SEMARANG — Suara ketukan palu dan tawa anak-anak Pramuka terdengar riuh di gang sempit Jalan Rejoleksono, Kelurahan Mlatiharjo, Semarang Timur.
Hari itu, bukan sekadar kegiatan sosial biasa melainkan wujud nyata gotong royong yang mengubah hidup dua keluarga kurang mampu.
Di sudut jalan kecil itu, berdiri rumah sederhana milik Lestari, seorang pedagang kecil yang sehari-hari berjuang menafkahi keluarganya.
Rumah berukuran mungil yang dulu nyaris roboh kini tampak kokoh dan terang. Dindingnya dicat baru, atapnya tak lagi bocor, dan lantainya kini layak dipijak.
“Alhamdulillah, rasanya seperti mimpi. Rumah ini dulu rusak, tapi sekarang sudah bagus. Terima kasih untuk Pramuka dan semua yang membantu,” tutur Lestari, matanya berkaca-kaca.
Rumah Lestari merupakan satu dari dua rumah tidak layak huni (RTLH) di Semarang Timur yang direnovasi melalui program hibah Pramuka Kota Semarang.
Satu rumah lainnya milik Joko Suroso di Jalan Cimandiri X, tak jauh dari lokasi tersebut.
Ketua Kwarran Semarang Timur Haidi Hermawan, S.Pd menjelaskan, biaya renovasi rumah Lestari mencapai Rp80 juta, terdiri dari hibah Pramuka sebesar Rp25 juta dan sisanya hasil gotong royong anggota Pramuka, keluarga, serta warga sekitar.
Sedangkan rumah Joko Suroso direnovasi dengan total biaya Rp32 juta, juga berkat gabungan hibah dan swadaya masyarakat.
Bantuan Tumbuh Lewat Kepedulian
Wakil Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat Kwarcab Kota Semarang Putut Cahyo Nugroho, S.Sos, menyebut, Kwarcab mendapat amanah untuk merenovasi 29 rumah tak layak huni di Kota Semarang.
“Bantuan resmi dari Pramuka hanya Rp25 juta per rumah, tapi karena semangat gotong royong, nilainya bisa berkembang jauh lebih besar. Ini bukti bahwa kepedulian bisa melipatgandakan manfaat,” ujarnya.
Putut menambahkan, kolaborasi ini juga melibatkan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) yang turut membantu menyediakan fasilitas MCK agar warga bisa tinggal lebih sehat dan nyaman.
Kepala Disperkim Kota Semarang Yudi Wibowo, yang hadir mewakili Wali Kota Agustina Wilujeng, menyampaikan apresiasi tinggi untuk gerakan Pramuka.
“Rumah Lestari ini awalnya satu bangunan kecil yang dihuni tiga keluarga. Alhamdulillah, lewat Pramuka dan warga, rumah ini sekarang layak huni,” katanya.
Wajah Baru, Harapan Baru
Camat Semarang Timur Akbar Ali tak menutupi rasa bangganya.
“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Pramuka yang sudah membantu warga kami. Semoga rumah ini membawa kebahagiaan dan semangat baru bagi penghuninya,” ujarnya.
Bagi warga seperti Sugeng Prayitno (55), buruh rosok yang tinggal di rumah 2x8 meter, bantuan itu terasa seperti anugerah besar.
“Senang sekali. Dulu bocor dan becek, sekarang bisa tidur nyenyak,” katanya sambil tersenyum.
Kini, di antara gang-gang sempit Mlatiharjo, berdiri dua rumah sederhana dengan cat baru yang seolah memantulkan semangat gotong royong.
Bukan hanya tembok dan atap yang diperbaiki tapi juga harapan dan martabat penghuninya.