SALATIGA — Mengaku kecewa dengan Rektorat, mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga melanjutkan aksi mereka dengan bakar ban di dalam Kampus, Kamis 10 Juli 2025.
Aksi bakar ban ini sebagai simbol kemarahan mahasiswa. Tak hanya membakar ban, mahasiswa juga mendirikan dua tenda simbol keprihatinan untuk menggambarkan suasana kebatinan mereka.
Senat Mahasiswa Universitas (SMU) memberikan waktu selama tiga hari kepada pimpinan Yayasan dan Rektorat untuk mengambil keputusan yang berpihak pada perjuangan mahasiswa.
"Kami tidak mau lagi menunggu terlalu lama, UKSW butuh perbaikan segera karena kalau dibiarkan terlalu lama akan semakin melenceng dari jiwa Satya Wacana," kata Ketua SMU UKSW Tri Aprivander Waruwu, ditengah aksinya, Kamis 10 Juli 2025.
Kepada wartawan, Aprivander mengaku aksi ban bakar ban dilakukan mahasiswa wujud merespon konflik yang terjadi di kampus tersebut.
"Terus terang hari ini kami kecewa dan marah karena berbagai aksi dan upaya untuk menemui pimpinan UKSW tidak membuah hasil yang maksimal," ujarnya.
Sebagai catatan perjalanan demontrasi mahasiswa UKSW, dimulai dari 2 Mei 2025.
Saat itu, para mahasiswa sempat melakukan diskusi sebanyak dua kali dengan pihak Rektorat namun pertemuan tidak membuahkan solusi dan hasil.
Bahkan, ia mengaku tidak ada keputusan apapun dari pertemuan tersebut.
"Hingga saat ini situasi UKSW tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik," tandasnya.
Aksi mahasiswa dilanjutkan dengan "Mosi Tidak Percaya" kepada Rektor UKSW Prof. Intyas Utami. Dan aksi berlanjut dengan gerakan pencabutan mandat.
"Sikap mahasiswa yang menyatakan mosi tak percaya kepada Rektor UKSW Prof. Intyas Utami telah berubah menjadi gerakan pencabutan mandat," ungkapnya.
Atas nama mahasiswa, Aprivander mendesak kepada pimpinan universitas agar mencabut mandat rektor yang diberikan kepada Prof. Intyas Utama sebagai Rektor UKSW.
Seperti diketahui, konflik di UKSW berawal dari pencopotan dekan Fakultas Hukum dan jajarannya.