Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Atraksi Topeng Monyet Kembali di Kota Semarang, Hiburan Anak yang Menuai Pro Kontra

Atraksi topeng monyet kembali muncul di Kampung Mangunsari Rt 5 Rw5
Kelurahan Pakintelan
Kecamatan Gunungpati
Kota Semarang
Selasa 17 Juni 2025. Hiburan murah meriah ini sempat dilarang pemerintah karena dinilai eksploitasi hewan.

SEMARANG — Meski sudah dilarang pemerintah dan sempat menghilang, atraksi topeng monyet kembali muncul untuk menghibur anak-anak di Kampung Mangunsari, Kelurahan Pakintelan, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.


Iringan musik yang dulu dimainkan secara manual kini digantikan dengan rekaman yang keluar dari kotak peralatan hiburan atraksi topeng monyet.


Dengan rantai besi yang mengikat lehernya, Ayok (nama monyet) memeragakan berbagai atraksi seperti mengendarai sepeda motor mainan, berolahraga, mengenakan kostum reog, hingga menirukan gerakan salat.


Adi dan rekannya, Keclok, mengaku mendapatkan penghasilan antara Rp120 ribu hingga Rp130 ribu per hari dari pertunjukan atraksi topeng monyet tersebut untuk memenuhi kebutuhan mereka dan monyetnya, Ayok.


"Setiap hari kami dapat sekitar Rp120 ribu sampai Rp130 ribu untuk makan kami berdua, dan sebagian untuk Ayok," ujar Adi kepada wartawan diswayjateng.com usai pertunjukan, Selasa, 17 Juni 2025.


Pertunjukan topeng monyet tersebut berlangsung selama kurang lebih lima menit. Adi berperan sebagai pawang yang mengatur gerakan monyet, sedangkan Keclok bertugas mengumpulkan uang dari penonton.


"Kita asal saja, kalau lihat kampung yang banyak anak-anak, kita berhenti dan mainkan musik. Pasti semua anak keluar," tambahnya.


Menurut Adi, monyet yang digunakan merupakan jenis monyet hutan yang sudah dilatih sejak usia tiga bulan selama kurang lebih satu setengah tahun.


"Ini jenis monyet hutan. Dari usia tiga bulan, butuh waktu sekitar 1,5 tahun untuk melatihnya sampai bisa seperti ini," jelasnya.


Untuk menjaga stamina Ayok, Adi dan Keclok mengaku memberinya jamu dan makanan seadanya.

"Makan seadanya seperti kami juga, kadang-kadang pisang. Tapi kami kasih jamu kunyit supaya staminanya terjaga dan tidak gampang sakit," ujarnya.


Dua pria asal Sumedang, Jawa Barat ini datang ke Semarang untuk mencari nafkah lewat atraksi topeng monyet. Mereka mengaku rela tidur di emperan kantor balai desa dan poskamling.


"Kami dari Sumedang, nggak ngontrak. Selama ini tidur di emperan kantor balai desa dan poskamling," ungkap Adi.


Atraksi topeng monyet sebelumnya sempat marak di berbagai tempat, seperti di lampu merah dan perkampungan. Namun setelah pemerintah melarang eksploitasi hewan, pertunjukan ini mulai menghilang karena banyak monyet yang diamankan.


Suwarsini, warga RT 5 RW 5, mengaku senang karena atraksi ini bisa menghibur anak-anak, meskipun di sisi lain merasa kasihan pada monyet yang dieksploitasi.


"Senang sih, bisa menghibur anak-anak kecil karena sudah lama nggak ada topeng monyet. Tapi juga kasihan karena ini termasuk eksploitasi hewan," ujarnya.


Ia berharap, jika pun atraksi topeng monyet ingin dilestarikan, maka kesejahteraan hewan tetap diperhatikan.


"Bingung juga, antara senang dan sedih lihat monyetnya. Kalau pun dilestarikan, sebaiknya monyetnya dirawat baik-baik, jangan disiksa, dan diberi makan yang layak," imbuhnya.


Sementara itu, Dewe, salah satu anak yang menonton, mengaku senang dengan atraksi ini dan berharap bisa terus ada.


"Pinginnya selalu ada karena menghibur. Aku nggak takut karena monyetnya sudah dilatih sama orangnya," ucapnya polos.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube