SEMARANG — Sebanyak 17 Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kota Semarang mengalami kekurangan jumlah peserta didik setelah pendaftaran siswa baru online tahun ajaran 2025/2026 resmi ditutup pada Sabtu, 14 Juni 2025.
Meski demikian, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang memastikan tidak akan membuka pendaftaran gelombang kedua atau jalur offline.
Hal ini diketahui setelah penutupan pendaftaran melalui Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) online yang berlangsung selama 14 hari.
Berdasarkan data resmi dari laman spmb.semarangkota.go.id, total pendaftar melalui jalur domisili, afirmasi, dan mutasi mencapai 38.778 siswa. Sementara itu, daya tampung yang tersedia untuk tahun ini adalah 14.476 siswa yang tersebar di 325 SD Negeri.
Sejumlah sekolah yang mencatat jumlah pendaftar di bawah kuota antara lain SDN Karang Tempel hanya menerima 9 siswa, SD Bugangan 02 sebanyak 20 pendaftar, SDN Wonodri 19 siswa, SDN Karang Kidul 14 siswa dan SDN Kembangsari 01 25 siswa.
Sekolah lain dengan pendaftar di bawah kuota adalah SDN Sekayu (12 siswa), SDN Gabahan (8), SDN Randugarut (13), SDN Mangunharjo Tugu (23), dan SDN Gajahmungkur 02 (24). Bahkan SDN Jomblang 03 yang memiliki kuota 56 siswa hanya diisi oleh 25 pendaftar.
Sekretaris Disdik Kota Semarang, Erwan Rachmat, menegaskan bahwa proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) hanya dilakukan satu kali secara daring. Tidak akan ada pendaftaran susulan atau gelombang kedua, baik secara online maupun manual di sekolah.
"PPDB hanya dilakukan satu gelombang, tidak ada tambahan atau pendaftaran offline. Ini sesuai regulasi yang berlaku," ujar Erwan, Selasa 17 Juni 2025.
Ia menjelaskan bahwa seluruh kuota dari masing-masing sekolah negeri di Semarang telah dilaporkan dan tercatat di Kementerian Pendidikan. Oleh karena itu, perubahan jumlah siswa atau penyesuaian kuota tidak memungkinkan dilakukan pada tahun berjalan.
Evaluasi akan dilakukan untuk tahun ajaran berikutnya sebagai langkah menyesuaikan minat masyarakat dan pemerataan distribusi siswa di seluruh wilayah Kota Semarang.
Meski demikian, Erwan memastikan bahwa sekolah-sekolah yang kekurangan siswa tetap akan menjalankan proses belajar-mengajar seperti biasa.
"Meski kuota tidak terpenuhi, proses pembelajaran tetap berjalan bagi siswa yang telah diterima," tegasnya.