SEMARANG — Warga Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Karangroto RW 12 Kecamatan Genuk Kota Semarang, menyampaikan sejumlah keluhan kepada Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti. Keluhan itu diungkapkan saat kunjungan lapangan yang dilakukan, Rabu 8 Oktober 2025 lalu.
Keluhan warga tersebut terutama terkait minimnya ruang terbuka untuk anak-anak, jauhnya akses pendidikan PAUD, hingga kerawanan banjir di kawasan rusun yang berlokasi di wilayah rendah. Selain itu, persoalan kebijakan pembayaran listrik dan keterbatasan dana pemeliharaan bangunan juga menjadi perhatian warga.
Menurut warga, anak-anak yang tinggal di Rusunawa Karangroto tidak memiliki area bermain yang layak karena seluruh area di sekitar rusun sudah padat oleh bangunan. Selain itu, fasilitas pendidikan anak usia dini (PAUD) yang berjarak cukup jauh membuat para orang tua kesulitan mengantarkan anak mereka bersekolah.
“Anak-anak di sini tidak punya tempat bermain, jadi sering main di lorong atau dekat parkiran. Sekolah PAUD juga jauh, harus ke luar rusun,” ujar salah Sri satu warga saat berdialog dengan Wali Kota.
Menanggapi keluhan tersebut, Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan bahwa persoalan yang dihadapi warga rusunawa tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim), tetapi juga membutuhkan keterlibatan lintas dinas.
“Ini tidak hanya urusannya Perkim. Ada DLH, ada DPU, ada Dinsos yang kita minta untuk bareng-bareng. Supaya kalau kita temukan di lapangan, bisa langsung diselesaikan. Nanti kita lihat apa yang bisa kita lakukan,” jelas Agustina.
Ia menyebut, kunjungan tersebut dilakukan untuk menyerap aspirasi warga secara langsung sekaligus memberi motivasi kepada dinas terkait agar lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat di kawasan rusunawa.
“Ya, melihat dari dekat saja. Sambil menyemangati teman-teman dinas ini supaya tambah semangat memperhatikan warganya, terutama yang tinggal di rusun,” kata Agustina.
Dari laporan pihak pengelola Rusunawa, diketahui bahwa Rusunawa Karangroto Kota Lama sudah beroperasi sejak tahun 1996 dengan total 104 unit, terdiri dari dua lantai (52 unit di bawah dan 52 unit di atas). Seiring usia bangunan yang hampir tiga dekade, sejumlah kerusakan pun mulai bermunculan.
Kerusakan yang paling banyak dilaporkan antara lain kusen dan atap yang keropos, lantai bawah yang kerap tergenang air, serta saluran air di depan rusun yang sudah lebih tinggi dari permukaan tanah bangunan.
“Ya katanya kemarin mau ada renovasi pintu kamar mandi. Kan enggak ada pintunya, cuma ini berhenti dulu. Semoga segera mungkin bisa dilanjutkan bertahap,” tutur Dwi, warga yang sudah tinggal 13 tahun di rusunawa tersebut.
Kendala utama dalam perbaikan fasilitas Rusunawa Karangroto adalah terbatasnya anggaran pemeliharaan. Berdasarkan data Dinas Permukiman, dari total 12 wilayah sebaran rusun dengan 48 bangunan dan 2.832 unit, hanya tersedia anggaran Rp1 miliar untuk pemeliharaan. Sementara total kerusakan yang sudah tercatat mencapai Rp7,2 miliar.
Pendapatan dari retribusi rusunawa per tahun juga hanya sekitar Rp4,9 miliar, sehingga pemerintah perlu melakukan prioritas perbaikan bertahap agar dana bisa dimanfaatkan secara efektif.
Meski menghadapi berbagai kendala, warga Rusunawa Karangroto mengapresiasi program bantuan dana Rp25 juta per RT yang digagas oleh Pemerintah Kota Semarang. Program ini dinilai mampu menumbuhkan semangat gotong royong masyarakat dalam memperbaiki dan menjaga lingkungan sekitar.
“Apa yang disampaikan warga semoga bisa direspon Pemerintah Kota, khususnya Ibu Agustina. Kami juga sangat menyengkuyung adanya dana Rp25.000.000 per RT,” ujar Tri, Ketua RW 12.
“Kampung kami jadi lebih bersih, warga kami juga lebih semangat menjaga lingkungan. Semoga program ini terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya,” tandasnya.