Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Mbah Sardjono, Pengiat Budaya Peraih Pin Emas Kemendikbudristek RI itu Berpulang di Usia 83 Tahun

PENGHARGAAN : Mbah Sardjono
tokoh seniman sekaligus pengiat kebudayaan Salatiga semasa hidupnya saat menerima penghargaan dari Kemenristekdikti RI. Foto : ist/Erna Yunus Basri

SALATIGA — Masyarakat Kota Salatiga dan pelaku kesenian serta kebudayaan berduka. Mbah Sardjono, tokoh seniman sekaligus pengiat kebudayaan Salatiga berpulang, pada Sabtu 9 Agustus 2025. 


Mbah Sardjono sebelumnya sempat sakit. Mba Sardjono meninggal dunia dalam usia 83 tahun.


Sosok sabar peraih penghargaan Pin Emas dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbudristek) RI itu dihantar ratusan pelayat ke tempat peristirahatannya terakhir. 


Mbah Sardjono dikenal sebagai salah satu tokoh Salatiga yang berjasa melestarikan kesenian di Tertoleransi di Indonesia ini. 


Sejumlah tokoh masyarakat, Forkopimda hingga pelaku budaya berbagai daerah melayat di rumah duka. 


Tak terkecuali Ketua DPRD Salatiga, Dance Ishak palit. Bahkan, Dance memiliki kenangan manis saat berkegiatan kesenian di Komplek Gedung DPRD Salatiga yang dihadiri langsung Mbah Sardjono, awal tahun 2025 ini. 


"Mbah Sardjono adalah sosok inspirator khususnya yang berhubungan dengan budaya," kata Dance, saat melayat di rumah duka. 


Khususnya dalam hal 'pedalangan' (Dalang), Mbah Sardjono selama ini telah mendidik dan mencetak anak-anak untuk menekuni seni dalang, karawitan hingga sinden. 


Melalui tangan dinginnya, Mbah Sardjono melahirkan ratusan penerus kebudayaan dan seni dalang, karawitan hingga sinden di Salatiga dan sekitarnya. 

"Selamat jalan Mbah Sardjono," ucap Dance. 


Hal senada disampaikan tokoh budaya, Wido Muwardi. Kepada Wartawa Disway Jateng, Wido Muwardi mengaku sebagai salah satu murid dari almarhum Mbah Sardjono. 

"Mbah Sardjono sosok seorang seniman tulen, seorang budayawan tulen. Keahlian beliau adalah di bidang seni karawitan dan pedalangan. Dalam mengajar karawitan punya ilmu yang mumpuni, punya gaya, punya cara yang beliau miliki," ungkap Wido Muwardi. 


Dan dalam mengajarkan pun, Mbah Sarjono di kenal mudah diterima dan dipahami murid-muridnya.  


"Salah satu muridnya Mbah Sardjono adalah saya. Metika Mbah Sardjono mengajar ekstra karawitan di Institut Agama Islam Salatiga (IAIN Salatiga), selamat kira-kira 4-5 tahun Mbah Sardjono mengajar karawitan untuk mahasiswa dan saya ketika ada kelompok dosen yang berlatih saya adalah salah satu muridnya," akunya dengan menyebut dalam Sidang Rakyat Paripurna Peringatan HUT ke -1275 Salatiga lalu, Mbah Sardjono mendapatkan penghargaan dari DPRD Salatiga.


"Saya memegang 'Barung'. Saya dibimbing dengan sabar, saya dibimbing dengan diberitahukan cara-cara memukul, menabuh dengan baik dan benar. Dan saya mudah memahami, punya keahlian di dalam Padalarang," lanjut pensiunan ASN Salatiga itu. 


Mbah Sardjono jugalah yang mendirikan Sanggar Podo Roso dengan melatih anak-anak mulai dari TK-SD sampai dengan mahasiswa. 


Dan 90% lebih murid Mbah Sardjono, berhasil menjadi Dalang cilik, Dalang temaja yang mumpuni dalam hal suara, mumpuni memainkan wayang dan dalam bahasa Karawitan. 


"Salah satu peninggalan almarhum Mbah Sardjono salah sebuah tembang sebuah karawitan yang berjudul Salatiga Hati Beriman. Tentang ini selalu dimainkan ketika acara Kamis Legi (Hari Lahir) Ketua DPRD Salatiga Dance Ishak Palit," imbuhnya. 


Apa yang menjadi ilmu Mbah Sardjono dikenang dan akan selalu diteruskan kepada generasi muda. Khususnya dalam pelestarian budaya, termasuk pendidikan budi pekerti melalui dunia pewayangan yang indah. 


"Selamat jalan Mbah Sardjono, semoga damai, semoga Tuhan menempatkan Mbah Sardjono ditempatkan disisi-Nya dengan sebaik-baiknya," ucapnya.