SALATIGA — Petani di Kelurahan Tingkir Tengah Salatiga saat ini hanya bisa pasrah. Pasalnya, setelah dipastikan musim ini gagal panen karena serangan hama tikus, padi mulai berbuah harus dibabat untuk pakan ternak.
Dari pantauan wartawan Diswayjateng.com, hampir 2000 hektar persawahan di samping Exit Tol Tingkir Salatiga mengalami gagal panen lantaran serangan hama tikus.
Bahkan, beberapa petak sawah yang mulai menguning dan telah berbuah dalam kondisi rusak karena batangnya telah patah digigit hewan pengerat itu.
"Keliatannya saja tumbuh subur tapi sebenarnya telah rusak karena batangnya telah patah digigit tikus," ungkap Pranyata, salah satu anggota Kelompok Tani Sumber Agung Salatiga.
Pranyata ikut menemui Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) RI Amalia Adininggar Widyasanti mengunjungi pertanian di kawasan Kelurahan Tingkir Tengah, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga, beberapa waktu lalu.
Diungkapkan Pranyata, jika serangan hama tikus di alami pertanian hampir terjadi di seluruh wilayah Kota Salatiga.
Dengan kondisi itu, para petani mengikhlaskan padi mereka untuk pakan ternak.
"Ya pada akhirnya padi yang gagal panen dibabat untuk hewan ternak sapi," ujarnya.
Seorang peternak warga Salatiga yang mendapatkan rejeki membabat padi mengaku diberi secara cuma-cuma untuk pakan ternaknya.
Ia pun bersyukur, tak perlu mencari ke beberapa tempat untuk pakan ternaknya. "Petak sawah yang sudah dibabat akan dapat langsung dikerjakan petani lagi untuk di tanami yang baru," akunya.
Seperti diketahui, serangan hama tikus ini selain karena kondisi alam juga sedikit banyak disebabkan pola tanam yang tidak serempak antara satu pemilik lahan pertanian dengan pertani lainnya.
Dimana kondisi padi yang ditanam petani saat ini tidak tumbuh maksimal. Bahkan, ada lahan yang telah menguning namun batang padi patah akibat gigitan tikus.
Untuk meminimalisir kerugian, petani tetap memanen padi yang telah menguning meskipun hasilnya tidak seberapa dan bersiap untuk menanam ulang.