Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Selembar Kebaya Indah, Tersimpan Perjuangan Desainer Difabel Ida Modiste yang Penuh Inspirasi

Owner Butik Ida Modiste
Hidayah Ratna Febriani seorang penyandang difabel menerangkan proses penjahitan kebaya kepada salah satu karyawan.

SEMARANG — Di tepi Jalan Medoho Raya Nomor 61, Sambirejo, Gayamsari, Kota Semarang, berdiri sebuah butik sederhana yang telah menembus pasar internasional. Butik Ida Modiste, milik Hidayah Ratna Febriani atau yang akrab disapa Ida, bukan hanya terkenal karena kebaya berkualitas tinggi, tetapi juga sebagai simbol pemberdayaan penyandang disabilitas.


Ida adalah seorang perempuan penyandang disabilitas daksa sejak usia tiga tahun akibat polio. Meski mengalami kelumpuhan sejak kecil dan sempat mengalami penolakan sosial serta dibatasi oleh pilihan orang tua, Ida tidak menyerah.


Dengan semangat dan ketekunan, ia berhasil membangun bisnis kebaya di Semarang yang kini dikenal hingga mancanegara.


"Butik ini awalnya bukan mimpi, tapi keterpaksaan. Namun, lama-kelamaan saya mencintainya karena bisa melihat orang memakai karya saya," ungkap Ida kepada wartawan diswayjateng.com, Rabu, 18 Juni 2025.


Setelah lulus dari SMEA jurusan Manajemen Pemasaran, Ida ingin kuliah, seperti kakak dan adiknya yang menempuh pendidikan tinggi. Namun, orang tuanya memiliki pandangan lain.


"Mereka ingin saya punya keterampilan," kenangnya.


Ida sempat menolak, marah, dan memilih berdiam diri selama setahun—hingga akhirnya ia menyerah.


"Saya mulai ikut kursus menjahit, bikin kue, masak, dan lainnya. Tapi awalnya itu karena terpaksa, jadi enggak nyantol di otak," ucapnya sambil tertawa.


Awalnya hanya melayani tetangga, kini pelanggan Ida berasal dari berbagai kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, hingga luar negeri seperti Australia, Jepang, dan Amerika.


Ia bahkan pernah menjahit untuk keluarga pejabat, seperti mantan Wali Kota Semarang, istri mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan anggota DPR RI Agustina Wilujeng Pramestuti.


"Putri-putrinya suka sekali dengan hasil jahitan saya. Dari situ, ajudan dan teman-teman beliau ikut menjahit ke saya juga," ujarnya.


Bermodalkan kursus menjahit di Jalan Pandanaran, Ida mulai serius setelah mendapat tantangan dari pengajarnya. Sejak saat itu, ia menghafal pola, meningkatkan kemampuan desain busana, hingga mampu menerima pesanan kebaya secara profesional.


Pada tahun 2000, Ida secara resmi mendirikan Butik Ida Modiste, yang kini mempekerjakan 10 karyawan, termasuk tiga penyandang disabilitas. Ia bahkan belajar bahasa isyarat agar bisa berkomunikasi dengan karyawan tunarungu dan selalu menggunakan pendekatan sabar dan empatik.


"Kalau bukan kita yang membuka ruang inklusi untuk teman difabel, siapa lagi?" ujar Ida.


Tidak hanya fokus pada bisnis, Ida juga aktif dalam kegiatan sosial. Sejak 2014, ia menjadi relawan dan kini menjabat sebagai Ketua Yayasan Sahabat Difabel di Semarang.


"Meski usaha saya sedang bagus, hidup ini terasa sepi. Asisten saya menyarankan mencari kegiatan sosial. Dari situlah saya mulai memberi pelatihan menjahit untuk para difabel," ujarnya.

Ia melatih keterampilan menjahit untuk tunarungu, daksa, down syndrome, hingga grahita, membuktikan bahwa disabilitas bukanlah halangan untuk berkarya dan mandiri.


"Yang saya ajar itu ada tunarungu, down syndrome, daksa, sampai grahita. Saya ajarkan semua yang saya bisa, dan ternyata itu yang bikin hati saya tenang," terangnya.


Kegiatan pelatihan ini menjadi bagian penting dari visi Ida menjadikan butik kebaya sebagai tempat pemberdayaan perempuan difabel.


Bahkan, banyak penyandang disabilitas dari luar kota seperti Solo dan Cilacap datang khusus untuk belajar di tempat Ida setelah mengetahui kisah inspiratifnya dari media.


"Sudah hampir 11 tahun saya mengabdi sebagai relawan. Kini, saya dipercaya menjabat sebagai Ketua Yayasan dan memberi kesempatan para disabilitas untuk bisa bekerja," katanya.


Ida biasa menerima pemesanan kebaya secara online, termasuk pengukuran jarak jauh yang dilakukan secara digital. Salah satu kisah membanggakan adalah ketika kebayanya terpilih untuk dipakai komunitas ibu-ibu Indonesia di Australia, mengalahkan perajin lain dari Solo.


Selain itu, klien tetap Ida termasuk kepala dinas, pejabat pemerintahan, dan tokoh publik. Salah satunya adalah Wali Kota Semarang saat ini, Agustin Wilujeng.


Kini, Ida tak hanya dikenal sebagai desainer lokal, tetapi juga sebagai pelopor inklusi sosial dalam industri kreatif di Jawa Tengah. Kebaya buatan Ida tidak hanya memancarkan keindahan, tetapi juga menyimpan kisah perjuangan dan harapan.


"Setiap kebaya punya cerita. Bagi saya, ini bukan sekadar usaha. Ini jalan hidup," tutup Ida.


Ida fokus pada pembuatan kebaya, gaun pesta, kemeja pria, dan busana lainnya. Produksinya sempat mencapai 90 potong per bulan, dengan omzet sekitar Rp50 juta.


"Sebelum COVID, bisa mencapai 90 potong per bulan, dengan omzet mencapai Rp50 juta," ujarnya.


Pandemi membuat segalanya jungkir balik. Dari 15 karyawan, hanya lima yang bertahan. Tapi Ida tak menyerah dan terus bangkit.


"Alhamdulillah kami dapat bantuan dari pemerintah. Usaha tetap jalan walau terseok," ucapnya.


Bagi Ida, menjahit adalah jalan hidup. Setiap benang yang ia tarik, setiap pola yang ia gambar, adalah bagian dari misi untuk memberdayakan.


“Difabel itu bisa mandiri. Bisa punya penghasilan. Asal diberi kesempatan,” ujarnya dengan mata berbinar.


Tak banyak yang tahu bahwa di balik selembar kebaya indah buatan Ida, ada kisah perjuangan panjang seorang perempuan yang memilih untuk melawan keterbatasan bukan dengan amarah, tetapi dengan keberanian dan ketekunan.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube