Logo Logo
About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam.

Read More

Address: 301 The Greenhouse London,
E2 8DY UK

Phone: 820-885-3321

Email: support@domain.com

Unik, 8 Anak Rambut Gimbal Dicukur dengan Syarat Berbeda-beda

RUWATAN - Prosesi tradisi ruwatan anak berambut gimbal kembali digelar dalam rangkaian Dieng Culture Festival (DCF) ke-15 tahun 2025. (ari sunandar/disway jateng)

Banjarnegara — Tradisi ruwatan anak berambut gimbal kembali digelar dalam rangkaian Dieng Culture Festival (DCF) ke-15 tahun 2025, Sabtu-Minggu 23-24 Agustus 2025. Kali ini, sebanyak delapan anak dari berbagai daerah di Jawa mengikuti prosesi sakral tersebut.


Uniknya, setiap anak memiliki permintaan berbeda, sebelum rambut gimbal mereka dicukur. Permintaan ini bukan sekadar hadiah, namun menjadi bagian dari keyakinan adat yang menyertai prosesi ruwatan.


Menurut kepercayaan masyarakat Dieng, keinginan sang anak harus dituruti. Sehingga rambut gimbal bisa dicukur dengan lancar dan tidak tumbuh lagi.


Misalnya, Adinda Wijayanti Putri (14) asal Depok meminta dicukur oleh dua tokoh adat, yakni Mbah Sumarsono dan Mbah Sumanto. Atau yang dikenal sebagai Wak Iyeng.


Permintaan ini langsung dikabulkan panitia DCF. Sementara itu, Aisyah Rahmadani (8) dari Desa Randegan, Kecamatan Sigaluh meminta sepeda lipat biru dan baju kembar.


Sang ibu, Warni, menjelaskan Aisyah adalah anak kembar, sehingga segala kebutuhannya pun selalu berpasangan. Permintaan lain datang dari Adinda Nesya Salsabila (6), asal Sojokerto, Wonosobo.


Dia minta dibelikan handphone baru dan menggelar pertunjukan Lengger, salah satu kesenian khas Jawa Tengah. Tak kalah menarik, Aisyah Alifah Syaefudin (6) asal Batang meminta dua gelang emas serta buku belajar komplit.


Sedangkan Yulviana (12) dari Garung, Wonosobo, menginginkan HP baru, buah rambutan, dan jambu air. Permintaan paling unik datang dari Shajfa Syaqila Sakennarava (4), balita asal Kalikajar, Wonosobo.


Balita tersebut meminta HP, sepatu roda, serta ingkung ayam dan bebek. Adapun M. Ghibran Althaf Dhaifullah (12) dari Mojotengah, Wonosobo, menginginkan sebuah tablet untuk belajar, sementara Faedza Ahmad Afghani (7) dari Kulonprogo meminta mobil remot.

Prosesi dimulai dengan kirab budaya, yang melibatkan tiga andong untuk mengarak anak-anak berambut gimbal. Arak-arajan dimulai dari rumah ketua adat menuju Kompleks Candi Arjuna, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur.


Tak hanya anak-anak dan keluarga, ratusan partisipan mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah turut serta dalam kirab budaya ini.


Ketua Pokdarwis Dieng Pandawa, Alif Faozi menyebut, bahwa kirab tahun ini terasa lebih semarak dibanding tahun sebelumnya.


"Tahun ini agak berbeda karena kirab diikuti ratusan partisipan dari berbagai daerah. Semuanya mengenakan busana adat, selaras dengan tema tahun ini, yaitu Back to The Culture," ujar Alif.


DCF 2025 sendiri digelar selama dua hari, dengan agenda hari pertama meliputi Dieng Bersih, Kongkow Budaya, dan Symphony Dieng yang ditutup dengan penerbangan lampion. Sedangkan puncak acara yakni ritual cukur rambut gimbal dilakukan di hari kedua.


Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana menyampaikan apresiasi terhadap keberlangsungan DCF yang kini menjadi salah satu event budaya unggulan tingkat nasional bahkan internasional.


"DCF tumbuh dari inisiatif masyarakat lokal, namun kini menjadi kebanggaan bersama. Semoga pariwisata Banjarnegara terus berkembang dengan prinsip sustainable tourism, yakni melestarikan alam, menjaga budaya, dan meningkatkan ekonomi warga," tegas Amalia.


Anak berambut gimbal di Dataran Tinggi Dieng diyakini memiliki keistimewaan secara spiritual. Rambut gimbal ini bukan berasal dari perlakuan fisik, melainkan tumbuh alami sejak bayi.


Masyarakat setempat percaya bahwa keinginan anak-anak ini harus dipenuhi sebelum rambut bisa dipotong. Jika tidak, mereka akan sakit dan rambut gimbal akan tumbuh kembali.

Media Sosial

Facebook
Twitter
Instagram
Youtube