warmindo," ungkap Julio kepada diswayjateng.com, Kamis 4 September 2025 sore.
Kronologi Julio Dibuntuti Orang Tak Dikenal
Setelah doa bersama, Julio dan rekan-rekannya melanjutkan diskusi di sebuah kedai Patemon. Saat itu, ia melihat ada orang asing yang datang sendiri dan memesan minuman. Julio menuturkan, dirinya mulai merasa gelagat aneh meski mencoba tetap tenang.
"Sejak di kedai saya sudah melihat gerak-gerik aneh, tapi saya tidak terlalu curiga. Kami teruskan diskusi pelan-pelan," jelasnya.
Pada Selasa, 2 September 2025, Julio kembali berdiskusi di kedai yang sama. Namun, kali ini ada beberapa orang yang terlihat memantau dari kejauhan.
"Hari itu kami kembali diskusi di kedai yang sama hingga tutup pukul 00.00 WIB. Ada orang dengan gelagat aneh mengamati kami. Pemilik kedai juga tidak nyaman sehingga meminta kami segera pulang," ujarnya.
Keesokan harinya, Rabu, 3 September 2025, Julio bersama rekannya pindah ke sebuah warung kopi tak jauh dari lokasi sebelumnya. Sekitar pukul 23.30 WIB, ia kembali melihat gelagat mencurigakan.
"Mereka seperti pura-pura pesan makan, tapi justru memotret dan merekam suasana. Bukan seperti orang telepon atau video call. Dari situ saya makin curiga," tutur Julio.
Merasa tidak aman, Julio kembali ke kedai Patemon yang hampir tutup, namun masih diikuti orang-orang asing tersebut.
"Karena suasana di warung kopi tidak nyaman, kami kembali ke kedai semula dan tetap diikuti. Saat saya tanyakan ke pemilik kedai apakah mengenal mereka, jawabannya tidak," ucapnya.
Kecurigaan Julio semakin kuat ketika ia melihat sekitar enam orang berbadan besar datang dengan 2–3 motor. Mereka diduga bagian dari kelompok yang terus membuntutinya.
Sempat Diteror hingga Larut Malam
Merasa terancam, Julio menghubungi rekan-rekannya di Ikatan Alumni FH Unnes (IKA FH Unnes) melalui WhatsApp. Ia bahkan membagikan lokasi langsung (live location) sebagai langkah pengamanan.
"Sekitar pukul 00.10 WIB, dua teman saya datang menjemput. Tidak lama kemudian, orang tak dikenal itu lewat lagi sambil merekam dengan ponsel. Saya coba panggil dan berhentikan, tapi mereka justru kabur," jelasnya.
Salah seorang rekannya sempat ingin mengejar, namun Julio melarang karena khawatir akan keselamatan. Ia memilih berpindah ke lokasi yang lebih ramai. Hingga pukul 05.00 WIB, Julio bersama beberapa rekannya terus berkeliling untuk memastikan situasi aman.
Diduga Terkait Investigasi Kematian Iko
Julio menduga intimidasi yang dialaminya erat kaitannya dengan perannya sebagai salah satu pihak pertama yang mengungkap kejanggalan kematian Iko kepada publik.
"Saya yang meminta agar ada autopsi sebelum Iko dimakamkan. Saya juga yang menyampaikan kronologi ke wartawan. Kalau memang ini murni kecelakaan, silakan dibuktikan. Tapi kalau ada hal janggal, publik berhak tahu," tegasnya.
Menurut Julio, kehadiran orang tak dikenal yang membuntutinya bisa jadi bagian dari upaya intimidasi. Ia bahkan menduga keterlibatan pihak tertentu.
"Kalau mereka intel resmi, mestinya paham ada banyak aktivis yang ikut mengawal kasus ini. Saya curiga ini ada perintah dari level atas, bahkan mungkin melibatkan oknum aparat," pungkasnya.