SEMARANG — Javas Adaby (13) dalang cilik asal Grabag Magelang tampak lincah, percaya diri dan tanpa grogi saat memainkan wayang kulit di panggung final tingkat Provinsi Jawa Tengah Festival Dalang Anak yang digelar di Kampung Budaya Universitas Negeri Semarang (Unnes) pada Minggu 5 Oktober 2025 malam.
Dengan cekatan, tangannya menggerakkan tokoh Krisna, Werkudara, dan Janaka untuk menghadapi tokoh antagonis Jaro Sando dalam lakon berjudul “Sirnaning Angkara Murka”.
Lakon ini menceritakan tentang upaya Jaro Sando yang hendak membunuh seratus ratu, namun berhasil digagalkan oleh para ksatria Pandawa. Cerita penuh makna tentang perjuangan melawan keserakahan itu dibawakan Javas dengan teknik sabetan wayang yang halus, kuat, dan terukur.
Bakat dalang yang dimiliki Javas ternyata tumbuh sejak duduk di bangku kelas 1 SD Negeri 01 Grabak. Kecintaannya pada dunia pedalangan bermula ketika ia menonton pertunjukan wayang di daerah Magelang. Sejak saat itu, Javas mantap menekuni seni pewayangan.
"Ini keinginan sendiri, bukan paksaan orang tua. Waktu lihat wayang langsung suka," ujar Javas kepada Diswayjateng.com sambil tersenyum.
Untuk menyalurkan minatnya, ia bergabung di Sanggar Podo Rasa di Salatiga sejak 2023. Awalnya ia berlatih seminggu sekali di bawah bimbingan almarhum Mbah Sarjono, seorang dalang senior yang dikenal telaten melatih anak-anak. Kini, setelah Mbah Sarjono wafat, latihan Javas banyak dilanjutkan bersama Mas Yudo, murid Mbah Sarjono, serta dilakukannya secara mandiri.
"Kalau dulu seminggu sekali berangkat latihan, sekarang Mas Yudo muridnya mbah Sarjono," tambahnya.
Meski usianya masih belia, Javas sudah menorehkan sejumlah prestasi dalam dunia pedalangan. Ia pernah meraih Juara I dalam ajang Festival Dalang Anak tingkat karesidenan pada 2023. Beberapa kali juga ia mengikuti kompetisi lain dengan hasil gemilang.
"Terakhir juara satu di 2023 kemarin di tingkat karesidenan," kata Javas dengan bangga.
Bakatnya makin terasah dengan pengalaman-pengalaman panggung. Setiap kali tampil, ia mengaku tidak merasa grogi. Sebaliknya, ia justru semakin bersemangat menunjukkan kemampuan terbaik.
Pada Festival Dalang Anak tingkat Jawa Tengah kali ini, Javas berhasil melangkah ke babak final setelah bersaing ketat dengan tiga dalang cilik lainnya dari Karisidenan Kedu.
"Belum tahu, tapi optimis masuk ke Nasional,” jawabnya singkat.
Festival Dalang Anak tingkat provinsi ini merupakan agenda tahunan yang digelar Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Jawa Tengah yang bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Forum UKM Kesenian Jawa Universitas Negeri Semarang (UNNES) guna menjaga tradisi sekaligus mencetak generasi baru dalang muda.
Widodo Broto Sejati, Ketua Harian Pepadi Jawa Tengah, menyampaikan bahwa penyelenggaraan festival kali ini dilakukan dengan semangat gotong-royong.
“Banyak tokoh masyarakat yang ikut peduli, karena regenerasi dalang itu sangat penting. Ajang ini juga menjadi wadah seleksi menuju tingkat nasional,” ujarnya.
Festival Dalang Anak Jawa Tengah tahun ini diikuti peserta hasil seleksi dari enam koordinator wilayah (korwil) atau karesidenan yang meliputi Semarang, Pati, Pekalongan, Solo Raya, Banyumas, dan Kedu. Setiap korwil mengirimkan dua peserta untuk dua kategori berbeda:
Kategori A: Usia 8 hingga sebelum 12 tahun
Kategori B: Usia 12 hingga sebelum 16 tahun
Pemenang dari festival tingkat provinsi ini nantinya akan mewakili Jawa Tengah pada Festival Dalang Anak tingkat Nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 3–5 November 2020.
Menurut Widodo, penilaian dalam festival ini tetap mengacu pada kaidah seni pedalangan. Ada empat aspek utama yang menjadi tolok ukur yakni catur atau dialog dan monolog seorang dalang, sabet merupakan keterampilan menggerakkan wayang, mulai dari mencabut, memainkan, hingga menancapkannya, iringan kualitas musikal baik dari suara dalang maupun pengiring karawitan dan lakon penggarapan cerita dalam durasi 40 menit.
“Empat kriteria ini merupakan fondasi yang wajib dikuasai oleh dalang muda, karena di situlah letak nilai seni pedalangan,” jelasnya.
Fenomena meningkatnya minat anak-anak untuk belajar pedalangan menjadi harapan baru. Widodo menuturkan, di beberapa daerah peserta festival bisa mencapai puluhan.
"Di Pati misalnya, sampai larut malam masih banyak yang tampil. Itu menandakan kuantitas anak-anak yang ingin menekuni dunia pedalangan semakin banyak," katanya.
Namun, ia juga menggarisbawahi bahwa ada wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih, seperti Korwil Pekalongan, yang jumlah dalang anaknya masih relatif sedikit dibandingkan daerah lain.
Sebagian besar peserta belajar pedalangan di sanggar atau melalui guru privat. Ada juga yang awalnya mengenal wayang dari media digital seperti YouTube, lalu melanjutkan belajar secara serius melalui guru atau sanggar.
Selain melalui sanggar, jalur pendidikan formal juga turut berperan. Beberapa sekolah dan perguruan tinggi seperti SMK Negeri 8 Surakarta (dulu SMKI), ISI Surakarta, ISI Yogyakarta, hingga UNNES menjadi pusat pengembangan ilmu pedalangan.
Widodo juga menekankan bahwa dalang tidak hanya berperan sebagai penghibur, tetapi juga sebagai teladan.
“Nilai-nilai luhur bangsa sejak dahulu tersimpan dalam seni pedalangan. Dalang itu posisinya seperti guru bangsa. Maka, dalang harus mampu menjadi contoh, tidak hanya di panggung, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari,” pesannya.