SEMARANG — Rintik hujan yang mengguyur kawasan Alun-Alun Semarang pada Jumat 24 Oktober 2025 sore tak menyurutkan langkah warga untuk mengikuti prosesi Ruwatan Bumi, Tanah, dan Air.
Meski pakaian basah dan payung jarang terlihat, semangat gotong royong dan rasa syukur warga justru terasa menghangatkan suasana di tengah gerimis.
Tiga gunungan besar berisi hasil bumi diarak mengelilingi Alun-Alun Semarang yang berseberangan dengan Masjid Agung Kauman.
Iringan musik gamelan dan tabuhan kendang berpadu dengan suara sinden Jawa, menciptakan harmoni antara alam, budaya, dan manusia.
Di antara barisan pengarak, tampak warga mengenakan pakaian khas Jawa. Ada yang memakai beskap hitam dan blangkon, ada pula yang tampil gagah dengan pakaian prajurit berwarna merah, lengkap dengan ikat kepala. Semua menyatu dalam irama langkah yang pelan namun penuh makna.
“Kalau hujan kecil begini, tidak masalah. Ini malah pertanda baik. Air ikut membersihkan,” ujar Ari Wibowo dari komunitas Permadani Kota Semarang, sambil mengelap beskapnya yang lembap karena gerimis.
Menurut Ari, ruwatan bumi bukan sekadar ritual tahunan. Lebih dari itu, prosesi ini menjadi simbol pengingat akan akar budaya Nusantara yang menjunjung keseimbangan alam dan kehidupan.
“Dulu bumi Nusantara itu gemah ripah loh jinawi. Kita ingin mengembalikan semangat itu tanah yang subur, air yang bersih, dan masyarakat yang guyub,” jelasnya.
Tiga gunungan hasil bumi yang diarak masing-masing memiliki makna mendalam tentang siklus kehidupan manusia dan alam.
Gunungan Pala Kependem, berisi hasil bumi yang tumbuh di dalam tanah seperti singkong, ubi, dan talas. Ini melambangkan kekuatan tersembunyi dan kesabaran dalam menumbuhkan kebaikan.
Selain itu gunungan Pala Gumantung dihiasi labu, kacang panjang, dan pare yang bergelantungan. Simbol kehidupan yang tumbuh, merambat, dan saling menopang satu sama lain.
Tak luput dengan gunungan Pala Kesandung berisi panenan yang menjalar di tanah seperti ubi jalar dan kacang tanah. Maknanya adalah kerja keras, kerendahan hati, dan kesetiaan pada tanah tempat berpijak.
“Setiap bentuknya ada makna. Semua diatur, tidak asal tumpuk hasil panen,” lanjut Ari dengan senyum.
Di antara tumpukan hasil bumi itu juga terselip sego kethek dan nasi gudangan, yakni kuliner tradisional yang selalu hadir dalam ruwatan.
“Gudangan itu lambang hidup yang terus berkembang. Ada kecambah dan daun-daunan muda, artinya tumbuh,” tambahnya.
Di tengah guyuran hujan yang mulai deras, warga tetap bersemangat. Amin, warga Gunungpati, ikut memanggul salah satu gunungan sayur.
“Hujan-hujan gini ya tetap semangat. Ini buat kebaikan bersama. Sebelumnya juga dibacain doa dulu,” katanya sambil mengusap peluh yang bercampur air hujan.
Prosesi ruwatan ditutup dengan tradisi “rebutan gunungan” momen yang paling ditunggu warga. Begitu doa penutup selesai, masyarakat berbondong-bondong mengambil hasil bumi yang ada di gunungan.
Di antara mereka, tampak Nanik, warga Pasar Kobong, tersenyum sambil menggenggam nasi gudangan yang dibungkus daun jati.
“Biar dapat berkah. Katanya kalau dapat bagian dari gunungan, rezekinya lancar. Tadi juga sudah didoakan,” ujarnya sembari memegang beberapa tomat dan jagung yang berhasil didapat.
Di bawah langit mendung yang perlahan cerah, aroma tanah basah bercampur dengan wangi daun jati dan sayuran segar. Suasana itu menghadirkan rasa damai yang sulit dijelaskan.
Dalam rintik hujan yang datang dan pergi, Ruwatan Bumi Semarang menjadi pengingat bahwa manusia dan alam selalu saling meruwat atau membersihkan, memberi, dan memelihara satu sama lain.
"Sebagaimana pesan para leluhur Jawa, “urip iku urup” yang arrinya hidup harus menyala, memberi manfaat bagi sesama dan alam semesta," ujar Ari.