SEMARANG — Memasuki hari kedua setelah hujan deras mengguyur pada Selasa 21 Oktober 2025, sejumlah wilayah di Kota Semarang masih tergenang banjir.
Ketinggian air di kawasan Kaligawe, yang merupakan jalur utama Pantura, masih berkisar antara 60 hingga 80 sentimeter. Akibatnya, akses lalu lintas dari Krapyak hingga Kaligawe lumpuh total.
Kemacetan panjang tidak terhindarkan. Truk, mobil pribadi, hingga kendaraan roda dua terjebak antrean hingga berjam-jam. Arus lalu lintas yang biasanya padat kini berubah menjadi lautan air bercampur lumpur, membuat kendaraan sulit bergerak.
Menurut Panji, operator pompa air Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang mengatakan telah menurunkan 10 unit pompa air di berbagai titik strategis kawasan Kaligawe untuk mempercepat penanganan genangan.
“Saya menangani area Kaligawe dan sekitarnya. Untuk pompa portable, dari tikungan Kubro ada satu, di sekitar RS Sultan Agung ada dua, lalu di bawah jembatan Klik satu lagi. Di depan GCI ada satu, dan di bawah tol ada empat. Totalnya 10 pompa. Dua di antaranya masih dalam perjalanan ke lokasi,” ujar Panji kepada diswayjateng.com, Kamis 23 Oktober 2025.
Panji menjelaskan, dua pompa tambahan berkapasitas 60 liter per detik masih dalam proses pemasangan di depan pabrik S. Mas. Ia menambahkan bahwa sulit memprediksi kapan genangan akan surut sepenuhnya karena air kiriman dari wilayah atas masih terus mengalir ke Kaligawe.
“Kita tidak bisa memperkirakan berapa jam bisa surut karena air dari daerah atas baru saja sampai di Kaligawe. Kita tunggu aliran sungai tenggang dan seringin surut dulu, baru bisa dilakukan penyedotan maksimal di jalur protokol,” jelasnya.
Kondisi di lapangan cukup bervariasi. Menurut Panji, ketinggian air di jalur tengah sekitar 20 sentimeter, masih bisa dilalui sepeda motor. Namun, genangan paling parah terjadi di depan RS Sultan Agung Semarang, dengan ketinggian mencapai 80 sentimeter.
“Yang paling dalam memang di depan RSI Sultan Agung. Jalur tengah lebih landai, tapi depan rumah sakit itu paling parah,” tambahnya.
Sementara itu, Raihan, salah satu sopir truk yang terjebak di tengah kemacetan, mengaku telah menempuh perjalanan dari Krapyak hingga Madukoro selama hampir dua jam.
“Saya dari Jakarta mau pulang ke garasi, tapi malah terjebak macet. Dari tadi cuma bisa jalan sedikit-sedikit. Dari Krapyak sampai Madukoro saja sudah hampir dua jam,” ungkapnya. (SUL)