BATANG — Lapas Kelas IIB Batang menggelar penanaman bibit pohon kelapa secara serentak sebagai bentuk dukungan nyata terhadap program ketahanan pangan nasional.
Program ini merupakan tindak lanjut dari arahan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Jendral Pol (Purn) Agus Andrianto yang menekankan pentingnya pemasyarakatan ikut berkontribusi menjaga ketahanan pangan.
Sebanyak 100 bibit pohon kelapa bantuan dari Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Batang telah diterima pihak Lapas untuk ditanam di lahan asimilasi.
Kepala Lapas Batang, Nurhamdan, mengungkapkan bahwa pihaknya menyiapkan lahan seluas 600 meter persegi yang tersebar di area Lapas untuk program ini.
“Bibit kelapa ini kami tanam di pinggiran lahan asimilasi, karena bagian tengah sudah produktif dengan tanaman palawija dan hasil pertanian lainnya,” ujar Nurhamdan dalam keterangan yang diterima Disway Jateng, Kamis 11 September 2025.
Menurutnya, pohon kelapa dipilih karena manfaatnya yang sangat luas dan bernilai ekonomi tinggi.
“Semua bagian dari pohon kelapa itu bermanfaat bagi kehidupan manusia, dari akar hingga daunnya, sehingga kami yakin penanaman ini investasi jangka panjang,” tegasnya.
Selain itu, penanaman pohon kelapa juga diharapkan mampu memperkuat kemandirian pangan warga binaan yang terlibat dalam program asimilasi pertanian.
Kegiatan ini bukan hanya sekadar penanaman, melainkan bentuk sinergi antara lembaga pemasyarakatan dan pemerintah daerah.
Kepala Dispaperta Batang, Sutadi Ronodipuro, menyambut baik langkah tersebut dan menegaskan bahwa program ini selaras dengan misi Dispaperta.
“Kami sangat mengapresiasi, karena ini sejalan dengan program kerja kami untuk mendukung ketahanan pangan, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga daerah,” ungkap Sutadi.
Ia menambahkan, dengan adanya penanaman serentak pohon kelapa di berbagai lapas, termasuk Nusakambangan, maka Batang turut menjadi bagian dari gerakan besar ketahanan pangan Indonesia.
“Harapan kami, pohon kelapa yang ditanam hari ini bisa menjadi sumber ekonomi dan pangan bagi masyarakat di masa depan, sekaligus memperkuat kemandirian daerah,” katanya.
Program penanaman ini juga menjadi simbol bahwa Lapas bukan sekadar tempat pembinaan narapidana, melainkan wadah nyata untuk mendukung agenda nasional.
Dengan keterlibatan narapidana dalam proses bercocok tanam, mereka mendapatkan keterampilan baru sekaligus memberikan kontribusi positif bagi lingkungan.
Lapas Batang pun berharap agar program ini terus berkelanjutan dan menjadi contoh bagi lapas lainnya dalam mengembangkan ketahanan pangan berbasis pertanian.
Ketika pohon kelapa mulai tumbuh subur di area Lapas, bukan hanya lingkungan yang hijau, tetapi juga harapan untuk kemandirian pangan semakin nyata.