SEMARANG — "Bapak, ibu…" Suara itu menggema di lorong-lorong sebuah bangunan rumah yayasan di Jalan Bangetayu Kulon, Kota Semarang. Teriakan polos itu berasal dari anak-anak di Panti Asuhan Rumah Anak Surga yang sedang menyambut tamu.
Bagi mereka, setiap orang dewasa yang datang mungkin saja adalah sosok yang mereka rindukan yakni orang tua kandung yang pernah meninggalkanya.
Di momen Hari Anak Nasional tahun ini, suasana haru begitu terasa di panti yang telah berdiri sejak Juli 2023 itu. Sejumlah anak yang masih balita berlarian ke arah tamu, memeluk erat, seakan melepas rindu yang tak pernah benar-benar terucapkan.
"Mereka selalu memanggil ‘Bapak’ kalau ada laki-laki datang. Mungkin karena di sini semua pengasuhnya perempuan, jadi mereka rindu figur ayah," ujar Melisa (24), Manajer Rumah Anak Surga saat ditemui.
Panti yang kini menaungi 20 anak itu bukan sekadar tempat tinggal. Mereka adalah anak-anak dengan luka yang dalam karena korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), anak dari kehamilan tak diinginkan, penelantaran karena perceraian, hingga pelecehan seksual.
"Ada yang baru datang usia dua minggu karena kasus KDRT. Ada juga yang membawa penyakit jantung bawaan, ditinggal keluarganya karena tak mau menerima," lanjut Melisa.
Meski menghadapi kondisi berat, pihak yayasan tak menolak satu pun anak yang datang.
"Kami percaya anak-anak ini tidak berdosa. Yang salah adalah perbuatan orang dewasa. Mereka berhak mendapatkan kasih sayang dan masa depan yang baik," imbuhnya.
Nama "Rumah Anak Surga" sendiri lahir dari kisah yang tak kalah menyentuh. Dulu, seorang ustazah diminta menjaga anak oleh seorang ibu yang terlilit masalah ekonomi dan ditinggal suami. Kisah itu diunggah di Facebook, viral, dan banyak yang ingin menitipkan anaknya.
"Karena banyak yang curhat dan ingin menitipkan anak, akhirnya dibentuklah yayasan ini," kenang Melisa.
Di sini, anak-anak tidak hanya diasuh tetapi juga dididik secara aktif sejak pagi hingga malam. Mereka belajar doa harian, Asmaul Husna, hingga Bahasa Inggris. Meski usianya baru dua tahun, banyak dari mereka sudah bisa berhitung dan berbicara dengan baik.
"Tagline kami ‘Mengasuh dan Mendidik’. Kami ingin mereka tumbuh dengan nilai-nilai moral dan pendidikan," ujar Melisa.
Pihak yayasan juga rutin melakukan cek kesehatan karena sebagian anak memiliki riwayat medis serius. Tenaga perawat dan bidan disiapkan untuk memantau perkembangan mereka setiap hari.
Fasilitas Rumah Anak Surga kini dapat berdiri berkat donasi dari masyarakat, termasuk donatur tetap. 90 persen kebutuhan anak-anak di sini terpenuhi dari bantuan tersebut.
"Bagi masyarakat yang ingin berdonasi bisa melalui website kami di rumahanaksurga.com, di situ ada kontak admin dan tata cara donasi," terang Melisa.
Tak hanya berdonasi, masyarakat juga bisa datang langsung dalam program kunjungan edukasi, dengan melakukan reservasi terlebih dahulu. Namun ada beberapa syarat yang harus dipatuhi.
"Yang kami tekankan adalah tidak boleh merokok minimal dua jam sebelum masuk, dan tidak boleh mencium anak-anak. Karena kita tidak tahu apakah membawa penyakit," jelas Melisa.
Anak-anak Rumah Surga bukan hanya korban masa lalu. Mereka adalah benih masa depan. Tempat ini menjadi oase kasih sayang bagi mereka yang pernah dibuang, dilukai, bahkan dilupakan.
"Kami ingin menunjukkan bahwa mereka juga berhak bahagia, dan kelak bisa menjadi pribadi yang hebat," pungkas Melisa.