BATANG — Aksi solidaritas ojek Online (Ojol) di DPRD Kabupaten Batang juga sempat diwarnai aksi ricuh dan sempat memacetkan Pantura.
Sebelumnya ricuh, massa menggelar aksi damai di depan Kantor Bupati Batang dan menyuarakan tuntutan.
Setelah itu, massa aksi melanjutkan konvoi menuju Gedung DPRD Batang dengan satu suara: menuntut keadilan atas tewasnya Affan Kurniawan, seorang driver ojek online yang meregang nyawa saat aksi di depan Gedung DPR RI.
Spanduk massa bertuliskan kalimat seperti “Ajalmu Ajalku Ajal Kita di Tangan Negara” dan “Dimiskinkan Negara, Dibunuh Polisi”.
Ketua DPRD Batang, Su’udi, turun tangan menemui massa, membuka ruang dialog terbuka demi meredakan amarah.
Meski dialog sempat mencairkan suasana, ketegangan tak bisa diredam lama.
Sebagian massa merasa tak puas dengan respons Ketua DPRD, membuat emosi kian memuncak.
Batu dan botol mulai dilempar ke arah gedung dewan, hingga gerbang utama roboh diterjang amarah.
Aksi yang semula damai berubah menjadi kericuhan besar, memaksa aparat kepolisian turun tangan lebih keras.
Polisi yang semula bertahan dengan pendekatan persuasif akhirnya menembakkan gas air mata untuk memukul mundur massa.
Kepanikan pecah, barisan mahasiswa dan buruh berlarian ke Jalan Pantura, bahkan menyebar ke gang-gang kecil demi menghindari kepulan gas.
Beberapa pelajar dan mahasiswa yang diduga menjadi provokator berhasil diamankan polisi.
Konfrotasi itu sempat membuat macet jalur Pantura karena lokasi gedung DPRD Kabupaten Batang memang di pinggir jalan nasional itu.
Kapolres Batang, AKBP Edi Rahmat Mulyana, menegaskan bahwa pihaknya sudah mengedepankan langkah persuasif sebelum situasi meledak.
“Ketua DPRD sudah menemui dan menanggapi. Sebagian massa sebenarnya sudah kembali, namun ada pelajar yang mulai melempar batu,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa aparat sudah memberi peringatan, tetapi situasi tak terkendali sehingga harus dilakukan penetrasi dengan bantuan TNI Kodim 0736.
“Alhamdulillah, kondisi sudah aman dan masyarakat kembali tenang,” pungkasnya.
Meski malam itu kondisi berhasil dipulihkan, aksi lanjutan disebut-sebut masih mungkin terjadi jika tuntutan keadilan tidak segera dijawab pemerintah pusat.