SALATIGA — Sangking putus asanya, ratusan korban Koperasi Bahana Lintas Nusantara (BLN) memaksa Kapolres Salatiga AKBP Veronica untuk mengawal dan masuk ke rumah Nicholas Nyoto Prasetyo.
Permintaan ini dilontarkan ratusan korban BLN, setelah mereka menemukan jalan buntut bernegosiasi dengan AKBP Veronica sebagai orang nomor satu di jajaran Polres Salatiga.
"Kami berjanji tidak ada yang anarkis. Perwakilan dari kami masuk untuk memastikan saja apakah ada orang atau keluarga Nicho di dalam," teriak seorang ibu, berkerudung dengan mengenakan masker.
Atas desakan ini, Kapolres akhirnya luluh. Ia pun bersedia masuk bersama tiga orang perwakilan korban BLN, dengan syarat tidak ada yang anarkis.
Sampai akhirnya, ia meminta Ketua RT tempat Nicho berdomisili Paryono bersedia masuk bersama tiga perwakilan korban BLN.
Namun, Ketua RT Paryono hanya sekedar mengetuk pintu utama rumah Nicho setelah pagar besi berukuran kurang lebih 2 meteran berhasil dijebol korban BLN.
"Saya tidak berani kalau harus merusak, itu sudah melanggar. Bukan kewenangan saya," ujar Ketua RT, Paryono.
Jawaban Paryono justru disambut reaksi keras para korban BLN yang beranggapan, Ketua RT di Jalan Merdeka Selatan Salatiga ini tidak memihak ke mereka yang menganggap menjadi korban penipuan Nicho.
"Bapak tidak kasihan dengan kami sebagai korban," ujar Tariyah, yang mengaku setor Rp500 juta.
Hal senada disampaikan RHU, warga Wonogiri yang mengaku kelas uangnya tak kunjung kembali.
"Ketua Rt nya kalem-kalem saja," ucapnya.
Hingga Rabu 1 Oktober 2025 pukul 15.00 WIB masih menunggu di depan rumah Nicho dengan lesehan di depan garasi rumah Nicho. Bersama Kapolres Salatiga AKBP Veronica, para korban diminta tenang dan tindak terpancing anarkis.