BATANG — Malam itu menjadi malam terpanjang bagi Roni (17), bukan nama sebenarnya. Darah segar membasahi pahanya, dan bayang-bayang jeruji besi mulai mengintai di balik pintu darurat RSUD Kalisari Batang. Pelajar kelas XII itu terkapar usai duel maut antargeng, Senin (23/6/2025) malam.
"Saya kira cuma iseng. Ternyata jadi titik balik hidup," lirih Roni, mengenang malam medio 2024 yang mengubah jalan hidupnya secara drastis.
Roni bukanlah preman. Ia hanyalah seorang pelajar yang terjebak euforia sesaat dan ajakan alumni yang ia hormati. Awalnya, niatnya hanya "nyore" atau berkumpul biasa. Namun, petang itu mendadak berubah menjadi mimpi buruk.
"Awalnya kumpul biasa. Terus ada tantang-tantangan lewat IG (Instagram). Senjata sudah disiapin. Saya sempat mau pulang, tapi akhirnya ikut juga," tuturnya polos.
Kegiatan menjelang tawuran, yang mereka sebut "ribut", hanya diisi dengan bermain ponsel. Roni mengaku, tidak ada tujuan jelas dari saling tantang antarkelompok atau geng tersebut. "Cuma biar kelihatan berani di mata teman-teman saja. Pokoknya cuma nekat saja, tidak mikir apa-apa. Kalau mau ninggal juga tidak enak," ujarnya.
Malam itu, Roni terpilih menjadi petarung dalam duel tiga lawan tiga. Sebuah duel jalanan yang melibatkan senjata tajam. Roni kalah. Ia kena bacok. Namun, bukan luka fisik yang paling membekas. Yang benar-benar mengoyak hatinya adalah rasa takut luar biasa saat akhirnya polisi meringkusnya.
"Rasa takut dan penyesalan baru muncul waktu lihat polisi. Gak pernah kebayang ditangkap," ungkapnya.
Saat menjalani proses di Polres Batang, perasaannya campur aduk. Di satu sisi ia takut dan menyesal, namun di sisi lain ia merasa pasrah karena sudah terlanjur tertangkap. "Pas proses itu ada Pak Polisi yang tegas, ada yang baik. Tapi kata-kata mereka ada yang mengena dan membuat saya sadar," kenangnya.
Brian, teman Roni yang memboncengnya ke lokasi, turut menjadi saksi. "Saya gak ikut tarung, tapi ikut pembinaan. Penyesalan itu datang telat, tapi benar-benar ngena," katanya.
Menurut Budi Santoso, kuasa hukum para remaja ini, banyak di antara mereka sebenarnya adalah anak-anak baik. "Bukan semua pelaku itu anggota geng. Banyak yang cuma terbawa tekanan alumni. Ada yang takut. Ada yang gak enak nolak," kata Budi.
Ia mengungkapkan, hanya tiga dari belasan pelaku yang benar-benar punya "mental preman", yakni ketua geng, admin media sosial, dan satu orang lainnya. "Cuma buat eksistensi saja," tambahnya. Selebihnya? Anak-anak polos yang terbawa arus pergaulan.
Fenomena gangster pelajar di Kabupaten Batang bukan hanya cerita satu atau dua anak. Data Polres Batang mencatat sembilan laporan kasus gangster sejak 2024, dengan 40 orang tersangka. Sebanyak 60 anak juga telah menjalani pembinaan.
"Tantangannya besar. Tapi kami tidak berhenti. Ini soal masa depan anak-anak," ujar AKBP Edi Rahmat Mulyana, Kapolres Batang.
Beberapa kasus bahkan sempat mengguncang publik. Pada 13 Januari 2024, tawuran besar antara "Tamtama 54" dan "All Star Batang" berhasil digagalkan dini hari. Sejumlah senjata tajam berhasil diamankan. Lalu, pada 10 Agustus 2024, seorang sekuriti muda bernama Hamzah tewas di Subah dalam duel maut antargeng via Instagram. Kemudian, Mei 2025, tiga kasus beruntun mengguncang Batang, mulai dari duel antarpelajar SMP vs SMK, konvoi kelulusan bersenjata, hingga pengungkapan besar di Reban.
Tak hanya menindak, Polres Batang memilih jalan ganda: hukum dan hati. "Kami sadar, pendekatan humanis lebih dibutuhkan," kata Kapolres AKBP Edi Rahmat Mulyana.
Salah satu program yang dianggap berhasil adalah Police Go to School. Polisi masuk sekolah, berbicara langsung soal bahaya narkoba, tawuran, hingga tertib berlalu lintas.
"Tugas ini tidak bisa sendiri. Keluarga, sekolah, masyarakat harus bareng-bareng," tegas AKBP Edi.
Untuk mencegah kejadian serupa terulang, Polres Batang rutin menggelar patroli sebagai bentuk pelayanan pada masyarakat. AKBP Edi Rahmat Mulyana menegaskan bahwa semua upaya ini demi terus menjaga keamanan.
Hasilnya? Konsistensi pelaksanaan program, mulai dari pencegahan dengan patroli rutin, penangkapan, hingga pembinaan, membuat tawuran antargeng berkurang drastis. "Hal itu membuat kepercayaan masyarakat pada kami meningkat," tuturnya.
Hal ini diamini oleh Budi Santoso, kuasa hukum para remaja yang terlibat. "Iya sekarang sudah jarang, saya kira patroli dari Polres Batang yang tidak pernah putus itu paling efektif mencegah, tentu disertai penindakan masif kemarin-kemarin," ucapnya.
Pelajaran Hidup
Setelah sebulan di Lapas dan tiga bulan di BLK, Roni berubah.
“Kayak ditampar realitas. Saya malu. Merasa kekanak-kanakan. Sekarang lebih pilih kerja atau ikut pelatihan,” katanya.
Brian pun tak mau mengulang. “Saya bilang ke teman-teman, jangan coba-coba. Gak ada untungnya, cuma nyesel,” tegasnya.
Upaya Polres Batang menunjukkan, memutus mata rantai geng bukan sekadar menangkap, tapi menyelamatkan.
Menggandeng pemerintah, sekolah, orang tua, dan lembaga hukum, mereka menyusun sistem yang bukan hanya menindak tapi menyembuhkan.
Mereka yang dulu membawa celurit, kini menggenggam buku pelatihan dan alat kerja.
“Kalau dulu saya cuma pengen dianggap berani. Sekarang saya pengen punya hidup yang berarti,” tutup Roni, yang sekarang bekerja sebagai kurir paket.