Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Isu Beras Oplosan di Pasar Tradisional, Warga Kota Semarang Mulai Resah

Beredar isu beras oplosan warga kota semarang mulai resak. (Wahyu Sulistiyawan)

SEMARANG — Isu beras oplosan di pasar tradisional wilayah Semarang mulai meresahkan warga. Di Pasar Dargo, Kota Semarang, sejumlah warga mengaku mulai merasakan perbedaan yang mencolok pada aroma dan rasa beras yang mereka konsumsi sehari-hari.


Salah satunya adalah Sri Kusmiati (50), seorang ibu rumah tangga yang hampir setiap hari belanja kebutuhan dapur. Ia mengaku kesulitan menemukan beras dengan kualitas baik seperti dahulu.


"Kalau masak nasi dulu itu wanginya bisa semerbak ke seluruh rumah. Anak-anak langsung lapar begitu mencium baunya. Tapi sekarang, kadang seperti ada bau apeknya," ujar Kusmiati saat ditemui diswayjateng.com, Rabu 16 Juli 2025.


Menurut Kusmiati, kualitas beras yang beredar saat ini dinilai semakin menurun.


Ia menyebut tekstur nasi yang dihasilkan kini kurang pulen, aroma beras tidak lagi sedap, bahkan kadang muncul bau apek yang mengganggu.


Keluhan ini muncul seiring dengan pernyataan Menteri Pertanian Amran Sulaiman yang sebelumnya menyebut pemerintah menemukan indikasi adanya peredaran beras oplosan.


Beras-beras tersebut diduga merupakan campuran dari berbagai jenis dan kualitas, termasuk pencampuran beras premium dengan kualitas menengah atau rendah.


"Resah ya kalau tahu ternyata banyak beras oplosan yang beredar di masyarakat. Kami kalau beli beras yang premium itu juga ada harganya, tapi kalau isinya ternyata tidak sesuai standarnya, ya kecewa," ucap Kusmiati.


Namun demikian, tidak semua pihak di pasar menunjukkan keprihatinan yang sama. 

Agus, seorang pedagang beras di pasar yang sama, menilai isu tersebut tidak terlalu berdampak pada aktivitas jual-belinya.


“Saya malah nggak ngerti itu maksudnya beras oplosan kayak apa. Yang saya tahu, saya ambil dari pabrik, ya saya jual. Selama ini nggak ada komplain, berasnya bagus-bagus semua,” ungkap Agus.


Agus juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah mencampur jenis beras dan hanya menjual produk sesuai yang diterima dari pemasok.


Ia menekankan bahwa selama tidak ada keluhan dari pembeli, maka tidak ada alasan untuk khawatir.


“Kalau dari pabrik ada yang aneh, baru saya komplain. Tapi sejauh ini aman-aman saja. Nggak ngerti saya soal oplosan, wong berasnya ya begini-begini saja, kok,” katanya.


Agus justru lebih mencemaskan soal kenaikan harga beras yang dinilai berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat.


Ia menyebut harga gabah kini naik menjadi Rp7.500 per kilogram, yang mendorong harga beras premium di pasaran ikut naik menjadi sekitar Rp14 ribu per kilogram, naik Rp500 dari bulan sebelumnya.


“Kalau harga naik, pembeli pasti ngeluh. Sekarang pasar juga sepi, karena orang-orang lagi sibuk urus anak sekolah. Jadi ya mikirnya bukan soal oplosan, tapi dagangan laku atau enggak,” keluhnya.