Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Pemkot dan Pepadi Kota Semarang Dorong Regenerasi Dalang Muda, Hidupkan Wayang Gagrak Semarang

Pemkot Semarang dan Pepadi Kota Semarang dorong regenerasi dalang muda dengan mengembalikan gagrak Semarang. (Wahyu Sulistiyawan)

SEMARANG — Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) terus mendorong pelestarian seni pedalangan dengan menghadirkan panggung bagi para dalang cilik berprestasi.


Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kota Semarang Sarosa mengatakan, pagelaran ini sekaligus menjadi ajang pentas bagi para juara nasional lomba dalang tingkat nasional yang digelar di Jakarta pada 5 November lalu.


“Pemerintah Kota Semarang mendukung penuh kegiatan ini. Para dalang kecil yang tampil hari ini adalah juara nasional, sehingga semakin mengharumkan nama Kota Semarang di bidang seni pedalangan,” ujarnya dalam Pagelaran Wayang Kulit di Kampung Budaya Unnes, Sabtu 15 November 2025 siang.


Ia menegaskan bahwa pagelaran tersebut merupakan bagian dari upaya Pemkot Semarang dalam melestarikan wayang kulit sekaligus menarik minat generasi muda. Menurutnya, pemajuan kebudayaan harus ditempuh melalui empat strategi: perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan.


Sarosa juga mendorong inovasi pertunjukan tanpa meninggalkan pakem pedalangan. Format pertunjukan singkat seperti dalam lomba, dengan durasi sekitar 40 menit, dinilai sebagai alternatif untuk menarik minat penonton muda sebelum mengenal pagelaran tradisional semalam suntuk.


“Anak muda sekarang terbiasa dengan budaya populer seperti drama Korea. Karena itu kami harus kreatif mendekatkan wayang kepada mereka,” tuturnya.


Dalam kesempatan yang sama, Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kota Semarang Anang Budi Utomo, menegaskan komitmen organisasinya dalam menggali kembali Wayang Gagrak Semarang, gaya wayang khas lokal yang selama ini kurang mendapatkan pembinaan.

“Semarang ini punya model wayang sendiri. Selama ini kita memakai gagrak Surakarta. Ke depan, ketika dunia wayang sudah stabil, kita akan fokus menggali gagrak Kota Semarang karena daerah lain tidak ada yang mengopeni selain Semarang,” ujarnya.


Anang membuka peluang kolaborasi Wayang Gagrak Semarang dengan kesenian khas kota lainnya, seperti Gambang Semarang, serta memperkuat pembinaan generasi muda melalui sanggar-sanggar seni.


Ia menilai dunia pedalangan mulai bangkit setelah terpuruk selama tiga hingga empat tahun akibat pandemi. Pada periode 2025–2027, Anang optimistis aktivitas seni wayang akan kembali semarak.


Dalam rangka peringatan Hari Wayang Nasional ke-7, Pepadi Kota Semarang menyelenggarakan dua rangkaian kegiatan, yakni Festival Wayang di Simpang Lima pada 7–8 November dan Pagelaran Wayang Kulit di Kampung Budaya Unnes pada 15 November, bekerja sama dengan Pepadi Jawa Tengah.


Pagelaran ini juga menjadi ajang apresiasi bagi para juara nasional Festival Dalang Anak, yaitu Danendra Dananjaya Djuanda (lakon Gathotkaca Jedhi), Respati Listyatmoko (Praba Kusuma Labuh), Hafist Yusuf Muhamad (Sesaji Raja Surya), serta dalang Gunarto Gunotalijendro (lakon Banjaran Bhatara Wisnu).


Pepadi turut mendorong inovasi seni wayang, di antaranya penggunaan e-gamelan karya seniman Odinus dan pengembangan format pertunjukan padatan atau pertunjukan berdurasi ringkas. Namun Anang menegaskan bahwa inovasi tidak boleh menghilangkan pakem wayang.


“Cerita padatan jangan lepas dari induknya. Ini untuk menarik generasi muda tapi tetap menjaga marwah wayang,” kata Anang. (Adv)

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube