UNGARAN — Liburan sekolah umumnya diisi dengan berlibur ke tempat wisata atau menghabiskan waktu di rumah. Namun, berbeda dengan keluarga Diana asal Kota Semarang yang memilih mendaki gunung bersama ketiga anaknya, termasuk dua balita: Anjani Rengganis (6) dan Kerinci Maharani (5).
Didampingi kakaknya, Rinjani Respati (11), ketiganya mendaki Gunung Ungaran via jalur Perantunan, Kelurahan Gintungan, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Pendakian dilakukan dengan sistem tektok, yakni naik dan turun gunung dalam satu hari tanpa menginap.
Menurut Diana, pendakian ini bukan sekadar kegiatan liburan biasa. "Tektok ini untuk pemanasan pendakian dua gunung besar di Merbabu dan Lawu selama masa liburan sekolah ini," ujarnya saat ditemui usai pendakian, Sabtu 28 Juni 2025.
Diana menambahkan, pendakian gunung sudah menjadi agenda wajib keluarga setiap masa liburan sekolah. Ia ingin anak-anaknya tumbuh dekat dengan alam dan tak terlalu banyak bergantung pada gadget. "Setiap liburan sekolah kita memang wajib naik gunung, agar anak bisa bersatu dengan alam tidak terlalu banyak aktivitas dengan gadget," tuturnya.
Mereka memulai pendakian sekitar pukul 08.00 WIB dan berhasil mencapai puncak Bondolan (1.885 mdpl) sekitar pukul 11.00 WIB. Meskipun Gunung Ungaran memiliki tiga puncak utama Bondolan, Botak (2.050 mdpl), dan Banteng Rider (2.050 mdpl) kali ini mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan ke puncak lainnya karena waktu sudah siang.
"Kita cukup di puncak Bondolan, karena sudah terlalu siang," kata Diana.
Menurutnya, jalur pendakian via Perantunan cukup ramah anak. Selain medan yang relatif landai, beberapa tanjakan juga telah dilengkapi tangga dari potongan kayu. Hal ini tentu memberikan kenyamanan dan keamanan lebih bagi pendaki pemula, termasuk anak-anak.
Tak hanya sekadar naik gunung, Diana dan suaminya memang telah merancang tahapan pendakian berdasarkan usia dan kemampuan anak. "Semua anak kami sudah mendaki sejak umur 3 tahun. Dari mulai gunung dengan ketinggian 1.000 mdpl, lalu bertahap ke 2.000 mdpl dan 3.000 mdpl," jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa sistem tektok dipilih karena menuntut stamina yang lebih tinggi, sebagai latihan sebelum mendaki gunung besar. "Gunung besar pastinya lebih banyak mengeluarkan tenaga, jadi kita pilih tektok sama-sama banyak mengeluarkan tenaga dibandingkan bermalam di atas gunung,” ujarnya.
Menariknya, salah satu anak, Anjani, dengan polos mengungkapkan kesenangannya mendaki via Perantunan. "Enak, tidak capek karena tidak banyak naiknya," ujarnya sambil tersenyum malu.
Tak main-main, Anjani bahkan sudah mendaki Gunung Andong dua kali dan Gunung Prau sebelumnya. "Besok mau ke Merbabu sama mba," tambahnya.
Jalur Perantunan sendiri kerap menjadi pilihan favorit karena selain ramah anak, juga lebih murah. Hanya dengan tarif Rp20 ribu per orang dewasa sudah termasuk parkir sepeda motor—pendaki sudah bisa menikmati keindahan alam Gunung Ungaran.
Dengan langkah kecil dan semangat besar, keluarga ini membuktikan bahwa mencintai alam bisa dimulai sejak usia dini, selama dilakukan dengan persiapan dan pendampingan yang tepat.