SEMARANG — Di tengah geliat kopi kekinian yang menjamur di pinggir kota dan ramai di aplikasi digital, seorang lelaki sepuh tetap setia pada cara lamanya yakni menggiling kopi manual dengan tangan, menyapa pelanggan langsung, dan mengayuh sepeda tuanya berkeliling kota.
Dialah Sutomo (72) atau lebih akrab disapa Mbah Tomo, pria kelahiran 1948 yang masih teguh menjajakan jasa penggilingan kopi keliling di berbagai sudut Kota Semarang.
Mengandalkan sepeda kebo warisan zaman Belanda dan alat giling kopi manual berbahan logam, ia memulai rutinitasnya sejak pukul 05.30 WIB dari rumahnya di Jalan Darat Nipah II, Dadapsari, Semarang Utara.
"Ada aroma kopi dan suara 'krak… krak…' setiap kali saya mulai menggiling. Itu yang bikin saya semangat. Bukan sekadar dagang, tapi menyambung silaturahmi," ujar Mbah Tomo saat ditemui di kawasan Kota Lama Semarang, Kamis sore 24 Juli 2025.
Bisnis keliling kopi ini bukan hal baru bagi Mbah Tomo, ia memulai sejak tahun 1971, mengikuti jejak kakaknya yang lebih dulu menjajakan jasa serupa. Bedanya, kini hanya tinggal dirinya yang bertahan, menjaga tradisi yang hampir punah.
"Sekarang memang banyak yang jual kopi keliling jadi (siap minum), tapi rezeki sudah diatur Gusti (Tuhan)," ucapnya sambil tersenyum di bawah rindang pohon asam.
Ia memilih biji kopi robusta yang disangrai di Temanggung dan digiling manual sesuai pesanan. Bukan kopi bermerek, tetapi soal rasa, pelanggannya tahu kalau kopi Mbah Tomo punya karakter.
"Saya nggak jual arabika, terlalu kecut. Orang sini sukanya yang pekat, pahit, ada aroma asap-asapnya dikit," jelasnya sambil terus memutar alat gilingan.
Setiap hari Mbah Tomo keliling menyusuri wilayah Semarang Lama dari Petek, Kampung Melayu, Pecinan, dan Kota Lama. Setiap harinya iaa menggiling hingga 3–4 ons kopi, menghasilkan sekitar Rp75 ribu.
"Kalau ramai bisa lebih, kalau hujan ya sepi. Tapi Alhamdulillah, nggak pernah kosong, cukup untuk kebutuhan harian bersama istri," katanya
Menurut Mbah Tomo, hidup bukan soal berapa banyak yang didapat, tapi seberapa besar kita mensyukurinya. Itulah sebabnya, meski alat penggilingan canggih dan bisnis kopi modern terus tumbuh, ia tak pernah gentar.
"Kalau semua ikut zaman, siapa yang jualan gini?," ucapnya
Tak banyak yang tahu, Mbah Tomo dulunya pernah menjadi santri di Masjid Mbah Soleh Darat. Ia sempat belajar agama kepada Kiai Ali Kholil, murid dari ulama besar Kiai Soleh Darat.
"Santri gagal saya ini," katanya.
Namun dari lingkungan masjid itulah ia kenal banyak pedagang dan belajar berdagang secara jujur dan tulus.
Kini, pelanggan setianya justru anak-cucu dari pelanggan lama. Mereka bukan hanya membeli kopi, tapi juga ingin menjaga memori.
Mbah Tomo tak pernah berpikir untuk pensiun. Menurutnya, menggiling kopi bukan pekerjaan, tapi bagian dari perjalanan hidupnya.
"Saya ini ndak kerja. Saya cuma giling kopi sambil jalan-jalan," ucapnya terkekeh.
Saat senja datang dan bangunan tua Kota Lama memanjangkan bayangan, Mbah Tomo pelan-pelan mengayuh sepedanya pulang.
Di rumah, istrinya menyambut hangat. Kadang, cucu datang menjenguk, dan ia bangga bisa memberi uang jajan dari hasil kopi.
"Biar mereka tahu, ini bukan pekerjaan remeh," ucapnya bangga.
Kukuh Supriadi (45), seorang buruh panggul yang kerap membeli kopi Mbah Tomo, mengaku ada daya tarik tersendiri dari aroma dan obrolan santainya.
"Kadang saya beli, kadang cuma ngobrol. Beliau itu punya aura yang tenang. Orangnya ramah, enggak terburu. Kalau sudah ngobrol sama Pak Tomo, kayak ngopi sama kakek sendiri," tuturnya.