SALATIGA — Korban Koperasi Bahana Lintas Nusantara (BLN) mengaku menolak uang yang mereka setorkan ditukar dengan token digital/ koin.
"Setor uang, kembali uang bukan koin. Kami menolak apa pun alasan Nicho mau mengembalikan uang kami harus RAT-RAT-an," teriak sejumlah anggota Koperasi BLN yang menggelar demo di belakang rumah Bos BLN, Nicholas Nyoto Prasetyo (Nicho) di Jalan Merdeka Selatan, Salatiga, Rabu 2 Juli 2025.
Datang dari berbagai daerah di Indonesia, para korban Koperasi BLN ini mendesak Nicho mencair uang mereka minimal modal awal tidak ditukar dalam bentuk apapun.
Bahkan, mereka menuding bangunan kokoh dua lantai di Jalan Merdeka Selatan dihuni Nicho dan keluarganya dibangun dari uang para anggota BLN.
Ditempat yang sama, Aris, Kuasa Hukum sebagian anggota Koperasi BLN dari wilayah Wonosobo turut mempertegas jika klainnya sekitar 10 orang menolak uang diganti koin.
Sama halnya dengan aksi-aksi sebelumnya, jika korban BLN asal Wonosobo menghendaki Nicho segera mengembalikan dana yang telah masuk.
"Kita menuntut janji-janji pengurus bahwa bulan Juli ini (pencairan) akak segera terealisasi pengembalian dana (program Si Jangkung)," ujat Aris.
Aris menyebutkan alasan menolak pengembalian dalam bentuk token digital/ koin. Salah satunya, sumber daya manusia (SDM) anggota Koperasi BLN hampir sebagian besar adalah lanjut usia dan enggan berhubungan dengan sistem digitalisasi dan lebih memilih wujud asli yakni uang tunai.
Disinggung, bagaimana jika janji itu tidak terealisasikan, Aris mengaku akan mengerahkan masa lebih besar lagi dengan mengumpulkan semua korban Koperasi BLN.
Berdasarkan data yang ia kantongi, total anggota Koperasi BLN mencapai lebih dari 42 ribuan. Sehingga, dengan jumlah itu kerugian bisa mencapai Rp3,1 triliun.
Menjelang siang hari, puluhan orang korban Koperasi BLN ini memasang spanduk di sepanjang depan rumah bos BLN Nicho hingga menjadi tontonan warga setempat.