SEMARANG — Selasa malam 14 Oktober 2025, masyarakat kembali menundukkan kepala mengenang kobaran api perjuangan dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang — babak heroik yang merebut martabat bangsa dari tangan penjajah Jepang pada Oktober 1945.
Di bawah langit cerah kawasan Tugu Muda Semarang, dentuman genderang upacara berpadu dengan langkah tegap para peserta.
Tak hanya pejabat dan veteran, warga dari berbagai usia turut hadir. Di antara mereka, Sutarmi (54), warga Bululor , tampak berdiri dengan khidmat sambil menggandeng cucunya.
“Saya ajak cucu saya supaya tahu kalau kemerdekaan itu tidak jatuh dari langit. Kita ini hidup tenang karena dulu ada yang berkorban,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Ahmad Luthfi, yang tampil sebagai inspektur upacara, menyampaikan amanat sarat pesan kebersamaan.
Suaranya lantang, namun menyentuh ketika mengingatkan bahwa kekuatan Jawa Tengah berada pada solidaritas sosial.
“Nyawanya Jawa Tengah ada pada semangat gotong royong. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Mati siji mati kabeh, bangkit siji bangkit kabeh,” tegasnya.
Gubernur menjelaskan bahwa Jawa Tengah dengan 37 juta jiwa, 8.573 desa, dan beragam suku serta bahasa, hanya dapat berdiri kokoh karena ikatan kebersamaan. Ia menyebutnya sebagai roh peradaban Jawa Tengah.
“Perjuangan tidak pernah ada kata usai. Hari ini kita menghadapi berbagai tantangan, tapi kebanggaan saya adalah saat masyarakat mau mengambil peran terbaik,” lanjutnya.
Ucapan itu diamini Rizky (21), mahasiswa asal Banyumanik yang datang bersama komunitasnya.
“Kadang generasi muda itu lupa sejarah karena dianggap jauh. Padahal kalau dihadirkan seperti ini, kita merasa dekat. Rasanya seperti dipanggil untuk ikut berjuang, tapi dengan cara masa kini,” ucapnya.
Sejarah yang Dihidupkan Kembali
Upacara diawali pembacaan nukilan sejarah Pertempuran Lima Hari oleh St Sukirno.
Fragmen tersebut menggambarkan bagaimana kegembiraan rakyat Semarang menyambut kemerdekaan berubah menjadi amarah perlawanan akibat provokasi tentara Jepang.
Pertunjukan kolosal oleh Teater Pitoelas Universitas 17 Agustus semakin menyulut emosi hadirin.
Adegan pertempuran ditampilkan dramatis, dengan suara dentuman dan dialog heroik yang membuat warga terpukau.
“Seperti nonton film sejarah tapi versi nyata,” komentar Yuni (32), warga Candisari yang datang bersama teman-temannya.
“Anak-anak sekarang perlu tontonan seperti ini, bukan cuma sinetron.”
Dari Semarang untuk Indonesia
Menutup amanatnya, Gubernur menyerukan agar semangat perlawanan itu diterjemahkan dalam bentuk modern:
“Teruslah berkreasi, berinovasi, dan menjunjung tinggi integritas. Lakukan kerja nyata untuk bangsa,” katanya.
Bagi warga yang hadir, upacara itu bukan hanya seremoni tahunan — melainkan pengingat bahwa sejarah bukan untuk dikenang, tapi diteruskan.