SEMARANG — Pemeriksaan kesehatan massal terhadap siswa di Kota Semarang kembali mencatat temuan penting. Hingga 7 Agustus 2025, sebanyak 44.474 anak telah diperiksa oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang, dengan hasil sementara menunjukkan masih tingginya kasus gigi berlubang, obesitas, hingga gangguan penglihatan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang Mochammad Abdul Hakam mengungkapkan, dari total siswa yang diperiksa, 36,4 persen mengalami karies gigi, 3,65 persen obesitas, 2,76 persen hipertensi, dan 7,9 persen gangguan penglihatan. Selain itu, 1,2 persen siswa mengalami kecemasan, 0,04 persen gangguan pendengaran, serta 0,14 persen terindikasi diabetes melitus (DM).
"Ini baru data sementara dari sekitar 300 ribu anak sekolah di Semarang. Data ini masih akan bertambah seiring berjalannya pemeriksaan," ujarnya di Balai Kota Semarang, Senin 11 Agustus 2025.
Pemeriksaan kesehatan ini juga mencatat hasil status gizi siswa yang menunjukan 14,64 persen kurang gizi, 74,8 persen gizi baik, dan 6,91 persen gizi lebih. Seluruh data dapat diakses melalui laman resmi Dinas Kesehatan Kota Semarang.
Menanggapi temuan tersebut, Pemkot Semarang berencana memperluas implementasi Program Peterpan (Pembinaan Terpadu Pelajar dan Anak) mulai tahun 2026. Program ini mencakup senam pagi, edukasi “Isi Piringku”, serta peningkatan aktivitas fisik di sekolah.
"Ke depan, semua sekolah diharapkan bisa menjalankan program ini. Misalnya, siswa masuk jam 06.45 lalu satu jam pertama digunakan untuk aktivitas fisik seperti sepak bola, voli, renang, atau lari," jelasnya.
Namun, Pemkot juga menyoroti tantangan sekolah dengan lahan terbatas yang perlu solusi agar aktivitas fisik tetap berjalan.
Dinas Kesehatan mengingatkan, pencegahan obesitas sangat penting karena menjadi salah satu faktor risiko hipertensi dan diabetes di usia muda. Melalui kerja sama dengan Dinas Pendidikan dan ahli gizi sekolah, menu makanan bergizi akan terus diawasi agar perbaikan gizi tidak memicu masalah kesehatan baru.
"Yang gizi kurang harus diperbaiki, tapi yang sudah baik jangan sampai jadi obesitas. Kuncinya ada di pola makan dan aktivitas fisik," tegasnya. (SUL)