DEMAK — Program bantuan pembangunan rumah baru untuk korban bencana yang dilakukan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperakim) Jawa Tengah sejak tahun 2021 silam, hingga kini belum menjangkau secara merata bagi warga terdampak rob di pesisir pantai utara Kabupaten Demak.
Warga pun harus pasrah saat musim air pasang datang menerjang pemukiman mereka. Kondisi ini menjadi momok menakutkan bagi warga Desa Bedono. Bukan hanya membuat tidak nyaman lingkungan, namun juga mengancam harta dan nyawa mereka.
Dengan kondisi itu, warga Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak pun hanya bisa berharap agar pembangunan Giant Sea Wall (tanggul laut) segera selesai.
Harapan besar warga Desa Bedono khususnya di Dukuh Pandansari pun bisa dipahami. Sebab kehadiran proyek tanggul laut dari Pemerintah Pusat ini, menjadi satu-satunya solusi penanganan dampak genangan bencana rob yang telah puluhan tahun melanda tempat tinggal mereka.
Zamroni (50) salah seorang warga Dukuh Pandansari, Desa Bedono mengakui, warga Pandansari sangat berharap proyek tanggul laut yang kini sedang dikerjakan bisa segera terwujud.
“Warga ingin sekali bencana rob sesegera mungkin teratasi dan bisa terselesaikan. Masyarakat sini (Pandansari) kalau ditanya tentang rob, mungkin sudah tidak bisa merasakan lagi apa itu rob, karena sudah terlalu lama terbiasa hidup di tengah rob,” ujar Zamroni.
Zamroni bersama keluarganya awalnya tinggal di RT 02 RW 04 Dukuh Pandansari Desa Bedono. Namun karena ketinggian genangan rob bertambah tinggi, ia terpaksa memutuskan pindah dari rumah yang selama ini ditinggali bersama anak istri.
Ia bersama warga Dukuh Pandasari mengaku sudah terbiasa dengan genangan banjir rob selama 20 tahun lebih. Laki-laki berusia 50 tahun ini mendiami rumah sekaligus dijadikan warung bersama istrinya.
Rumah sederhana yang penuh kenangan bagi Zamroni, ditinggalkan begitu saja dan tenggelam oleh genangan rob sejak tahun 2015. Ia terpaksa menempati lahan milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), yang lokasinya berada di dekat Dukuh Pandansari.
Di lahan milik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) itu, Zamroni bersama istrinya mendirikan warung sebagai mata pencaharian mereka sehari-hari.
Warung sederhana milik Zamroni ini pun cukup membantu menopang kehidupan mereka. Sebab di kawasan tersebut sebagai lokasi proyek pembangunan jalan tol Semarang Demak yang terintegrasi dengan tanggul laut.
Zamroni menyebut, warga Desa Bedono sudah mengetahui bahwa cara mengatasi banjir rob hanya dengan pembangunan tanggul laut. Mereka juga memahami betul bahwa penyedotan air dan pengerukan sungai, sifatnya hanya sementara untuk mengatasi permasalahan rob.
“Warga pun juga mengetahui selama menunggu pembangunan tanggul laut selesai, pemerintah telah mengusahakan menangani rob dalam jangka pendek. Kami brjarap semoga penyelesaian pembangunan tanggul laut tidak sampai molor dan tertunda,” tandas Zamroni.
Zamroni mengaku banjir rob paling parah melanda Dukuh Pandansari sejak tahun 2021 lalu. Wilayah kampung setempat terdampak paling parah.
Ironisnya lagi, warga di dukuh setempat terpaksa meninggikan rumah mereka satu meter setiap tahunnya. Tujuannnya agar banjir rob tidak masuk ke dalam rumah warga.
“Bahkan ada warga yang tidak sampai setahun harus meninggikan rumahnya lagi. Lama-lama kan habis uangnya. Padahal kebutuhan kita tidak hanya soal meninggikan rumah, tapi juga kebutuhan sehari-hari, belum lagi anak sekolah,” keluh Zamroni.
Zamroni bersama warga Dukuh Pandansari lainnya kini mengaku tidak mampu lagi untuk meninggikan rumah mereka. Mereka juga masih ada yang memilih bertahan di rumahnya.
Rumah Reot Mbak Sumaerah Tergenang Rob
Selain Zamroni, kondisi menyedihkan juga harus dialami Sumaerah (70). Kehidupan Mbah Sumaerah tentunya sangat memprihatinkan. Wanita lansia ini memilih bertahan di dalam rumah papan yang tergenang air rob.
Halaman rumah Mbah Sumaerah juga telah tergenang rob setinggi perut orang dewasa. Mbah Sumaerah tak sendirian, ia tinggal bersama anak dan menantu serta dua cucunya.
Sepintas jika dilihat dari kejauhan rumah Mbah Sumaerah mirip rumah apung. Namun saat masuk ke dalam rumah, kondisinya sangat tidak layak untuk ditempati.
“Saya tinggal disini sejak umur 15 tahun. Dulu saat saya remaja, robnya tidak setinggi ini. Sekarang parah banget,” tutur Mbah Sumaerah dengan nada sedih.
Untuk masuk ke dalam rumah, oranh harus membungkukkan badan. Perlu tambahan rangkaian bambu dan papan, sebagai jembatan untuk jalan masuknya. Kalau kurang hati-hati, bisa terpeleset dan tercebur. Tak banyak perabot laiknya rumah pada umumnya.
Janda lansia ini mengaku menjalani hidup di rumahnya sudah puluhan tahun. Untuk aktivitas sehari-hari seperti tidur, makan, mandi dan memasak dilakukan di dalam rumah yang sudah tak layak huni itu.
Selama puluhan tahun-tahun, Mbak Sumaerah hidupnya berada di atas genangan rob. Ia memilih bertahan dirumahnya dan tidak ingin pindah ke tempat yang aman dari rob, karena tidak memiliki uang lagi.
“Mau pindah kemana lagi? Saya tidak punya uang sama sekali. Minta bantuan juga tidak ada yang memberi kok,” ucap Mbah Sumaerah yang telah ditinggal suaminya meninggal dunia tujuh tahun lalu.
Kehidupan Mbah Sumaerah yang jauh dari kata layak di usia senjanya, hanya menggantungkan hidup kepada anak dan menantunya yang bekerja sebagai buruh.
Mbah Sumaerah bersama warga Dukuh Pandansari kini hanya bisa pasrah. Wanita renta ini berharap pemerintah memberikan perhatian dan bantuan. Tak hanya untuk dirinya, namun juga untuk masa depan kedua cucunya.