Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Pameran Photovoice di Kota Lama Semarang: Suara Rindu dari Balik Jeruji, Tersampaikan Lewat Lensa

Sebanyak 50 foto yang menceritakan rindu dari balik jeruji merupakan karya dari warga binaan Lapas Perempuan Kelas II A Semarang dan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kutoarjo. (Wahyu Sulistiyawan)

SEMARANG — Melalui pameran foto bertajuk Photovoice Mendarah dan Empathy, lebih dari 50 karya visual dari narapidana perempuan dan anak berhadapan dengan hukum (ABH) menyentuh hati para pengunjung.


Salah satunya adalah Syifa Ayyada Jannati, pengunjung asal Semarang, yang matanya tak lepas menatap sebuah foto di antara deretan gambar yang tertempel rapi di papan kayu putih. 


Sorotan cahaya memantulkan bayangan lembut pada potret seorang ibu menggendong anaknya dengan senyum yang samar, seperti menyimpan luka yang dalam.


"Foto ini sangat kena banget di aku, seharusnya ibu dan anak bisa serdekat itu, tapi dengan berbagai hal yang harus terjadi akhirnya mereka nggak bisa dekat lagi," ujar Syifa pelan, Jumat 18 Juli 2025.


Puluhan foto yang dipamerkan di Rumah Po Han kawasan Kota Lama itu bukan hasil jepretan fotografer profesional, melainkan karya seorang warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Lapas Perempuan Kelas IIA Semarang, yang merekam kisahnya sendiri melalui metode Photovoice program yang memberi ruang ekspresi melalui visual dan narasi.


"Maafkan Mama, Nak. Seharusnya Mama bisa menemani kamu tumbuh." Kalimat sederhana itu ditulis dari balik jeruji, lahir dari kerinduan yang tak tersampaikan oleh seorang ibu kepada anaknya.


Tak hanya dari lapas perempuan, karya juga datang dari Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kutoarjo. Foto-foto menggambarkan ruang sempit, bayangan besi jeruji, dan ekspresi anak-anak yang tampak lebih tua dari usianya.


"Sebagian besar anak-anak ABH ini merasa nggak diperhatikan orang tua, akhirnya mereka mencari ruang yang aman. Sayangnya, teman yang mereka temui bukan teman yang baik," ujar Syifa sambil menahan suara gemetar.


Ia mengaku, pameran ini menyadarkannya tentang pentingnya kesiapan mental dan material sebelum memutuskan memiliki anak.


"Kalau belum siap punya anak, jangan dulu. Karena anak bisa tenggelam dalam kehidupan gelap kalau orang tuanya belum siap," tambahnya.

Pameran ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Anak Nasional 2025 bertajuk T(j)ilik Lihat, Dengar, Temui Hak Anak yang digelar oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah bersama sejumlah mitra inklusi.


Direktur Eksekutif Daerah PKBI Jateng, Elisabeth S.A. Widyastuti menegaskan, pameran ini bukan hanya soal visual.


"Yang penting bukan fotonya, tetapi bagaimana mereka menarasikan kegelisahan yang mereka alami," ujar Elisabeth.


"Lewat foto, mereka menyuarakan kerinduan, penyesalan, dan harapan untuk memulai ulang," sambungnya.


Lebih dari sekadar pameran, kegiatan ini juga menyertakan talk show, diskusi buku puisi, dan dialog film bertema hak anak. Selama tiga hari, Rumah Pohan yang dulunya bangunan kolonial kini menjelma jadi ruang yang menyatukan seni, empati, dan advokasi.


Menjelang sore, suasana pameran semakin ramai, beberapa pengunjung tampak duduk bersandar pada kursi kayu, memandangi foto dengan ekspresi serius. Ada yang membaca narasi dengan mata sembab, ada pula yang mengabadikan gambar untuk dibagikan di media sosial.


Di tengah keramaian wisata Kota Lama Semarang yang biasanya riuh oleh tawa dan deru langkah kaki, di sudut Rumah Pohan, keheningan menjadi medium paling nyaring.


"Pameran ini bukan sekadar galeri. Ia adalah ruang yang membisikkan pesan: setiap ibu dan anak di balik jeruji tetap manusia, dengan rindu yang tak pernah selesai,"tambahnya.


Melalui lensa dan kata, suara mereka yang selama ini tertutup tembok tebal penjara dan stigma sosial—akhirnya terdengar. Dan mungkin, untuk pertama kalinya, kita benar-benar mendengarkan.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube