SEMARANG — Melalui langkah-langkah preventif dan edukatif, PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 4 (Daop 4) Semarang berupaya menekan risiko kecelakaan antara pengguna jalan dan kereta api.
Hal ini dilakukan dalam menciptakan perjalanan kereta api yang aman dan bebas dari kecelakaan, khususnya di area perlintasan sebidang yang masih rawan insiden.
Menurut Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Franoto Wibowo, sejak Januari hingga Mei 2025, berbagai kegiatan sosialisasi telah dilakukan, termasuk 9 kali edukasi keselamatan di sekolah-sekolah.
"Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pelajar terhadap bahaya melintasi jalur kereta api secara sembarangan, mengingat anak-anak dan remaja termasuk dalam kelompok rentan," ujarnya Senin 16 Juni 2025.
Tak hanya itu, selama lima bulan pertama tahun ini, KAI juga telah mengadakan 188 kali sosialisasi langsung di perlintasan sebidang, baik resmi maupun tidak resmi.
Petugas memberikan pemahaman langsung kepada pengendara motor, mobil, dan pejalan kaki agar lebih disiplin dalam berlalu lintas serta memprioritaskan perjalanan kereta api sesuai dengan Undang-Undang Lalu Lintas.
Sebagai langkah tegas, sebanyak 13 perlintasan liar ditutup atau dipersempit. Penertiban ini dilakukan bersama pemda dan instansi terkait guna mengurangi akses ilegal yang kerap digunakan warga dan berpotensi mengakibatkan kecelakaan fatal.
KAI juga memasang spanduk peringatan di titik-titik strategis, terutama di jalur rawan kecelakaan dan perlintasan sebidang. Pesan dalam spanduk tersebut mengingatkan pengguna jalan untuk berhenti, melihat kiri-kanan, serta mendahulukan perjalanan kereta, demi keselamatan bersama.
Berdasarkan data, dari tahun 2019 hingga Mei 2025, telah terjadi 153 kasus kecelakaan di wilayah Daop 4 Semarang. Dari total tersebut, 87 kasus melibatkan mobil, dan 66 melibatkan sepeda motor, dengan sebagian besar insiden terjadi di perlintasan tidak dijaga (105 kejadian).
Korban jiwa akibat kecelakaan di perlintasan sebidang juga tinggi, yakni 74 orang meninggal dunia, 32 luka berat, dan 33 luka ringan, dengan total korban mencapai 139 orang.
Selain itu, hingga Juni 2025, terdapat 90 kejadian orang tertemper kereta api di jalur rel. Faktor utama penyebabnya antara lain minimnya kesadaran masyarakat, penggunaan gadget saat menyeberang, dan adanya perlintasan liar yang belum ditertibkan.
"Kami terus berkomitmen untuk mewujudkan perjalanan kereta api yang aman dan nyaman, sekaligus melindungi pengguna jalan. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk disiplin dan patuh pada rambu lalu lintas," ujar Franoto.
Ke depan, KAI Daop 4 Semarang akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Ditjen Perkeretaapian, serta instansi terkait guna menertibkan perlintasan sebidang dan memperluas jangkauan edukasi masyarakat, demi menurunkan angka kecelakaan secara signifikan.