SEMARANG — Di tengah maraknya praktik pengoplosan beras di pasaran, masyarakat diimbau lebih jeli dalam membedakan antara beras premium asli dan beras medium yang dikemas seolah-olah premium.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Kota Semarang, Endang Sarwiningsih Setyawulan, mengungkapkan pentingnya edukasi konsumen agar tidak mengalami kerugian ekonomi saat membeli kebutuhan pokok tersebut.
"Kalau dampak kesehatan enggak ada sih, jadi dampaknya cuman kantongnya saja. Masyarakat bisa rugi karena membayar harga premium tapi mendapat kualitas medium," ujar Endang saat dihubungi diswayjateng.com, Kamis 18 Juli 2025.
Meski begitu, ia juga meluruskan bahwa istilah beras oplosan bukan berarti dicampur dengan beras berkualitas buruk atau jenis lain.
"Beras oplosan itu sebenarnya dari jenis yang sama, misalnya C4 dengan C4, tapi ada campuran beras yang utuh dan yang patah. Jadi bukan oplosan yang berbahaya. Tapi memang bisa mengecoh konsumen dari sisi kualitas," tegasnya.
Menurutny, perbedaan paling mencolok antara beras premium dan medium ada pada tingkat patahan butiran beras. Semakin banyak butiran yang patah, semakin rendah pula kualitasnya.
"Kalau yang medium itu patahannya sekitar 25 persen, sedangkan yang premium hanya 14 persen. Jadi kalau fisik berasnya banyak yang patah, itu tandanya medium," terangnya.
Meski beras oplosan tidak membahayakan dari sisi keamanan pangan, masyarakat tetap perlu waspada agar tidak tertipu.
Dishanpan Kota Semarang pun memberikan sejumlah tips praktis untuk membedakan beras premium oplosan atau tidak.
"Kalau beli beras curah, coba perhatikan bentuk fisiknya. Premium itu bijiannya utuh, dari ujung ke ujung. Tapi kalau banyak yang patah, itu pasti bukan premium," katanya.
Untuk beras kemasan, Endang menyarankan agar konsumen membaca label kemasan dan melakukan pengecekan sederhana dengan mengocok bungkusnya.
"Kalau dari plastiknya bisa dikocok-kocok, dan yang turun ke bawah itu banyak yang patah, berarti itu beras medium. Meskipun tertulis premium, bisa jadi isinya beras medium," terang Endang.
Endang menekankan bahwa tidak semua beras dengan harga tinggi menjamin kualitas premium. Karena itu, penting bagi konsumen untuk lebih kritis dan tidak sekadar percaya pada kemasan atau label harga.
"Jangan hanya tergiur harga. Lihat fisiknya, cek kadar patahannya, dan pilih beras dari penjual terpercaya," pungkasnya.