SEMARANG — Melihat kondisi berbagai aksi unjuk rasa berujung dengan kericuhan dan pembakaran yang diikuti sejumlah anak-anak dibawah umur membuat Sosiolog dari Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, Hermawan Pancasiwi angkat bicara.
Menurutnya keterlibatan anak-anak dalam aksi demonstrasi yang berujung ricuh di sejumlah daerah di Indonesia ini sebagai fenomena baru yang patut harus diwaspadai.
Menurutnya, ada pola mobilisasi massa yang terencana. Anak-anak di bawah umur sengaja dijadikan bagian dari kerumunan untuk kepentingan kelompok tertentu.
"Ini sungguh mengejutkan sekaligus memprihatinkan. Bupati Kediri pun mengaku kaget karena sebagian besar perusuh ternyata anak-anak usia SMP, bahkan ada perempuan,” ujar Hermawan saat dihubungi diswayjateng.com, Rabu3 September 2025.
Tidak hanya di Kota Semarang, hal serupa juga terjadi di Solo, di mana mayoritas remaja yang ditangkap polisi bukan warga setempat. "Lebih dari 90 persen berasal dari luar daerah, ada yang dari Sragen, Yogyakarta, dan lain-lain. Ini jelas menunjukkan ada desain mobilisasi massa," ujarnya.
Lebih lanjut, Hermawan menjelaskan, pola kerusuhan kali ini berbeda dengan demonstrasi sebelumnya. Banyak peserta aksi justru bukan penduduk lokal, mereka didatangkan dari luar daerah dan kebanyakan masih anak-anak atau remaja muda karena dianggap lebih murah dibayar dibanding orang dewasa.
"Mereka bisa bertahan hingga dini hari karena memang bukan warga setempat. Anak-anak ini dipilih karena lebih mudah dipengaruhi dan secara hukum mendapat perlindungan berbeda," jelasnya.
Sosiolog Unika Soegijapranata ini menilai keterlibatan anak-anak dalam kerusuhan sebagai bentuk kejahatan ganda.
"Pertama, mereka menciptakan kerusakan dan keresahan masyarakat. Kedua, mereka menjerumuskan anak-anak di bawah umur ke dalam tindakan berbahaya. Itu yang membuatnya sangat kejam," tegasnya.
Hermawan membandingkan kondisi saat ini dengan peristiwa reformasi 1998. Menurutnya, aksi mahasiswa saat itu jauh lebih terarah karena dilakukan oleh orang-orang yang memahami tujuan politiknya.
Sementara anak-anak usia 13 atau SMP belum memahami isu politik maupun ketidakadilan sosial. "Mereka hanya tergoda uang atau ajakan teman. Dalam kerumunan, rasa tanggung jawab melebur sehingga mereka lebih berani," ujarnya.
Hermawan juga menilai peristiwa sopir ojek online bernama Affan yang meninggal tertabrak kendaraan taktis menjadi salah satu pemicu massa anak-anak turun ke jalan.
"Mereka sebenarnya tidak paham konteks penuh, tapi langsung ikut terprovokasi karena musibah ojol yang ditabrak kendaraan taktis," katanya.
Menambahkan, aktor intelektual di balik aksi rusuh diduga memanfaatkan kerumunan dengan pola terorganisir. "Saya yakin ada orang asing dalam kerumunan berteriak ‘bakar’, lalu menghilang. Anak-anak yang emosional kemudian terdorong melakukan hal yang sama," ungkapnya.
Alasan lain anak-anak sengaja dilibatkan adalah karena perlindungan hukum. Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak PBB, menetapkan usia anak di bawah 18 tahun.
"Kalau yang ditangkap masih 13 atau 15 tahun, maka prosesnya lewat peradilan anak. Itulah yang membuat aktor-aktor merasa lebih aman memakai mereka," jelasnya.
Hermawan mengingatkan orang tua agar lebih waspada. Ia menekankan pentingnya komunikasi keluarga untuk mencegah anak terlibat dalam kerumunan berbahaya.
"Saya harap bapak-ibu menjaga putra-putrinya. Ceritakan bahaya dan kerugian jika ikut-ikutan aksi rusuh," imbaunya.
Ia juga menyoroti fakta banyak ibu-ibu di Semarang menunggu anaknya dibebaskan di depan Polda Jateng. "Itu bukti nyata bahwa yang terlibat memang anak-anak belasan tahun. Pemerintah sekarang tidak segan menahan mereka," tegasnya.
Fenomena Baru: Anak di Bawah Umur Terlibat Kerusuhan, Sosiolog SCU Peringatkan Bahaya Mobilisasi Massa
? Meta Deskripsi (SEO & Google Discover)
Keterlibatan anak-anak di bawah umur dalam aksi unjuk rasa yang berujung ricuh di Semarang, Solo, hingga Kediri dinilai sosiolog SCU sebagai fenomena baru yang mengkhawatirkan. Mereka diduga sengaja dimobilisasi untuk kepentingan kelompok tertentu.
? Long-Tail Keywords (untuk SEO & Google Trends)
Anak di bawah umur ikut demo rusuh, fenomena anak ikut kerusuhan di indonesia, mobilisasi massa libatkan anak-anak, sosiolog unika soegijapranata hermawan pancasiwi, aksi ricuh melibatkan anak SMP, penyebab anak-anak ikut demo rusuh, keterlibatan remaja dalam aksi unjuk rasa, kerusuhan semarang solo kediri 2025, orang tua cegah anak ikut kerusuhan, fenomena baru kerusuhan libatkan anak
? Tag Pendek (untuk Google Discover)
Anak di bawah umur, kerusuhan semarang, demo rusuh, sosiolog SCU, fenomena baru kerusuhan