Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Jalani Tes Kesehatan Sekolah Rakyat, Rehan Rela Tinggalkan Orang Tua yang Sakit Stroke

Sejumlah siswa mengikuti test kesehatan Sekolah Rakyat di BBPVP. (Wahyu Sulistiyawan)

SEMARANG — Raut wajah Rehan Dafa (15) terlihat bahagia saat mengikuti test kesehatan Sekolah Rakyat Kota Semarang, meski hatinya masih menyimpan rasa berat.


Bukan tanpa alasan, pria asal Kelurahan Sambirejo ini harus meninggalkan kedua orang tuanya yang tengah berjuang melawan penyakit stroke.


“Kalau di rumah, saya yang ngurus orang tua. Ibu kena stroke, ayah juga sudah gejala stroke. Jadi nggak ada biaya untuk sekolah,” ucap Rehan lirih saat ditemui usai kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), di BBPVP Semarang, Senin, 29 September 2025.


Meski begitu, Rehan tetap bersyukur bisa diterima menjadi siswa di Sekolah Rakyat. Baginya, kesempatan ini bukan hanya sebuah jalan untuk melanjutkan pendidikan, tetapi juga harapan baru untuk memperbaiki masa depan keluarga.


Elisabeth, salah satu pekerja sosial masyarakat Kelurahan Sambirejo yang mendampingi Rehan, menceritakan bahwa kehidupan keluarga anak bungsu dari empat bersaudara ini tidaklah mudah.


“Ekonomi keluarganya sedang drop. Untuk kebutuhan sehari-hari saja sulit, apalagi biaya sekolah,” jelasnya.


Namun ia menegaskan, masuknya Rehan ke Sekolah Rakyat merupakan langkah penting. Sebab, meski harus tinggal di asrama, kondisi orang tua Rehan sudah dipastikan akan tetap terurus oleh kakaknya.


“Dia sudah aman di sini. Harapannya, Rehan bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan menggapai cita-citanya,” tambah Elisabeth.

Hari ini, Sekolah Rakyat Kota Semarang menggelar serangkaian kegiatan awal tahun ajaran baru. Dimulai dengan tes kesehatan, siswa kemudian diarahkan menuju asrama untuk penempatan kamar, sebelum berlanjut ke pengenalan lingkungan sekolah, penyuluhan ringan, dan pengenalan bahasa.


Ridho Irwanto, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi, menyebut bahwa kegiatan MPLS bukan sekadar formalitas, melainkan langkah awal membentuk karakter siswa.


“Selama dua minggu pertama, fokus kami adalah pendidikan karakter, mengenalkan tokoh inspiratif, pembiasaan literasi, dan pembinaan psikologis. Semua itu sejalan dengan program tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat dari Kementerian Pendidikan,” terang Ridho.


Selain itu, siswa juga akan mengikuti program penguatan bahasa serta pembinaan kemandirian. Dengan sistem pembelajaran berbasis fase, kurikulum disesuaikan dengan capaian tiap individu agar mereka siap menghadapi tantangan masa depan.


Fasilitas Lengkap dan Tenaga Pendidik Mumpuni

Sekolah Rakyat Kota Semarang kini menaungi 100 siswa, terdiri dari 60 laki-laki dan 40 perempuan, yang terbagi untuk jenjang SD hingga SMA. Seluruh siswa tinggal di asrama dengan fasilitas lengkap.


“Kami memiliki laboratorium, ruang UKS, perpustakaan, serta layanan makan tiga kali sehari plus dua kali snack. Guru pengajar ada 19 orang, didukung total 54 staf termasuk wali asuh, petugas keamanan, kebersihan, hingga dapur,” ujar Ridho.


Sistem pembelajaran di sekolah ini tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga penguatan mental dan karakter. Dengan pola berbasis asrama, para siswa dipersiapkan agar mandiri sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai moral dan sosial.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube